Showing posts with label Momen. Show all posts
Showing posts with label Momen. Show all posts

Monday, August 3, 2009

A day in a life


Malam itu di sebuah punggungannya gunung Tikukur, Tjiwidej, demikian tulisan di peta AMS (US Army Map Service) tahun 40an yg diperbaharui tahun 63, pohon-pohon kayu di sekitar kami. Pepohonan itu antara menyerap dan membiarkan asap, seperti kata buku IPA soal fotosintesis, yang kadang-kadang tipis dan kadang tebal memedihkan, dari unggun api kami yang selalu kami jaga nyalanya agar konstan, setidaknya sampai kantuk masih dapat kami kalahkan.
Roll yang dihasilkan oleh perpaduan sela-sela pepohonan,asap, dan api yang menerangi juga sekitar tenda kami belum dapat kami abadikan dalam kanvas elektrik maupun seluloid. Semua cuma kami rekam dalam ingatan. Jalan-jalan dan daun-daun hutan yg setengah basah, rawa-rawa yang tidak pernah benar2 kering, dan kawan-kawan yang seperjalanan.
Obrolan di seputar api unggun lebih soal dunia maya dan dunia nyata dalam perspektif mahasiswa ikatan dinas yang sudah DO atau baru terancam DO, dua angkatan yaitu kakak2 dan adik2 kelas, yang kemudian mereaksi antara masa bodoh atau mempersiapkan mental menemui dunia nyata, dunia kerja, dunia harapan orang tua atau dunia konsekuensi meski tidak benar-benar sebuah pilihan hitam putih.
Cuma lalu kuingat bahwa malam itu memonumental beberapa ingatan. Malam itu dulu juga pernah kutulis, yang sepertinya mampu mewakili sebuah sikap pilihan hidup, kenikmatan dari secangkir kopi. Dan ketika bibir kita pernah terslomot cangkir aluminium koboi yg kutemukan di pasar loak jatayu, setidaknya kita telah membuktikan bahwa alumunium adalah penghantar panas yang baik.
Kudefinisikan di hatiku, bahwa kenikmatan hiduplah ketika kita masih dapat menyeruput secangkir kopi hitam yang pahit dan menghargainya sebagai sebuah anugerah luar biasa, dimanapun itu, di tengahnya rimba raya, diantara pepohonan & semak, di pinggirnya sungai yg kita arungi, di sebuah tempat bermalam di pantai sepi yang sumuk, dan lalu otak memodifikasi memakluminya ketika di tengah ramainya pasar di singapore, di sebuah cafe di pattaya, dan barangkali suatu saat di jalanan birmingham atau dover yang aku ingin tongkrongi.
Cukup kopi saja yang pahit, sedangkan hidup biarlah dia terus manis meski dengan berbagai pergulatannya.
Sayup2 terdengar dari radio mono yg kita gantung di tiang tenda, one day in your live-nya michael jackson. Sebuah lagu yg kala itu sama mendiamkan mulut2 kita, lagu yang sebelumnya cukup akrab di telinga kala itu tanpa tahu penyanyinya (aku baru tahu penyanyinya siapa dr isnanto besar). Mulut2 kita sama2 terkunci, barangkali krn saat itu pikiran kita terbang ke angkasa kita masing2 melalui masa2 yang lewat & masa depan yang misteri. Lalu, situasi resonansi antara bau kulit kayu yg terbakar, aroma daun2 basah, titik2 bara yang terbawa angin, dingin udara gunung, dan sayup sayup suara radio mono pun menyenangkan telinga2 kita.
Sekian tahun kemudian dalam kepenatan kerja sebagai orang gajian yang belum dapat memerdekakan diri dari disuruh-suruh, kutatap layar laptopku, lagu one day in your life-nya MJ yg jadi sering terdengar sejak kepergiannya, beberapa kali ku replay sampai bosan. Masih kupegang idealisme yg tidak berubah, idealisme secangkir kopi, dan mulutku terkunci, pikiran mengembara ke angkasa masa depan yang separo cita2 dan separonya adalah misteri, yang semuanya menghendaki ditempuh dengan keyakinan. Dan lalu, sayup-sayup suara sederhana dari radio mono malam itu seperti terdengar kembali untuk menenangkan.






Read More......

Friday, December 19, 2008

Kinthil

Beberapa bulan yang lalu saat kami menjelajahi sebagian dari pulau Bangka, kami dipinjamin mobil oleh rekan sejawat. Kami berlima, dengan rincian dua orang jawa Semarang, dua orang Jawa Pekalongan-Tegal dan sekitarnya, satu orang Minang Bukit Tinggi.
Di mobil cuma ada satu buah kaset buat hiburan, yang setelah disetel ternyata campur sarinya didi kempot. Bagi kami sebagian besar, lagu-lagunya didi kempot ini semacam pengobat kerinduan kami yang di tanah seberang kepada kampung halaman. Bagi kawan yang dari minang, meskipun nggak ngerti benar arti liriknya, terpaksa ikut ndengerin karena tidak ada pilihan lain. Perjelanan beberapa hari itu membuat kami makin hapal beberapa kosakata spontan seperti "Serr", "blung" dlsb.
Nah, oleh seorang kawan yang sering saya panggil Pak Chairil Anwar, -karena wajah dan aksesnnya yang mirip penyair tersebut dan selalu tampil murung-, tanpa setahuku rupanya kaset itu diminta dari si empunya mobil. Cerita soal kaset berhenti sampai di situ, sampai
Senin siang kemarin hari yang kemrungsung ketika karena sesuatu hal jam 10an siang saya dan kawan-kawan bertiga termasuk penyair, terpaksa bergerak ke kayu agung OKI. Lelah, capek, ngantuk krn baru jam 3 pagi nyampe dari kuala tungkal jambi terpaksa "dilawan" dengan nrimak-nrimakke tugas sebagai orang gajian, untuk memperhalus istilah "buruh" yg masih disuruh-suruh. Di mobil waktu kumanfaatkan buat antara tidur dan tiduran. Suara musik MP3 yg lirih menyanyikan balada-baladanya Mas Ebiet. Ada kalanya aku ingin pulang, tapi apakah bedanya pertemuan dan perpisahan, sama-sama nikmat, tinggal bagaimana kita menghayati, dibelahan jiwa yang mana, kita sembunyikan, rasa yang terluka, duka yang tersayat.
Tiba-tiba kawan penyair tadi yang selama perjalanan sering memaknai lagu-lagunya Ebiet, dengan subyektifitas yg kental tentunya, mengeluarkan kaset dari ransel laptopnya, satu kaset pertama tidak begitu menarik atau tidak inline dengan suasana kemrungsung siang itu, sehingga forum menuntut lagu diganti.
Kaset berikutnya memecah suasana, melagukan campur sarinya didi kempot yang jenaka.
Mendengar lagu-lagu itu, otot pipi lalu bersedia menarik ujung samping bibir buat tersungging ke atas, membuatku senyum-senyum, sejenak menyingkap korden-korden stressor.
Kemudian lalu coba kuarti-artikan dengan arti yang kira-kira dialog didi kempot (DK) yang tidak kempot itu dengan vokalis ceweknya (C):

DK :
Terkinthil-kinthil, Cintaku terkinthil-kinthil
Tresnaku karo kowe ra bakal tak cuwil-cuwil


Kenal kosakata kinthil buat menggambarkan anak/org A yang suka ikut kemanapun orang tua/org B pergi, "Bocah kok neng ngendi-ngendi nginthil wae/ngikut aja." Kalau cinta yg terkinthil-kinthil mungkin perasaan cinta yang kemana ngikut aja, mungkin. Cintaku kepadamu tidak akan kusobek kecil-kecil,krikiti. cuwil dgn tangan, krikiti dengan gigi.

C :
Yayayaya, Opo tenan mas mana buktinya
Aku aku tak mau, Jo ojo kowe mung ngerayu


Ya, apa bener begitu Mas? mana buktinya?
Aku nggak mau ah, jangan-jangan kamu cuma merayu saja.

DK :
Suwer dik, Tresnaku ora tak ecer, Tenan mung kowe sing cemanthel
Suwer dik, Tresnaku ora tak ecer, Nek ra pethuk rasane koyo wong teler


Suwer dik, mungkin I swear, sumpah dik, cintaku tidak aku ecer, retail. Ecer/eceran sebagai lawan kata paket, grosir, atau partai besar. Jadi cinta yg tidak diecer mungkin cinta yang glondongan ke satu arah, tanpa bercabang-cabang, mungkin. Tapi kalimat tidak diecer tidak terjelaskan oleh kalimat berikutnya, yang artinya : hanya kamu yang tergantung/cemanthel. Mungkin maksudnya menggantung di pikiran.

C :
Tresno mas kuwi ono neng dodo, Ora cukup mung disawang karo moto
Ojo koyo neng lagi mangan tebu mas, Entek legine trus kowe ninggal aku


Cinta itu adanya di dada, di hati mungkin kamsudnya. Tidak cukup hanya dilihat dengan mata saja. Maksudnya mungkin cinta itu harus lahir dan bathin, dibolak-balik boleh.
Jangan seperti makan tebu, yang dicucrup-cucrup dengan nggragas, dikunyah-kunyah, lalu setelah habis manisnya, entah apa yg dimaksud manis ini, kemudian kamu meninggalkan aku. Kalau di pepatah buku bahasa indonesia SD dulu, habis manis sepah dibuang. Mungkin begitu.


