Showing posts with label Penjelajahan. Show all posts
Showing posts with label Penjelajahan. Show all posts

Thursday, February 5, 2009

Realisasi


Akhirnya ngetik juga.
Mengingat liburan yang telah kami lewatkan kemarin, mengingat kembali soal rencana2, harapan2 dan kenyataan.
Boleh dikatakan, perencanaan perjalanan liburan kemarin lumayan "serius", seperti yg pernah kutulis sebelumnya,arti serius, ada banyak hal yang sudah kami buat rundown-nya, acara-acara apa saja, kapan waktunya dan lain sebagainya, meskipun settingan itu baru tersimpan di otak.
Liburan kali ini ombak pantai lumayan besar, laut biru seperti kaca atau agar-agar tidak sepenuhnya terjadi. Sunrise yanng ditunggu selama dua hari tergantikan oleh hujan yang selalu turun mulai dinihari atau sehabis subuh. Parasailing,-main parasut dgn ditarik motor boat-, tidak dapat dilakukan krn angin darat yang bertiup dominan, artinya bila dipaksakan terbang, tidak dapat diprediksikan akan turun di bagian sebelah mana dari lautan luas laut cina selatan atau laut natuna itu.
Lalu kemudian, pencapaian-pencapaian atas keinginan-keinginan rupa-rupanya tidak mutlak harus seperti rundown di atas. Toh, memang sejak semula tidak mutlak memposisikan diri event organizer atau biro perjalanan wisata, kalau kemudian orang tua lebih menjadi sopir, fasilitator lapangan, baywatch, atau sesekali pencerita dan pengawas main anak-anak yang sedang full energi, tentu tidak perlu disesali.
Melelahkan tapi sekaligus menggembirakan.
Setiap aktivitas liburan yang dilakukan tentu mempunyai makna tersendiri, terutama buat anak-anak yang gelas menyerap pengalaman seperti bocor saja alias tidak pernah penuh. Apapun aktivitas, naik motor boat, naik banana boat, memancing, memasak di alam terbuka, makan di alam terbuka, berenang di pantai lalu berenang di kolam, membuat goa-goaan di pasir, aku yakin akan memberikan bekal buat hidupnya next
time atau suatu saat kelak yg belum tentu dapat didefinisikan. Minimal, pikirku, setelah liburan bila anak-anak diminta gurunya buat nulis atau bercerita pengalaman selama liburan atau unforgetable experience, sudah ada bahan buat mereka.
Liburan, di dalam perspektif anak-anak tentu sangat berbeda dengan kita sebagai orang yang lebih dahulu lahir. Dia tergambar dari pernyataan yang ada menyelimuti seputar alam pikiran mereka dan keceriaan serta tanda tanya yang terpancar dari mata mereka.




Obrolan,
Kukhri : Pa, pesawatnya kok lembet (lambat), nggak kayak di Jogja, pesawatnya cepet.
Pa'e : Ini juga cepet kak, nanti lihat kalo ada awan baru kerasa kalo cepet (bener ga ya?)

Pa'e : Kak boga, tadi naik skate board-nya (speedboat penarik banana boat) enak ya Kak? Wah, hebat ya, naik skate board, pake pelampung kayak baywatch. Enak Kak?
Kukhri : Enggak.

Pa'e : Wah, kak boga hebat ya berani ketengah laut sama omnya, pake pelampung. Berani ya kak?
Kukhri : Takut ah.

Beryl : Kemarin Dik Ai (Beryl) main... main... (pikiran lebih cepat dari mulut)
Kukhri : Mau ngomong main ke pantai kan? Ah, itu terus. (Sergah Kukhri yang selalu menganggap beryl sbg orang dewasa, beryl memang sering bicara main di pente (pantai).

Niven : Pa, nanti mancingnya kalo di sini dapet ikan apa Pa?
Pa'e : di sini ada ikan kakap, ada ikan kerapu
Niven : nanti dapat ikan emberjen sama gigi anjing (waduh, ikan apa lagi ini?)


niven : 7,5 th
kukhri : 5 th
beryl : 2,5 th


Medan, 5 Feb 09, 21:44, ditengah-tengah workshop yg menjemukan
(setelah proxy server andalan diblok, akhirnya kembali ke proxy server yg banyak ngeblok situs ini itu)






Read More......