Belum habis lagu itu, waktu sudah menunjukkan tengah siang, perut sudah keroncongan. Kami mampir di sebuah tempat makan yang dibawahnya ada kolam ikan, lebih tepatnya rawa yang dibersihkan sehingga air menjadi dominan. Angin siang dari rawa-rawa sekitarnya meniupkan hawa segar. Siang itu pindang ikan baung, gorengan ikan seluang, sambel buah kueni, pete dan lalapan yang lain tersedia di meja. Segelas kopi kupilih buat menimpali pedasnya pindang. Makanan yang dihidangkan memang menyegarkan dan enak, entah apakah karena kami sudah kelaparan atau memang enak. Mungkin memang enak, bila melihat pengunjung yang makan siang itu memenuhi meja & kursi tersedia. Selain kami, mereka adalah aparat Pemda/Pemkab yang bicara keras-keras kepada teman-temannya, pakaian mereka siang itu warna hijau hansip. Mobil-mobil plat merah berjajar-jajar. Kata konon, mereka adalah abdi negara & abdi masyarakat.
Makan siang yang nikmat telah selesai, segera kami beranjak dari tempat itu menemui panggilan tugas. Kuda jepang meluncur kembali ke jalanan raya dan di telinga kembali terdengar lanjutan lagu yang sempat terpenggal

Terkinthil-kinthil, Cintaku terkinthil-kinthil
Tresnaku karo kowe ra bakal tak cuwil-cuwil

Ada tawa jenaka, tapi juga ada rindu di dalam dada, rindu kampung halaman dan masyarakatnya, juga kenangan masa lalu.





Read More......

Friday, December 5, 2008

tadi pagi

dalam waktu yang begitu terasa nyerpek
karena kemalasan yang sudah biasa untuk mengawali hari-hariku
ketika jam dinding komando yang seingatku biasa mati diam
pagi ini berdetak sinkron dengan jam dinding hadiah perkawinan kita
meski ada selisih dua menit, toh sama saja karena yg satunya dicepetin lima menit
kita sempat ngobrol panjang, soal sebuah cita-cita
pagi ini aku bahagia sekali, mendengar itu semua darimu
sesekali kusampaikan pendapat2ku, yang pasti belum tentu benar
soal bagusnya seperti apa sekolah itu, bukan soal bangunannya
soal anak-anak petani dan nelayan, soal sikap sekolah, sikap gubernur dan walikota
yang tentu masih sibuk dalam hari-hari awal masa baktinya
tenang, waktu masih panjang, dan seorang kawan tidak akan lupa kawannya
masih banyak yang dapat dikerjakan, dengan kamera poket dan pena
juga fotomedia edisi anak indonesia 95, yang kita jaga biar tidak lusuh itu
sayangku, aku tahu waktumu tidak banyak dalam sehari buat itu
karena sebentar-sebentar banyak yang meminta perhatian, atau menarik-narik rambutmu, atau marah-marah karena minta dibuatin susu
tapi pagi ini aku bahagia, ada waktumu buat hal itu
bukan sesuatu yang instan, tapi cuma perlu kesabaran, dan tentu nasib baik yang selalu kita minta
waktu masih panjang, dengan izin Tuhan, banyak yang dapat kita kerjakan
sayang, misi yang seperti ini memerlukan endurance dan konsistensi
dan itu semua digerakkan juga oleh alam bawah sadar
bukankan salah satu kekuatan kita sudah diuji lebih dari 8 tahun?
waktu sudah makin mendesak saja, meski aku sudah memutuskan membolos SKJ, untuk perbincangan dan percumbuan mesra kita
tapi karena si kakak juga, hari ini tumben minta buru-buru berangkat
teh manis hangat dan dua kerat pisang goreng kunikmati tanda kasih sayangmu
aku akan sedikit ngebut mengkompensasi keasyikan kita, aku sayang kamu, waktu masih panjang, dengan izin Tuhan, banyak yang dapat kita kerjakan




Read More......

Saturday, November 15, 2008

prapatan, living on the edge

Sekolah anak ini adalah sekolah nasional, yg belum juga terpecahkan teka-teki artinya bagiku, atau masih malu nanya2 apa artinya. Apa karena bahasa pengantarnya pake bahasa inggris dan juga diajarkan Mandarin, lalu sekolah itu disebut national school? Bukankah yg tepat international school? Atau artinya sekolah negri? Tapi mengapa baju seragamnya yg putih merah hanya dipakai di hari tertentu yg cuma sehari sepertinya, berbeda dengan ingatanku saat sekolah di SD negeri pendrikan lebih dari 2dua dasawarsa yg lewat.
Bagi yang datang dari 'suburban' seperti saya, akan gumun dengan sekolah yg modern & terkesan mutachir seperti itu, asli. Guru-gurunya ramah atau minimal selalu memasang mimik yang ramah, dan kalau 17an selalu rame dengan lomba-lomba buat siswa & orang tuanya. Di sekolah itu juga disediakan jasa psikolog, terutama untuk membantu masalah perkembangan psikis anak, meski tidak menutup kemungkianan psikis orang tuanya. Di sekolah itu ada tukang parkir dan satpam yg disamping memantau mobil juga memantau para penjemput, dan mereka hapal orang-orangnya. Ruang kelas ber AC dan staff pembantu, dari satpam sampai cleaning service menggunakan pengantar bahasa inggris sesama mereka. sekali-sekali saya juga mencoba menyapa atau berkomunikasi dengan mereka memakai bahasa inggris, tapi ya jarang-jarang sekali, berhubung minim kosakata dan cuma hapal it is = itu. pendek kata, sekolah ini seperti digambarkan oleh andrea hirata dalam novelnya laskar pelangi, sebagai antagonis sekolah muhamadiyahnya,sekolah PN.
minggu lalu dengan tergesa-gesa saya mengambilkan laporan pendidikan berupa nilai siswa/rapot, berbeda dengan rapot kami waktu SD dulu di kampung pendrikan. Rapot tengah semester yang ini banyak pake bahasa inggris, dan ada keterangan tuntas atau tidak tuntas,dikaitkan dengan passing grade utk nilai2 mata pelajaran itu. Formatnya justru malah mengingatkan rapot TK dulu yg diisi kalimat2 : kemandirian, suka menangis, mengganggu teman, yg kemudian ada tanda x sana sini.
akhirnya terjebak juga aku dalam sebuah situasi yg disebut menimbang dan lalu memilih. ketika seorang anak kecil yg kadang2 tampil sebagai replikaku dihadapkan pada sebuah situasi, yang kami sebagai orang yg lebih dulu lahir dan lebih dulu ndolor menganggapnya berada pada sebuah titik warning. ketika nilai rapot mid semesternya (bukan catur wulan lagi) ada mata pelajaran yang alarm?
orang tua kita, guru-guru kita, lingkungan kita yang selalu normal & beradab mengkondisikan kita untuk mempunyai anggapan bahwa nilai rapor yang jeblok adalah tanda2 bencana buat masa depan, yang perlu disikapi dan diambil tindakan.
mencermati rapor, nilai anak itu lumayan, untuk semua mata pelajaran, selain matematika, science & english. nah, masalahnya kata orang itu yang pokok? (gambar avatar lagi mrenges).
Yang paling mencolok adalah metematika, dengan passing grade 65 dan hasil yang dia capai adalah 35, tidak tuntas. Untuk science & English masih deket2 tapi di bawah passing grade juga. beberapa kali anak ini mengikuti remedial untuk matapelajaran matematika ini. Dan kalau dicermati dengan membandingkan hasil belajarnya di rumah dan pekerjaan sekolahnya, masalah dia bukan di kemampuan otak buat berhitung, tapi lebih ke masalah konsentrasi. bila di rumah dia mudah tergoda adiknya yang sedang main buat bergabung, kalau di sekolah dia gampang terpengaruh kawan-kawannya buat buru-buru keluar kelas.
aparat sekolah menganjurkannya buat ikut les, yang kalau di sekolah ini disebut club. mengingat masalah terberatnya, dia diikutkan math club & english club. rengekannya buat megikuti sportclub, minatnya, akhirnya kami kabulkan juga. sebaliknya rengekan darinya buat memohon-mohon & mencari alasan tidak ikut math club. saya mikir & berharap, hal-hal yg diminatinya dapat mengkompensasi kemalasannya untuk 'diperadabkan' di math club. Ya, karena bagi saya waktu kecil sampai SMA, les adalah penjara, kita di dalamnya cuma menunggu & berharap jarum jam berputar cepat untuk berakhirnya. Dan Ibu saya masih sering mengulang2, kalo aku dulu lebih memilih berangkat latihan kung fu di aula basket SMA loyola daripada ikut les bahasa inggris.
siang tadi terasa kembali sulit juga untuk membujuknya mengikuti mathclub, seperti yg sudah-sudah, akhirnya kukeluarkan juga "sabda motivasi rahasia seri 1" dari sekian puluh yg tidak pernah kuhitung tetapi sering muncul di saat tepat, "kak, besok2 lagi kalau nilai semester atau midnya bisa mencapai 70 aja (lebih sedikit dari passing grade yg 65), dia boleh tidak usah les lagi" dan sepertinya dengan berat hati dia mau dan mampu merasa bisa mencapai passing grade lebih sedikit itu.
mengapa memotivasi dengan "cuma" itu rupanya kembali ke persoalan saat ini yang direfleksikan ke masa lalu. saya mencoba mengaktualkan riwayat hidup saya saat masuk & sekolah di SMP, SMA dan mendaftar PT, Akademi, Sekolah Tinggi dll yang lebih sering lulus "sangat memuaskan" dengan predikat "lolos dari lubang jarum". masuk SMP sy melewati NEM minimal dgn nilai 40,67 (lolos minimal 40,61), masuk SMA jg dgn cukup lebih 1,n. mendaftar PT pun lolos dr lubang jarum ketika waktu ujian buat masuk STTTelkom, masuk Sekbang PLP curug & Sekbang Merpati, bersamaan. dan saya lolos dalam ketiga tahap ujina tersebut. Waktu kuliah pun, sy pernah terselamatkan dari DO oleh sebuah nilai A untuk siskom yang kontras dengan sekian banyak nilai C dan satu nilai D. keyakinan saya bahwa melewati sebuah kelas atau seleksi tidak harus terus menjadi yg terbaik, asalkan tidak kena garukan, asalkan lulus, asal tidak DO, menjadi motivasi yg kuat. Dan akhir masa kuliah-pun lulus dari kampus dengan nilai IPK 2,53 sedikit lebih besar dati nilai ambang batas IPK, yaitu 2,5. hal-hal yang menyerempet-menyerampat resiko itu tanpa sadar ngin kutularkan untuk mengkompensasi ketidakminatannya terhadap sesuatu mata pelajaran. apakah benar atau salah? entahlah, toh saya tidak tahu rahasia Tuhan terhadap mahluk-mahluknya.
yang jelas tidak eksplisit kukatakan kepadanya, bahwa apapun jalan hidupnya saat dewasa kelak, dia harus sadar & aku akan menghormatinya. kelak dia akan dewasa memilih menjadi seorang yang dipandang sebagai kelas "cerdas, cerdik pandai, cendekia" yang "beradab" yang menyampaikan intelektualitasnya lewat nilai A dalam semua matakuliah atau bidang kesarjanaan, atau lewat sebuah karya tulisan apapun dengan bahasa dan deskripsi yg rumit & berselera tinggi. dia boleh juga menjadi dewasa dengan cukup "menjadi orang bodoh" dengan nilai C yg sdh dianggap anugrah, -menirukan deskripsi itu dari andrea hirata di satu halaman laskar pelanginya-, seperti pilihan atau juga kebetulan-kebetulan dari jalan hidup Bapaknya, untuk mengkompensasi segala jenis kegiatan, iseng, kenakalan, uthil, eksplorasi dan petualangan yang tidak pernah ada SKS-nya. dia boleh jadi seniman, dia boleh jadi peneliti, dia boleh jadi pengajar, dia boleh jadi wartawan, dia boleh jadi fotografer, dia boleh jadi tentara, boleh jadi pemain bola atau gerilyawan sekalipun. harapku dia harus "sukses" untuk itu, dengan (minimal) sedikit saja memegang idealisme, kejujuran, dan keberanian, untuk menempuh resiko-resiko dari petualangan menyingkap kabut misteri kehidupan & "permainan" Tuhan atas makhluk2nya, untuk dirinya, tanah air dan ilmu pengetahuan, dimana di sana ada pergulatan pikiran, cinta, roman, momen, harapan, atau penjelajahan itu sendiri.

kayu agung, 15 november 2008, ditulis di sebuah koordinat dan sebuah pagi yang pernah menjadi misteri. CO: S 03 23' 39.3" E 104 49' 53.5".



Read More......

Monday, November 10, 2008

drama sedih milik ibu


seorang ibu menangis sampai terduduk, ketika sebuah mobil caraka kurir berita angkatan darat amerika memasuki halaman luas rumah ibunda tersebut. seorang ibu, seorang wanita yang tanpa harus dibacakan isi beritanya-pun sudah cukup mengerti dan merasakan apa yang telah terjadi. ia telah kehilangan anak-anak laki-lakinya yang sangat dicintainya. sebuah berita duka tentang tiga ryan-nya dari dari empat ryan yang dimilikinya yang berangkat ke medan perang di Normandia, Prancis. tiga buah berita duka yang diterimanya dalam hari yang sama.
cerita utama perang tentu soal heroisme yang menggelora dan pertarungan ideologi yang sangat global soal hitam putih, benar salah, atau jahat baik, yang kemudian menjadi headline di koran-koran atau media. sementara detail-detail fragmen-nya adalah kedukaan seorang ibu yang begitu mendalam terhadap anak-anak yang dicintanya, yang dibesarkannya sejak kecil mulai dari ditimang-timang, membelikannya mainan, menyekolahkannya sampai kemudian sejarah merenggut anak-anaknya. kalau kemudian ryan yang ke-empat yang bertarung dalam pertaruhan hidup dan mati di seputar koordinat Neuville-au-Plain, Manche, berhasil diselamatkan sebuah regu pencari yang dipipin oleh kapten miller, dan lantas datang juga kemudian sebuah ucapan terima kasih dari presiden-nya, tidak akan menghilangkan sedihnya kehilangan tiga putra tercinta.
fragmen pertarungan ideologi yang berujung pertempuran baik skala besar maupun terbatas selalu menghadirkan kedukaan dari orang-orang yang mencintai pelaku-pelakunya. bahwasanya suatu saat ideologi yang dipercaya paling benar-pun akan menemui egoisme-nya, disamping relativitas kebenaran dari ideologi itu sendiri. dia akan membuta kepada segala sesuatu selain kepentingannya. dan hal ini rupanya akan terus terjadi sepanjang sejarah. semua pihak yang bertarung mengalaminya dan soal siapa sutradara-nya saja yang kemudian menggerakkan pena menulis skenario atau memoar. bukankah sejarah adalah milik dari para pemenang?
beberapa jam lalu baca berita, nonton TV, soal eksekusi mati 3 orang anak manusia yang meyakini secara mutlak kebenaran-kebenaran prinsip2nya yang bagi mereka sebagian diilhami oleh penindasan-penindasan yang tiada pernah menemui pembelaan, yang kemudian dipercaya sebagai sebab membenarkan & menggerakkan teror. tetapi yang lebih pasti dari soal pertentangan kebenaran itu, dibaliknya adalah soal dua orang ibunda yang kehilangan anak-anaknya. ibu hj embay badriyah kehilangan putranya abdul azis alias imam samudra dan ibu tariyem yang kehilangan mukhlas & amrozy.
dan hari itu, nyatalah sekali kasih seorang wanita yang disebut ibu itu, kasih dan cinta yang begitu lengkap, ia yang melahirkan anak-anaknya dengan rasa sakit dan taruhan nyawa, ia yang membesarkan anak-anaknya dengan kecukupan yang diada-adakan, ia yang mengurus anak-anaknya itu ketika berak di celana di waktu kecil, ia juga yang mengantarkan anaknya ke mendaftar ke sekolah ketika TK atau SD kelas satu, dan kemudian ia juga yang mengantarkan anak-anaknya itu ke kuburnya.
mereka berkumpul dengan alasan-alasan yang dapat dimengerti, dan mereka kemudian berpisah oleh sesuatu yang belum tentu dimengerti. kasih sayang yang tidak mengenal batas-batas ideologi dan tidak mengenal pertarungan 'maksud baik'.

....
One of the more famous incidents occurrred during the Civil War when President Lincoln wrote a letter to a Mrs. Bixby, who had lost several sons in the conflict. He states :

I have been shown in the files of the War Department a statement of the Adjutant General of Massachusetts, that you are the mother of five sons who have died gloriously on the field of battle.
I feel how weak and fruitless must be any words of mine which should attempt to beguile you from the grief of a loss so overwhelming. But I cannot refrain from tendering to you the consolation that may be found in the thanks of the Republic they died to save.

I pray that our Heavenly Father may assuage the anguish of your bereavement, and leave you only the cherished memory of the loved and lost, and the solemn pride that must be yours, to have laid so costly a sacrifice upon the altar of Freedom.

Yours, very sincerely and respectfully,

Abraham Lincoln




Read More......

Saturday, November 8, 2008

tentang 80 tahun sumpah pemuda, yg tercecer dari gladian panji geografi 2008

jangan bertanya apa yaaang telah, negara berikan kepadamu...
tetapi tanyalah apa yaaang, tlah kau berikan pada negaramu...


lagu sumbang dengan tempo mars membubung di udara yang dingin. matahari pagi itu tidak sanggup menembus awan yang berlapis seperti pertahanan catenacio sepakbola italia. cuaca yg sangat cocok untuk meneruskan tidur malam yg tidak sungguh-sungguh nyenyak. angin tidak benar-benar bertiup, pohon-pohon di sekitar lapangan rumput persegi yang cukup lebar itu tidak banyak bergerak. sesekali saja daun-daun cemara yg sedikit mengering berguguran ke pinggiran lapangan yang menghadap ke barak-barak kecil. pohon-pohon cemara yang itu juga konon sudah tegak berdiri di tempat itu sejak tahun-tahun awal abad ini, ketika belanda menjadikannya sebagai tempat berlatih polisi-polisinya, mengamankan koloni-koloni dan aset-asetnya dari resiko-resiko pergolakan sosial inlander. sekarang ini tempat tersebut menjadi tempat latihan dasar salah satu tentara elit di negeri ini, kopassus, yang dipuja seperti dewa dengan simbol-simbol keberanian dan kehandalannya dalam setiap penugasan membela tanah air dari rongrongan 'instabilitas' sekaligus dicaci maki sebagai biang kerok berbagai masalah hak asasi manusia di negeri ini yang dalam suatu kurun penuh kekerasan. relativitas yang sebenarnya.
di puncak gundukan yg tertinggi di hadapan lapangan terdapat sebuah bangunan kecil berarsitektur londo. aku yang tidak paham dunia arsitektur, -yang cuma dapat menerangkan minat soal bangunan dengan kalimat pengin punya rumah kayu atau setengah kayu yang kecil saja dengan tanah halaman kebun dan padang rumput yang luas-, hanya dapat menebaknya dari bentuk bangunan yg tidak biasa itu. kalau kita dapat mengerahkan gingkang kita untuk mengapung di udara seperti avatar dan dapat melihat bangunan tersebut dari atas, maka kita akan melihat bentuk bujur sangkar, dengan penanda utama di sebuah sisinya meruncing sebuah tungku penghangat ruangan kalau di bawahnya dibakar kayu-kayu. memang beberapa wajah sudah berubah seiring waktu dan pertimbangan-pertimbangan kepraktisan, tapi seperti replika perahu pinisi, dia masih menyimpan energi sejarah.
bangunan itu baru dapat detail kami amati pada kesempatan itu, memang, sering terjadi di dalam hidup kita, hal-hal yang kita temui dekat di sekitar kita tidak kita sadari bentuk, fungsi, asal usul, apalagi sejarah yang melingkupinya. sampai kita diberikan kesempatan untuk dapat mengamatinya kemudian.
bangunan itu sepertinya dulu pernah jadi tempat nongkrongnya gubernur jenderal atau londo-londo yg lain barangkali mengamati latihan perang-perangan, atau entah untuk menikmati bentang alam pemandangan danau buatan yang indah yang dikelilingi gunung-gunung, sambil menghirup kopi terbaik di dunia.
disebelah-sebelahnya adalah barak-barak tadi yang menghadap lurus lapangan rumput, yang mungkin dulu disetting sbg barak-barak pengawal.
lagu-lagu sumbang belum berhenti, beberapa kesempatan diulang-ulang. lagu-lagu itu, yang sepertinya akan lucu dibawa ke mikropon tempat-tempat hiburan karaoke, dipercaya dapat menghidupkan suasana, semangat, kesadaran cinta tanah air, daya juang dari ratusan muda mudi yang "tersesat".

situlembang tak akan kulupaa, tempat kita berlatih bersamaa
tiap hari selalu ditempa, tuk menjadi panji muuda jayaa
itulah harapan bangsa dan negaraaa...


ya, seminggu itu enam ratus delapan puluh sekian muda mudi, dengan 600 muda dan delapan puluh sekian mudi dari hampir semua propinsi yang ada di tanah air ini, mereka mengalami sebuah pengalaman yang bisa jadi sekali seumur hidup. mereka memiliki berbagai latar belakang pendidikan, dari SLTA, kuliah, atau sudah tidak sekolah lagi, untuk memperhalus drop out. berbagai latar belakang suku, budaya, agama, adat, makanan kesukaan, lagu kegemaran atau buku-buku bacaan. dengan berbagai latar belakang minat atau akademis juga, terutama untuk perhimpunan kampus/sekolah, ada yang sekedar mencari kenalan, pengin dapat ilmu baru, keingin tahuan, pengin reuni dengan kawannya yg pernah ketemu dalam acara lain sebelumnya, atau sekedar mengikuti petunjuk gerbang misteri sebuah acara atau pertemuan, yang tidak pernah benar-benar bisa kita tebak deviasi antara harapan dan kenyataan. seminggu itu pemuda pemudi harapan bangsa ini melaksanakan pelatihan mitigasi bencana, how to minimize the effect of disaster, bencana dalam skala kecil maupun besar, dengan mengikuti latihan berbagai matra: rescue air, rescue tebing dan rescue gununghutan. setiap orang dapat memilih matra yang diminatinya.
kalangan panitia tidak kalah seru dan kompleksnya. panitia dari berbagai latar belakang, ada sipil ada militer, ada juga TKD, tentara karepe dhewe. istilah itu biasa kami gunakan buat menamai orang-orang yang lebih sering bergaya militeristik dibandingkan tentara sebenarnya, kalau dipikir-pikir malah tentara yang asli saja kalah persis. dan kadang-kadang saya merasa termasuk golongan yang itu. bacaan semasa kecil tentang Indian Amerika, Old Shaterhand & Winnetou, kisah petualangan-petualangan di hutan seperti Jungle James, Jhonny Quest atau kisah-kisah perang pasifik, buku tulisan Bapak Pandu Dunia, rupanya mempengaruhi saya untuk sering mendefinisikan diri sebagai penjelajah hutan, gerilyawan atau milisi-milisi inggris dalam sebuah tahap French and Indian War, atau para pathfinder di dalam perang sipil Amerika, dan juga para pencari jejak suku-suku Dayak. mendefinisikan diri dalam hal berpakaian saat "in action" atau dalam pola pikir, dan mungkin pola tindak. naluri yang kemudian muncul tanpa disadari dan tidak berusaha juga untuk dicegah. secara kasat mata, orang-orang seperti ini dapat ditebak dari style-nya saat tampil maksimal di medan operasi, bisa style Indian, bisa style loreng-loreng, bisa juga style petani atau vietcong. pendek kata, gunung hutan adalah aktualisasinya, seperti seorang penyanyi rock macam Mick Jaggernya dan Rolling Stonenya yang tampil ekspresif di panggung pertunjukan yang menjadi aktualisasinya. tampil maksimal, kata om bejat. karena aktualisasi, energi yg muncul jangan ditanya.
ide pertama kegiatan ini muncul dari petinggi korps baret merah, untuk membuat acara yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun sumpah pemuda. bagi mereka dan rupanya juga bagi kami, hal itu penting. bukan masalah peringatan atau pembuatan monumennya, tapi soal sedikit hal yang dapat dilakukan pemuda pemudi kita dalam 100 tahun hari jadi-nya, untuk tanah air tercinta. dengan berusaha mensinkronkan persepsi-persepsi, soal penanganan bencana. ya, dan penanganan bencana cuma satu parameter dari ribuan atau jutaan hal yang terkait dengan mesin besar tanah air ini. Wanadri, perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung dan beberapa anggota perhimpunan sejenis lain sperti KSR ITTelkom, AMP Unpad dan lain-lain mengoperasionalkan konsep-konsep yang disusun. semua komponen adalah penting di sini. konsep dioperasionalkan dan suatu saat lain operasional dikonsepkan.
hari pertama, pembukaan, menarik buat diamati, pencitraan para muda mudi penggiat KAT/kegiatan di alam terbuka atau pecinta alam sebagai manusia yang bebas terlihat dari style cara berpakaian, atribut, warna-warni pakaian, pernak-pernik aksesoris yang dipakai di badan atau pakaian, sampai potongan rambut.
saat gladi bersih upacara pembukaan dilakukan, butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar menata barisan. apel atau upacara adalah budaya militer yang tertib dan teratur, sedangkan para peserta adalah orang-orang bebas yg ekspresif, yang mungkin sebagian dari mereka sudah lama tidak pernah mencicipi budaya tersebut. Sersan satu Hasim, kameramen yang berdiri disebelahku cuma senyam-senyum menyaksikan kontradiksi-kontradiksi yg terjadi. ia tertawa ketika melihat para peserta tertawa-tawa melihat kawannya yang menjadi komandan upacara melakukan kesalahan, yang memang wajar ditertawakan. "Kalo kita yg di militer upacara adalah hal sakral, melihat peserta yg bisa tertawa-tawa atau tepuk-tepuk tangan, kita melihatnya aneh, gimanaa gitu," kata sersan satu Hasim. Meski tidak sempat terdengar lontaran gerutu peserta yang merasa "terperangkap" di sebuah peradaban berbeda, kami dapat melihat raut muka sebagian peserta yang menahan gerutu, protes, uneg-uneg karena "diteraturkan", meski sebagian lagi nampak enjoy-enjoy atau masa bodoh saja mengikuti alur skenario. dua budaya yang berbenturan.tapi lambat laun dengan atau tanpa keterpaksaan, semua dapat menempatkan diri di posisi-nya masing2. standard-standard pergerakan seperti "harus memakai sepatu", dapat dipatuhi para peserta dengan berbagai macam cara.
tak apalah, sebuah pelajaran didapatkan, menghormati aturan pihak yang dituanrumahkan. dan hal ini juga sudah diantisipasi tuan rumah juga, militer punya caranya sendiri. penyamaan persepsi, dan itu dapat dimulai dengan meninggalkan ciri2 individual atau kelompok perhimpunan asal, dimulai dari menyeragamkan pakaian atas & topi peserta. kalau kita hubungkan dengan kenyataan pahit yang bergelombang melanda tanah air kita tercinta, -yang ternyata tidak berbanding lurus dengan "kemajuan signifikan" demokrasi indonesia yang selalu kita banggakan dan menghiasi headline koran lewat hiruk pikuk pilkada menggeser topik-topik ekonomi yang selalu buram-, ada sebuah situasi dimana persepsi dan pola pikir perlu untuk disamakan dan ada juga situasi dimana persepsi dan pola pikir dapat dibiarkan bebas. kita saja yang tersesat mempertentangkan secara menghabiskan energi bahwa suatu perlu diatur atau tidak, dan lalu pada aplikasinya justru kita tidak pernah mengatur dan menghasilkan apapun, meskipun tidak berarti dibelakang topi atau baju yang sama akan ada otak yang benar-benar sama.
upacara pembukaan mulus tidak terjadi kejadian-kejadian aneh, konyol, lucu atau memalukan. sepertinya everything allright, and everyone happy, (who knows?).
termasuk saya, karena kebetulan saya termasuk yang mensakralkan sebuah upacara seperti itu. dan tanpa menaruh di depan segala persepsi negatif soal militer di tanah air atau misi2 penggalangan, kita layak senang dengan kegiatan seperti ini. dan yang jelas mereka beruntung memiliki kesempatan menjadi sebagian manusia berempati terhadap manusia lain yang terdera bencana, meski kesempatan itu belum tentu akan diambilnya kelak. dengan empati itu mestinya dia dapat menikmati keindahan sebuah kesederhanaan, dari hal-hal biasa yang ada di dekat kita, mengamati Indonesia & masyarakatnya dari dekat, sebagai sebuah anugrah Tuhan yang luar biasa.

(ngedit dari 100th ke 80th)
bersambung ya'e

Read More......

Monday, October 6, 2008

THR

Hari raya kemarin seperti juga tahun-tahun sebelumnya.
Diwarnai aktifitas nukar uang ke pecahan lima ribuan, sampai lima puluh ribuan. Dengan berbagai istilah mulai angpau, sangu, buat beli es, buat beli permen, buat beli bensin, buat jajan, (meski tidak tidak dapat dilarang juga bila buat beli mercon atau kembang api), dan jarang juga kita bilang buat ditabung. Dari mulai tamu2anak2 kecil keponakan, famili, dan seterusnya sesuai "kelompok umur" & jauh dekatnya di sisi jarak dan kedekatan emosional, semacam sering tidaknya kontak.
Sebagian anak2 kecil tersebut rupanya juga mengenal istilah THR yg tentu mereka belum tentu tahu singkatan dan artinya adalah Tunjangan Hari Raya, yang biasa ditemukan di dunia kerja atau industrial, berupa tambahan pendapatan/insentif untuk pegawai negeri atau swasta, karyawan perusahaan, buruh pabrik dan lain sebagainya.
Tidak terkecuali Niven. Sejak keinginannya minta telor naga atau telor dino tempo hari dapat kami persuasi dengan argumen2, -"coba gimana kalo belinya pake uang kakak sendiri, nanti lebaran kakak dapet dari wak Doni sekian, dari nenek sekian, nanti kalo kurang, ditambahin dr papa atau mama."- Sejak itu dia selalu bersemangat nagih "THR" ke uwaknya & ke neneknya.
Sampai kemudian "pesta" lebaran mulai usai dan famili2/saudara2 kembali ke habitat masing2. Dan Niven mulai menghitung total THR-nya. 65 ribu rupiah, setelah 13 ribu sebelumnya terkurangi buat beli mainan pistol. Kalau telor naga itu 99 ribu, maka masih ada kekurangan 34 ribu, kalau Batman yg pakai sayap pasangan kurang 55 ribu, lalu kalau jenis yang lebih bagus masih kurang 135 ribu.
Dalam momen ini kami ingin menguji-nya, sebagai seorang anak yang mulai tumbuh agak gedhe, tepat 7 tahun pada 6 Oktober ini yang memang tidak pernah dirayakan, kelas 2 SD dan sebentar lagi bisa jadi masanya tiba, dimana ber-akrab2 dengan teman-temannya lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan ber-akrab2 dengan keluarganya.
Kurang manusiawi juga kalo kami tidak memberikan "gambaran2 jalan keluarnya", beberapa diantaranya :
1. Ngapalin kurang2an bilangan <= 10, dgn cepat, tanpa mikir dulu, gak pake: nganu, berapa ya? apa? bila sdh cepat dapet 10 rebu
2. Mijitin papa, 15 menit 5 rebu
3. Ngerjakan soal kurang2an gunggung sungsun, 5 soal ringan, semua 10 ribu lagi
4. Mau sering dapet tambahan, sering2lah menawarkan diri mijitin papa

Kemudian juga, untuk "memperbuas" keterlibatan si Rakhekniven ini sebagai obyek yg diuji, terpaksa buka2 lembaran masa lalu. Cerita padanya soal kemiskinan saat kuliah dulu, krn kiriman jelas pasti kurang, ditambah keinginan yang sudah banyak buat nongkrong, ngopi, sekali-sekali beli rokok, akhirnya sempat nyuci mobil angkot-nya tetangga kos, buat ndapetin 1000 rupiah di tahun 95an, setara dengan sekali makan. Sebagai pendapatan lain-lain selain ngutang, yang beberapa diantaranya baru terbayar beberapa tahun kemudian.
Saya teringat tulisan seorang kawan saya :
Saya pikir penting untuk membentuk budaya, entah di organisasi atau di dalam keluarga sekalipun, dimana menciptakan kondisi sedemikian rupa orang-orang yang ada di dalamnya di bawah tekanan (agak). Berikan perlakuan pada sisi psikologisnya dengan memberikan sedikit rasa takut, agak cemas akan kekurangan dan kehilangan alias untuk menghindarkan mereka dari zona nyaman. Karena pada prinsipnya, setiap orang tidak enak dalam situasi demikian, sehingga ia akan berusaha untuk mencari cara untuk memperoleh keseimbangan yang baru.
Ya, pelan-pelan saya sadari juga, bahwa saya mulai "memperlakukan" orang lain dengan standard-standard saya. Dengan hal itu saya berharap, dia "menyepakati" sebuah konsep hidup, diantara berbagai konsep yang telah dan akan ada. Yaitu soal usaha atau perjuangan mencapai keinginan. Setidaknya hari ini, baru konsep itu yang dapat kami berikan dan tawarkan, memang semua ini tentu dipengaruhi bagaimana riwayat dulu mendapatkan pandangan hidup atau filosofi hidup yang kemudian menjadi panduan dalam menghadapi berbagai lika-liku sebagai manusia. Ditambah polesan dari self learning manusia dalam beradaptasi & belajar, trial & error, mengevaluasi rencana dan pencapaian, atau interaksi dengan lingkungan, buku, alam raya, manuasia-manusianya. Semua-nya mestinya selalu dinamis, benar salah tepat dan tidaknya, waktu juga nanti yang kelak memberikan beritanya.

Read More......

Thursday, September 25, 2008

Kelingan Pa'e

Sore beberapa saat lalu, belanja di sebuah toko londo.
Ngajak niven sama kukhri, lewatlah konter mainan.
Kukhri minta senapan mainan yg diisi batu batre.
Nanti bisa bunyi suara tembakan & lampu2nya nyala2.
Mainan yang sudah sering dibeli & tentu juga cepat bosan & rusak, anak-anak.
Niven beda lagi, minta telor naga atau telor dino, seperti iklan di tivi.
Memang belum pernah dibelikan yang seperti itu.
Kedua makhluk ini kami pesuasi, ini itu.
Reaksi keduanya juga berbeda2, ada marah2 atau kecewa,
dan lalu minta ganti yg lain atau minta beliin kapan2.
Bukan masalah harga tentunya.
Lebih soal tanda tanya, benarkah yg sudah kami lakukan?
Benarkah untuk selalu mewujudkan sebuah permintaan mereka "real time"? Seperti apa tolok ukur jarak antar atau masa pakai mainan "dianggap tepat"? Dipakai selama 1, 2, 3 hari atau seminggu atau? Bahasa terangnya, apakah tepat bila kita selalu belikan/turuti apa yang dia minta?
Harus seperti apakah pengaturan atau penjadwalan,
atau jenis prmintaan apa yg perlu/tidak dipenuhi?
Naluri orang tua tentu ingin selalu menyenangkan anaknya.
Saya inget, ketika suatu hari saya minta dibelikan robot2an.
Hampir tiap hari saya merengek terus, sampai mungkin Pa'e menyerah, dan saya diajak ke toko mainan, dan saya digiring untuk beli piring terbang, bukan robot2an. Entahlah, mungkin soal pertimbangan harga. Hari itu setidaknya terpuaskan, dapat mainan baru. Satu dua hari kemudian, ingatan robot muncul lagi,
rupanya memang tidak tergantikan piring terbang UFO.
Saya merengek kembali.
Saya inget sekali, sampai beberapa hari, setiap Pa'e pulang,
selalu saya tanyakan "janji" beliau buat beliin robot2an.
Beberapa hari kemudian, setelah penantian yang panjang,
saat Pa'e pulang kerja, sesuatu tercantol dilampu sen motor honda benly S110-nya, sebuah kantong kresek, berisi robot2an biru metalik datang.
Saya senang sekali.
Permintaan "serius" ini memaksanya memutar otak untuk mewujudkan keinginan anaknya.
Tapi beberapa waktu kemudian yg sangat singkat, salah satu tangan atau kakinya si robot patah.
Beberapa puluh tahun kemudian saya masih inget fragmen itu.
Ya, Pa'e yg "cuma" pegawai negeri "rendahan", sepertinya berjuang sekuat tenaga memenuhi permintaan saya, salah satu dari sekian permintaan anak2nya dan tuntutan hidup kala itu.
Mungkin juga Pa'e sempat kecewa atau sedih, ketika mainan baruku itu patah dalam waktu singkat, tidak sebanding dengan proses panjang perwujudannya dan perjuangan beratnya. Entahlah.
Dan hari ini masih saja kami bertanya-tanya, seperti apakah seharusnya. Apa resiko atau dampaknya kelak?
Dengan dendam kemiskinan masa lalu yang tanpa sadar mempengaruhiku,
dan kekagumanku yg cukup terlambat buat Pa'e.

vocabulary :
kelingan pa'e = inget bapak

Read More......

Wednesday, September 17, 2008

lagu itu

Take my hand for a while
(Buffy Sainte-Marie)

Take my hand for a while, explain it to me once again
Just for the sake of my broken heart
Look into my eyes and maybe I will understand
How love I counted on was never there

You see, I thought that you might love me
So you caught me, it seems off balance with a heart that’s full
Of love and pretty dreams that two should share

And so, I know but please before you go
Take my hand for a while, explain it to me once again
Just for the sake of my broken heart


http://www.youtube.com/watch?v=HNLYTY2G1sw







Read More......

kawan lama

Bantar Caringin, 12 September, 01.30

12 bertemu kembali
12 tahun lalu kami berada di tempat ini
kalau ada SD SMP SMA, maka di sini SO
sebut saja begitu, sekolah dasar olahraga arus deras (arung jeram)
beberapa kilometer di depan sana, Rajamandala, SDPT
sebut saja begitu, sekolah dasar panjat tebing
segelas kopi, beberapa kerat martabak telor & martabak manis
saur di dapurnya wak ude
sayur capcay
sayur lodeh tempe, terong & ikan asin
kami percaya,
pengembaraan di gunung dan hutan rimba,
jurang-jurang yang dalam, tebing-tebing terjal,
bergulat dengan jeram-jeram di sungai,
akan memberikan pengaruh kepada bentuk karakter seseorang,
mengapa anak-anak yang tinggal di rumah tidak merasakan hidup yg seperti ini?

disalin dari komunikator lethek yg setia, ditulis saat di desa pinggirnya Citarum




Read More......

Monday, September 15, 2008

Ngapel


Untuk kesekian kalinya dalam kunjungan kenegaraan ke Yogyakarta.
Masih dapat menyisihkan waktu buat ngapel.
Tengah malam tadi, menjelang back home ke negeri andalas ini.
Tidak ada yang istimewa saat ngapel semalem itu.
Semuanya setandar seperti masa-masa yg lewat.
"Cuma" kenikmatan segelas teh melati gula batu
dan beberapa kerat jadah bakar.
Sesekali terdengar jenggleng2 kereta api dari arah setasiun tugu.
Tanda perpindahan manusia ke negeri timur atau negeri barat.
Ngapel Pak Man & Lik Min malam itu, saksimata Yogyakarta.

Dan di sebelahku seorang pemuda ngamen.
Sebuah lagu cah enom yang meluncur cukup sering kudengar,
tapi tanpa tahu apa itu.
Ku-request lagu2nya Bang Iwan Fals atau Mas Ebiet.
Sayang tak banyak perbendaharan, Ebiet nihil, Iwan cuma ada dua.
Belum ada judul? Gak apal liriknya.
Senja tugu pancoran? Gak tahu yang mana.
Memang aneh, biasanya dua itulah pakem pengamen jalanan.
Ya, sudah, terserah mau nyanyi apa kami dengarkan.
Kukeluarkan uang lima ribu rupiah, anggap saja satu lagu seribu.
Mase merespon dengan dua lagu lagi, lagu cah enom, Dewa 19
dan Ungu, yang reff-nya -maafkan aku, menduakan cintamu-.

Teh melati mulai dingin, maksud hati tentu ingin bertahan.
Tapi kalau umpama pesta, malam tadi harus berakhir.
Karena harus jaga kondisi, setelah beberapa malam dalam mode yang sama.
Agar angin malam tidak terus merongrong membawa mengguk di tenggorokan, katanya.
Dan hari ini adalah dunia nyata. Ketika dari sudut jendela, tampak merapi, merbabu dan lalu gunung sindoro & sumbing, lalu sepertinya di belakang sana gunung perahu, lalu lautan yang benar-benar biru. Beberapa detik kemudian awan-awan tipis yang tersebar luas menutup pemandangan. Bangun dari mimpi-mimpi.





Read More......

Saturday, September 6, 2008

inspirated by

Hari ini kedatangan tamu, seorang kawan, kakak atau senior, yang sudah cukup lama "membeku" di rimba sumatra. Obrolan mengalir, diceritakannya soal politik karena melihat langsung euforia demokrasi yang eksesnya menyebalkan, lalu sosial, budaya, lalu konsep corporate social responsibility londo yang didapat dari tempatnya bekerja, harapan-harapannya, dampak-dampaknya.
Disampaikannya pendapat-pendapatnya soal pulau-pulau terluar Indonesia, soal listrik pedesaan, soal karakter sebagian manusia Indonesia menyikapi tender, soal garam & terigu kita yang benar2 disetir oleh londo Singapur. Lalu soal konsep pemuda tanggap bencana yg muncul dari interaksi dengan kementrian pemuda dan olahraga.
Banyak hal yang dapat saya dengarkan, dan banyak hal menginspirasi saya, mungkin makin banyak cita-cita & harapan dari persinggungan dengan orang seperti ini. Energinya dia, kalau berwarna oranye, akan bertemu energi oranye saya yang membuat energi itu makin besar.

Hari ini bertemu dengan seorang wartawan senior. Yang pernah di majalah yang sangat tersohor di orde Baru dan lalu dibredel, pernah jadi pengacara, dan saat ini menjadi senior di salah satu koran. Bila semula pembicaraan beralur formal, sebagai lazimnya pelayan & yang dilayani, lambat laun kami berbicara soal minat, perjalanan, harapan dan kenyataan kami masing-masing. Banyak hal yang dapat saya dengarkan & pikirkan. Dari soal menulis, idealisme, karir, hukum sampai soal ngopi. Kalau saya baru mempunyai cita2 soal menulis desa-desa & manusia nelayan di pantai-nya Sumatra, maka ibu ini sudah memotret kejadian-kejadian di sana sejak hampir 17 tahun yang lewat. Persinggungan dengannya menimbulkan energi dan harapan yang makin besar, untuk menyempatkan atau mencuri waktu & kesempatan, untuk melihat dan mengamati. Dan normal saja memang tidak cukup.

Memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan berbagai jenis manusia tentu sebuah anugerah Tuhan, kalau hal itu kemudian menggerakkan kita untuk mempunyai cita-cita atau harapan baru itu sebuah anugrah yang lain, dan kalau hal itu menggerakkan kita untuk memulai langkah-langkah, tentulah itu bonus yang tidak tentu didapat oleh semua orang.
Hari ini, kemarin, besok, atau lusa, kita telah dan mungkin akan bertemu orang-orang yang menarik perhatian. Ya, persinggungan dengan orang-orang tertentu menyalakan energi yang berbeda-beda. Dengan berbagai kemungkinan deretan warna.

Palembang, nunggu saur


Read More......

Friday, August 15, 2008

Malam itu bicara HAM


Dingin malam itu kami hangatkan dengan unggun api yang nyalanya mencukupi. Sesekali tangan yang terdekat menjaga kobarnya dengan menusuk-nusukkan ranting atau menambah dengan batang2 kering cantigi. Hari itu demikian melelahkan dengan banyaknya pekerjaan fisik untuk persiapan sebuah upacara. Diantara kami 2 orang baju hijau satuan elite di tanah air yang membantu pengkondisian upacara penutupan sebuah pendidikan. Di dalam kepulan asap unggun api dan tembakau dari berbagai merek yg terhembus diantara kami, yang datang dengan berbagai latar belakang yang beragam baik dari segi umur, profesi, pendidikan dan tentu pengalaman hidup, suka dan dukanya.
Dalam gelak dan tawa, lalu sampai juga perbincangan kami ke soal definisi Hak Asasi Manusia/HAM yang demikian subyektif itu. Subyektif karena sangat tergantung kepada siapa yang tengah memegang kunci sejarah. Apakah itu sebuah rezim yang mendunia, apakah yang mempunyai kendali terhadap berita, atau apakah itu soal sejarah yang belum juga memihak kembali. Saya jadi ingat tempo hari baca tulisan Aswendo di koran, yaitu kritik kepada "kebebasan pers" yang dulu memang kita impikan bersama. Katanya kalau dulu berita adalah upacara, maka sekarang berita yang penting aspek emosionalnya (perasaan). Spot to spot saja, tidak lagi dirasa perlu menyampaikan masalah secara lengkap dan berimbang. Seperti apa kesimpulan yang akan didapat? Mestinya menjadi seperti orang buta mendeskripsikan gajah. Dan toh soal obyektifitas berita sudah lama tidak perlu mendapat perhatian. Dampaknya temtu pertaruhan jumlah minat penonton & pembaca, yang memang saat ini sedang demam mengekpresikan perasaan. Tercermin dari tontonan reality show, akan gampang kita saksikan penonton yang tersedu-sedu atau ikut menangis karena hanyut bersama perasaan calon bintangnya, apalagi bila sorotan kamera tertuju kepada sang bintang dan keluarganya. Gejala apa ini? Atau sudah bukan sebuah gejala lagi, karena toh kita sudah tidak tergetar lagi dengan lagu Indonesia Raya atau Padamu Negri. Nasionalisme sepertinya sudah menjadi kotak kayu yang uzur, karena justru dominasi kapital telah mengabaikan segi-seginya dan selanjutnya menjadi isu yang tidak menarik lagi untuk dibahas, di tanah air kita tercinta ini.
Angin dingin bertiup kencang, kawan bertanya dan malam itu tanpa kami menjawabnya. Untuk siapakah HAM diperuntukkan? Karena toh satu setengah bulan setelah hari pernikahannya dengan istri tercinta, "tanah air" sudah memanggilnya. Untuk lebih dari sekian belas bulan hidup di dalam belantara. Dan kemudian pulang kembali ke rumah menemui anaknya yang tahu-tahu sudah besar. Apakah hak-nya untuk menikmati hari-harinya bersama istri tercinta & keluarga tidak perlu kita bahas karena ia berbaju hijau? Dengan menyebutnya sebagai sebuah nasib. Dan memang tidak pernah populer kita bahas positioning mereka yang selalu kita cap sebagai alat kekuasaan, sesaat setelah pergolakan politik yang membawa sebuah musim euforia, dan belum juga ada tanda-tanda langit cerah di musim ini. Dan sampai hari ini masih membingungkannya untuk siapa dan harusnya seperti apakah HAM didaulat.
Api unggun berderik, tanda sebuah bongkahan bara lepas. Dikenangkannya sebuah pertemuan perjumpaan, karena soal peruntungan sajalah sehingga ia masih dapat terus hidup, ketika dalam sebuah patroli, tanpa perlindungan yang memadai masih beruntung ia lolos dalam hujan peluru yang menderanya beberapa sentimeter dengan hanya perlindungan air sungai yang keruh, ajalnya memang bukan di pertemuan perjumpaan itu. Baginya justru Tuhan-lah masih memberikan hak hidupnya, setelah ujian itu. Lalu diungkapkan pikirannya bahwa tidak perlu dipertentangkan lagi soal benar salah, karena masing-masing pihak memang punya dasar kebenaran masing2.
Malam itu, dalam pikiran saya, hidup menjadi demikian kompleks & makin banyak segi ketika seorang kawan yang lain bercerita soal 98, ketika kerumunan demonstan yang dihadapi justru baginya telah merangsek melewati batas kehormatan, perintah batas pengamanan. Tapi masih dapat juga dia berpikir jernih, bahwa bila hak batas kehormatan-pun, tidak perlu membuang peluru tajam ke kepala atau lambung lawan, cukup bola lampu di atas kepala, untuk sekedar menyurutkan langkah para pejuang hak asasi manusia & sebarkan berita bahwa bukan peluru hampa. Ya, bila mengingat aura kala itu, kita jadi ingat bahwa ternyata benar salah pun lebih soal selera dan relatif. Ketika ternyata asumsi, harapan, impian atau perhitungan-perhitungan kita kala itu soal HAM, soal demokrasi, soal lapangan pekerjaan, soal investasi, soal kesempatan mengenyam pendidikan murah atau soal kepastian hukum, yang setelah sepuluh tahun kemudian telah juga hampir-hampir saja kandas diterpa kenyataan. Dan rasa-rasanya mungkin kita sepakat, kemudian politik menjadi panglima.
Angin gunung bertiup dari puncakan stasion relay TVRI tangkuban perahu, bertiup ke lembah kawah upas lalu membubung ke atas menerpa kita dan menerbangkan bunga-bunga ingatan-ingatan masa lalu yang kita kerahkan ke tengah-tengah lingkaran unggun api kita.

Read More......

Monday, July 21, 2008

Jogjakarta, stranger in the homeland


Bahkan tak sempat kami menyapa tanah perdikan condongcatur yang nyaman damai yang tersimpan dalam memori kami dalam sebuah album emas. Hari demikian cepat bergulir, ya, memang demikian sepertinya kalau kita sedang menjalani perjumpaan dengan yang kita kasihi. Definisi detik, menit atau jam bahkan tidak menjadi penting lagi, karena toh tahu-tahu batas waktu sudah menyampaikan aba-aba.
Tapi dalam hatiku masih jauh bersyukur, karena telah kami rancang perjumpaan bahagia selanjutnya, dalam alam yang bebas merdeka. Soal waktu saja, serta izin Tuhan. Karena belumlah dapat menawar tugas kami. Jauh lebih memberikan pengharapan bila dibandingkan ex tapol PKI yang terasingkan di tanah Pulau Buru atau bahkan di tanah Eropa. Bagi sebagian tidak banyak waktu dan kesempatan untuk menjenguk kembali tanah yang dicintanya. Sebuah tragedi, dimana revolusi telah memakan anaknya sendiri.
Tapi kisah kami bukan tragedi dan tidaklah istimewa, cuma cerita manis romantisme perjumpaan dan perpisahaan, layaknya kisah percintaan dua makhluk yang terpaksa terpisahkan oleh jarak dan waktu. Lalu jantung kami berdegub haru saat kami merasakan getar perjumpaan, roda2 mulai menggulirkan kami memasuki Salam, Jembatan Krasak, Tempel, Sleman dan selanjutnya Jogjakarta. Alam, manusia dan lingkungan dimana kami pernah menikmati masa-masa terbaik kami.

Bahwa kemudian harus menyerah pula kepada waktu, tapi masih sempat kuucapkan cintaku, di Stasiun Tugu, Malioboro, Prapatan Kantor Pos, Kusumanegaran, Kotabaru, Pugeran dan tak lupa jalan Godean. Sabar sayang, jatah kali ini tidak banyak, karena soal waktu saja, dan izin Tuhan. Dan konon kerinduan dua sahabat akan memunculkan sejumlah energi, yang memberikan aura pendewasaan dan penghargaan. Meski jarak dan waktu juga sepertinya laten memaklumkan inkonsistensi, setidaknya selama pengembaraan, karena semua dengan justifikasi bertahan hidup. Dan justifikasi itulah yang melahirkan ekspansi dan penjajahan bangsa-bangsa, melewati batas explorasi.

Pagi dinihari itu, kopi pahit di gelas belimbing sampai ke ampas juga, dan teh melati manis pekat mengguyur biji-biji kopi hitam dari sela-sela gigi. Biar saja mereka menemukan harmoni. Dan tak surut cintaku padamu, meski sebuah operasi sandi telah melukiskan relung-relungmu dan menelanjanginmu lalu jalan-jalan setapak di tanah air kita. Setidaknya sampai hari ini, menunggu kembali waktu perjumpaan.





Read More......

Thursday, July 17, 2008

membuka hari

pagi ini seperti biasa jam 7 sdh on the move menuju sekolah lalu office
lalu sebuah pemandangan menggodaku
sebuah truk 3/4 bermuatan penuh yang mengambil lajur paling kiri
untuk ancang2 berputar haluan ke arus kanan
di belakangnya seperti kebiasaan lukisan bak truk,
gambar seorang cewek seksi sedang duduk selonjor
dgn busana yg seksi juga, rok mini warna biru
dan baju atas putih sedikit terbuka
tulisan yang tertera besar-besar di situ "sumber rezeki"
otakku ostosmatis iseng menebak-nebak
apakah si truk-nya yg sumber rezeki
apakah si cewek adalah seorang yg ngrejekeni (lawan kata dari mbangkruti)
apakah si cewek menjadikan daya tarik sex appeal-nya sbg sumber rezeki
apakah si driver pernah membayangkan dirinya akan menjadi "bapak angkat" yg menjadikan si cewek sebagai sumber rezeki
atau apakah si cewek adalah obsesi driver dan si truk adalah sumber rezeki, sebagai sesuatu yg tidak berhubungan secara langsung
entahlah
dan di telingaku mengalun track 7 dari kata kita KMW, yang memang ku ulang-ulang
....
oohh
nikmat malam yg kulalui
menatap bintang-bintang
di atas bukitmu kuterpana
....
dan kemudian pikiranku sudah di tengah belantara kaki burangrang
lalu mengalir ke desa cihanjawar

tiba-tiba berdering SMS yg membuyarkan lamunanku
ya, banyak hutang tugas yg belum juga terselesaikan
bagian dari panggilan tanah air

Read More......

Monday, July 14, 2008

Revolusi


Sabtu itu, 12 Juli 2008, tepat pukul 8.30 upacara pembukaan PDW 2008 di halaman gedung sate. Sebuah upacara yang sederhana, tidak ada ledakan, seperti kala itu tahun 96 yg lewat. Ledakan, yang tak wajar kita dengarkan di dunia nyata yang beradab, karena ledakan cuma ada di film, atau perang dan konflik sesungguhnya, sehingga satu yang kujanjikan ke Niven yang kuajak hadir, untuk diperdengarkan dalam upacara itu tidak menjadi kenyataan.
Masih dengan derap yang sama, 117 calon siswa, dan aroma yang sama siang itu: masih ada waktu untuk mundur Tuan! dan Senin ini adalah hari untuk diingatkan, bahwa masih ada 29 hari lagi untuk ditempuh!
Mengapa repot-repot melakukan hal-hal yang tidak enak? melewatkan malam di tengah hujan deras di gunung atau di hutan, dingin yang menembus sumsum atau "kemerdekaan" yang "tergadai" selama proses pendidikan. Ya, 12 tahun lalu dalam pendidikan yang sama, di kampung nelayan blanakan, pantai utara jawa, titik start rawa laut, kami seakan-akan merasakan betapa nyaman & sejahtera-nya para nelayan dibandingkan dengan kami para siswa yang hidup dalam simulasi tekanan. Yang nyaman tentu tidur di rumah atau di hotel, dan sangat wajar bila para pemuda pemudi kita lebih memilih gemerlap kota, karena kota menjanjikan segala kesenangan dan kenyamanan. Bapak kost-ku yang purnawirawan TNI saja berkomentar: wong legan kok golek momongan (sedang longgar nyaman kok mau repot). Hanya orang gila saja yang memilih membuat sendiri ujian-ujiannya.
Lalu, mengapa seperti itu. Pada saat mengikuti proses pendidikan itu, si siswa mengikuti dengan berbagai alasan atau ekspektasi, dan selesai pendidikan-pun akan memperoleh pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman perjalanan di gunung-gunung dan hutan rimba yang lebat, jurang-jurang yang dalam, tebing-tebing terjal, bergulat dengan jeram-jeram di sungai akan memberikan pengaruh kepada bentuk karakter seseorang. Mempertahankan hidup dalam fase-fase yang kritis sekalipun, sebagai bentuk penghormatan terhadap hidup itu sendiri demikian berharga. Termasuk bila terpaksa harus pulang karena fisik atau justru mental yg sdh jatuh.
Meski kita juga sama-sama tahu, pada saat melihat sebuah bentuk lingkaran yang sama-pun, masing-masing orang akan mempunyai ingatan, persepsi, asumsi atau pikiran berbeda yang coba dikaitkan. Hari Sabtu itu, meski dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pemuda-pemudi Indonesia yang konon sekian puluh juta itu, sebuah generasi baru akan datang, dengan kesempatan yang relatif sama untuk mengalami sebuah revolusi berpikir, yang sampai hari ini masih kuyakini tidak akan didapatkan di kelas atau kursus yg nyaman ber AC, meski dari pembicara yang ternama sekalipun. Tabah sampai akhir Tuan!

Read More......

Friday, May 23, 2008

Suatu siang di Jogja


aku berharap hujan segera reda
lalu aku dapat jualan lagi
ini kabar gembira bagi adik-adikku
tapi ini juga hujan yang ditunggu bapakku di kampung sana
karena dalam kemarau panjang
sawah dan tegalan butuh siraman hujan
terserah kepadaMu mana yang baik Tuhanku


jogja, gayam, potret indonesia, 2007

Read More......

Monday, April 14, 2008

Pelan-pelan kutemukanmu


30m di belakang kantor atau tepatnya samping kantorku
di mejamu selalu ada koran sama seperti koran yg selalu nongol pagi-pagi di meja kerjaku
kata koran ada sekolah roboh di babakan ciparay bandung, lalu jatuh korban luka-luka
anak SD patah kaki, apakah kemudian patah semangatnya?
taun lalu ada iklan layanan masyarakat, gambar anak yang tak bisa sekolah
karena sekolahnya roboh karena anggaran negara yang harusnya jadi sekolahan
jadi investasi kos-kosan, reksadana atau desposito, pasif income katanya
atau karena anggaran bapak ibunya buat sekolah terbatas atau malah exceeded
lantaran harus memainkan skala prioritas, P1 sandang pangan, P sekian sekolah
barangkali kita selalu koar-koar, soal kebebasan media atau HAM lainnya
kita lupa mengagendakan demo besar-besaran soal anggaran pendidikan, atau bagaimana sekolah jadi murah atau feasible istilahnya

dampak kemunduran pendidikan sudah juga disepakati para ahli atau para akademisi
para ahli dan akademisi yang telah beruntung pernah sekolah gratis di negeri paman sam, hawaii, australi, atau jepang
tapi sayang keberuntungan itu belum dimanfaatkan maksimal, baru sebatas untuk aktualisasi atau keluarganya atau seponsornya
baru sepakat saja bahwa pendidikan itu penting lalu selebihnya SDM (senangkan diri masing2)
jalan-jalan makin semrawut krn pengemudi atau pengendara minim pendidikan
rambu-rambu berlaku cuma kalo ada polisi
ya pendidikan menyuarakan toleransi, penghargaan, tolong menolong & respect
di terminal tiket bandara, terminal bus, terminal KA, di kasir2 swalayan atau di kios2 minyak tanah kita lihat bapak2 atau ibu2 kaya miskin agak kaya agak miskin yang tidak paham apa itu antri
sepertinya berbanding lurus dengan kenyataan bahwa pendidikan kita carut marut
bicara pendidikan temtu bukan cuma soal akademis yang bermuara nilai ABCDE atau akademisi dalam reality show yang sekarang ini justru jadi ideologi bersama ideologi sinetron, ideologi nudity sebagai ekspresi hak yang bisa disaksikan kanak-kanak, yang telah disepakati untuk menggusur ideologi komunis yang katanya haram itu
orang miskin dilarang sekolah, sindiran kawan2, pernah kubaca di pintu FT UGM dekat tempat satpam
tapi pamplet itu sepertinya sudah luntur diguyur hujan atau diterpa debu pancaroba
apakabar Ihin di sudut jalur anak sungai Musi yang pernah kubaca di Fotomedia edisi anak tahun 95? apakah dia sekarang sudah kuliah atau justru sudah jadi orang besar?
segelas kecil kopi pahit di warung mbak Endang, sudah hampir ampas
kapankah berita-berita derita sudut-sudut negeri ini terganti berita gembira dari berbagai penjuru tanah air?
lalu sebuah lembaran tercecer berisikan sebuah headline dari atap dunia
yang menghendaki kemerdekaan atau setidaknya kebebasan media
ingatanku menerawang ke seputar 98, saudaraku, bila pun bergerak jangan tirukan jejak kami
dasar bergerak adalah ideologi, dan ideologimu tidak haram bila berbeda dengan ideologi paman sam, beranikan saja bila memang berbeda
mana saja kiblat yang cocok mao, islam, fidel, che, dalai lama, budha, rasta, barat, sah semua
yang tidak sah bila "maksud baik" menimbulkan derita bagi orang lain
pelan-pelan kutemukanmu, secangkir kopi pahit, seperti yang kami ramu untuk kami hirup di hutan-hutan, di gunung-gunung, tepian sungai atau di tengah lautan
biarlah kopi kami saja yang pahit, dan hidup kami selalu manis

Read More......

Tuesday, May 22, 2007

Kembang tebu


Setelah pergerakan di Pangandaran tahun lalu saya ketemu seorang kawan dari UI, kebetulan beliaunya dari fakultas Sastra, yang entahlah beliau ini sudah orang Sastra yang ke berapa yang saya coba tanyain tentang sajak2 lagu Leo Kristi/ Leo Imam Sukarno. Sejak sekitar 10 tahun lalu dengerin Gulagalugu Suara Nelayan dari kasetnya Mas Gapung di Sekre Astacala, saya penasaran pengin ketemu lagi itu lagu-lagu dan belom kesampaian. Sama seperti ketika pernah dulu sekali lebih dari 12 tahun lalu ketika saya denger secara tidak lengkap sebuah lagu yang unik, sampai kira2 dua tahun lalu atau tepatnya sekitar 10 tahun sejak pertama saya denger itu lagu, barulah ngeh saya kalo itu lagu 1000 Mil Lebih Sedepa dari Abah Iwan, tapi dimana saya dapat beroleh kopi-nya? Misteri2 kecil atau penasaran kecil terbongkar dalam kurun waktu yang memakan satu dekade atau lebih. Kawan dari UI itu mengirim kopi lagu2nya Mas Leo. Lalu dalam kurun yang berdekatan tetapi lebih duluan, kami memperoleh kopi 1000 mil lebih sedepa itu dari toko kaset Bulletin di Semarang setelah kudapat informasi dari Oded yang dalam operasi kemanusiaan di Bantul hampir selalu jadi joki Gajah Merah,-Landy-nya Abah Iwan yang masyur di "padang praire"-. Pertemuan yang sangat nikmat.

Sore kemarin saya nganter mbak yang membantu pekerjaan2 di rumah buat pamitan ke orang tuannya, sama Niven, sama Kukhri. Maklum mbak itu anak bungsu, jadi memang sang ortu dengan berat hati juga mengizinkan anak bungsunya "menimba" pengalaman hidup ke pulau sebrang, ke Palembang meneruskan membantu keluarga kami, yang sebagai orang gajian (meminjam istilah Pak Kebluk) sedang menjalani perintah buat ke Sumbagsel, bagian selatan Andalas yang konon 2,5 kali pulau Jawa itu. Ya,kami tidak hendak membayangkan kerepotan2 kami bila tanpa bantuan mbak2 itu. Yang seorang lagi tidak dapat mengikuti pergerakan kami ke tanah sebrang, maklumlah sudah punya anak masih kecil. Repot dan temtu beban mental yang berat memang kalo harus bergerak "jauh".
Sore hampir asar saat kami kami bergerak menyusuri jalanan dari Yogyakarta sampai ke perkampungan di gigir utara pegunungan seribu itu. Stasiun Srowot, Wedi, belok kiri ke arah Bayat, teruuuus kira2 7km, ketemu pertigaan yang ada tugunya, belok kanan terus ke arah Gempol, Watugajah, Gedangsari, nanjak. Standard jalanan yang dibuat putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Ndedel, tanpa basa basi, alhasil tanjakan lumayan ngoyo. Aku bayangkan tanjakan dari Gedangsari ke arah desa si mbak akan berat dilalui mobil2 tua, tak terkecuali buat LandRover Seri IIA pendek yang dulu telah kujual, karena bingung ngatasin suara mesinnya yang berisik. Kalo mau disetel klep buat dihalusin, tenaga jadi loyo, kalo nggak dihalusin, suara mesin bensin-nya kayak mesin diesel. Mau turun mesin, boros. Temtu tanjakan putih ini (karena dari kejauhan cor-coran tanggul jurangnya kelihatan segaris putih) akan memaksa menggunakan gigi "ketjil" atau low, di transmisi kuda beban itu.
Tapi memang pemandangan daerah yang juga diluluhlantakkan oleh gempa 27 Mei tahun lalu itu selalu menarik perhatianku. Stasiun Srowot, Pasar Wedi, rumah tembakau, sawah yang membentang, pegunungan Seribu, perkebunan tembakau, lalu perkebunan tebu. Sepertinya mereka adalah beberapa rangkaian tradisi/proses yang masih beriringan sejak puluhan tahun lalu atau bahkan sejak ratusan tahun, setidaknya saat masa pergolakan sosial sekitar proklamasi kemerdekaan atau seputar tahun 65. Setidaknya kalo kita baca tulisan2 Soe Hok Gie atau cerita2 peristiwa tahun2 itu, logika selalu berusaha mengembara menghubungkan tulisan2 di kertas, dengan tanah-tanah yang pernah punya sejarah. Sejarah soal tragedi, atau pun soal ironi dari sebuah harapan.Sore kemarin kembang tebu bermekaran di hampir kanan kiri jalanan aspal pinggiran Klaten itu. Bagi sebagian orang kembang tebu bisa jadi pertanda sebuah harapan, bagi sebagian lagi bisa saja tak berarti apa-apa. Coba simak lirik lagu dari Mas Leo, tentang kembang tebu yang bermekaran, atau tentang padi yang telah menguning masak, tapi temtunya bukan milik para petani, tapi tak apa setidaknya petani penggarap masih bisa berharap mendapat upah, sebuah ritual yang terus dijalani, mungkin sudah puluhan atau ratusan tahun.
Kalau ke kota esok pagi, sampaikan salam rinduku, katakan padanya padi-padi telah kembang, ani ani seluas padang, roda lori berputar-putar.... tapi bukan kami punya ... Kalau ke kota esok pagi, katakan padanya tebu-tebu telah kembang, roda lori berputar siang malam,... tapi bukan kami punya.....

Read More......

Thursday, May 10, 2007

Jang koewat jang kalah

Biasanya seringkali hasrat buat nongkrong menikmati suasana remang-remang kedai pinggir jalan muncul di ujung kepenatan kerja yang kadang seharian itu. Beberapa pilihan spontan muncul sambil menyetater mobil buat persiapan going home. Angkringan is still the best taste, dimana pengalaman2 sensasional yang menggugah emosi akan muncul mengalir bersama arah pembicaraan yang kita lakukan atau dengarkan. Mangkubumi, Stasion Tugu, Sawitsari, belakang kantor, Gejayan atau Mas Tukino Jl Colombo. Meski kost di Samirono, tokh hampir tiap malem si Mas ngelaju Jogja Klaten, going homeBaru dua kali sejak gempa besar itu ada kesempatan nongkrong di warung Tukino. Sepertinya memang setelah gempa itu total hanya punya jam tayang 1 minggu. Selebihnya tinggalah disebelahnya halte kosong dan tukang kunci. Akhirnya hampir setahun juga sejak gempa tektonik 5.9 skala richter hampir berlalu . Ya, sejak gempa itu angkringan Mas Tukino dapat dikatakan ndak pernah buka lagi. Pernah suatu hari disaat tanggap darurat di suatu posko terdengar kabar bahwa lokasi kampung Mas Tukino memang rusak parah, salah satu putra-putrinya juga menjadi korban musibah tersebut, tak jelas juga nama kampungnya di Klaten itu meski beberapa bulan kemudian baru jelas Njiwan nama kampungnya. Tapi kehendak Sang Pencipta tidak mempertemukan kami di situasi tanggap darurat tersebut, meskipun beberapa kali kita sempat mengirim bantuan ke Klaten. Atau meskipun kawan2 dari Kopassus ada di tanggap bencana di Klaten di Posko Gantiwarno, tak sempat ada kesempatan minta bantuan buat lokasi kang Tukino itu. Ya, ada penyesalan bahwa "tangan saya hanya dua", sehingga kali pertama dan kedua saat kami ketemu setelah gempa itu, darinya kudengar rencananya buat kontrak kerja ke negri Jiran, meninggalkan tanah air dan keluarga, dan mungkin rumah sementara pasca gempa, yang kudengar baru diselesaikannya.
Ya pilihan tersebut telah diambilnya, ditengah satu dua pilihan lain yang tidak kalah beratnya bila tetap di tanah air Indonesia. Gerobak dan lokasi nongkrong tersebut telah dijual buat modal berangkat ke Malaysia.
Sore kemarin coba kuulangi sebuah ritual lama, menyusuri Jl Colombo, pelan2 kudekati koordinat halte itu, ada tenda orange terpasang, dengan posisi yang tidak seperti biasanya, dengan sajian yang tidak seperti kala itu.

Read More......