Thursday, January 1, 2009

Play The Game

Dahulu saya juga seorang anak...
Kalimat di atas dikutip dari kalimat pertama buku scouting for boys tulisan Lord Badden Powell, Bapak Pandu Dunia, yang kita baca terjemahannya di perpustakaan sekretariat Astacala beberapa tahun yang lewat.
Penulis pada bagian awal tulisan menceritakan bagaimana awal mula interaksi & ketertarikannya dengan hal-hal wilderness pada saat masih kanak-kanak dan kemudian kecintaannya kepada kegiatan-kegiatan menjelajahi daerah baru, petualangan dan kegiatan dengan media alam terbuka tersebut berkelanjutan telah menjadi "hidupnya" dan melahirkannya sebagai seorang yg kita kenal, dan selanjutnya dia berharap, di belahan dunia manapun akan tumbuh generasi-generasi baru yang menirukan jejaknya atau pun "mengubah" hidupnya. Seperti seakan-akan dia telah mengatakan,"Pilihlah jalan ini."
Sepakat dengan penulis di atas, mengajak anak-anak mengalami sendiri petualangan dalam kadar yang terukur baik diharapkan akan memberikan bekal mental yang berharga. Petualangan sebagaimana diketahui dapat memunculkan dua output ekstrim yang bertolak belakang, ketagihan dan memunculkan minat berkelanjutan atau trauma dan memunculkan penolakan mencoba kembali atau melanjutkan. Munculnya minat melanjutkan juga berarti keinginan untuk menularkan, menceritakan pengalaman yang pernah dialami dan mengajak orang lain untuk mengalami hal yang sama. Sepertinya hal ini berbeda dengan seorang senior di sebuah perguruan tinggi yang ingin "menularkan" atau membalaskan pengalaman tidak enak yang dialaminya kepada yuniornya dalam OPSPEK. Pengalaman anak-anak juga akan bermuara kepada dua kemungkinan tersebut di atas. Untuk kanak-kanak ada tiga hal penting dimana pengalaman atau sebut saja ujiannya dapat diciptakan/dikondisikan yaitu keberanian, hal baru dan orientasi lingkungan.
Liburan anak minggu ini kami rencanakan akan menjadi "games" buat anak-anak untuk melewati hari-hari dengan pengalaman seperti yang dipaparkan di atas, termasuk buat saya yang juga sedang menguji diri saya soal perencanaan, harapan dan pencapaian.
Tujuan, waktu & format liburan sudah ditentukan, maunya waktu liburan dan cuti bersama natal kemarin, apa daya hotel sdh fullbooked sehingga jadwal segera digeser seminggu setelahnya. Karena liburan ini tidak beli paket wisata, maka kami bagi-bagi tugas, istri kebagian pertiketan pesawat & pakaian, saya kebagian booking hotel, pesen mobil, perlengkapan & belanja logistik. Buat niven sebagai anak tertua juga sudah jelas, membawa joran pancing baru-nya sendiri yang dibalut kantong tripod kamera. Tujuan utama adalah pantai Parai, Pulau Bangka dan Pangkal Pinang sebagai tujuan antara sebelum ke tujuan utama & sebelum pulang. Jarak Parai PangkalPinang sekitar 45 km dengan jalur darat aspal mulus.
Disamping akan menikmati bentang alam pantai yang biru dan mengamati kaum nelayan yang melintas dengan kapal kayu dan perahu, anak-anak akan dapat mencoba permainan2 yang disediakan hotel. Permainan itu katanya seperti banana boat dan parasut yang ditarik boat,-sebut saja paraboat-, yang saya pun juga belum pernah mencobanya.
Selain permainan2 itu, saya ingin mengajak anak-anak menikmati games aplikatif berupa petualangan2 kecil lain. Untuk itu peralatan2 outdoor activity seperti tenda, alat-alat masak, alat-alat mancing dengan logistiknya juga disiapkan. Seingat saya, dari hotel arah ke pantai terus melipir ke kiri kira-kira 300m ada sebentuk hutan kecil, dengan vegetasi khas pantai seperti kelapa & ketapang. Sepertimya tempat itu cukup bagus buat mendirikan tenda dan menikmati segala aktivitas seputarnya seperti memasak, makan di alam terbuka, memancing, membuat perapian dan tentu menikmati secangkir kopi,- olahan dari biji2 kopi terbaik tanah air Indonesia-, sambil mengagumi hamparan laut biru, laut yang menghubungkan nusantara dan bangsa-bangsa di dunia disertai belaian angin laut cina selatan yang menggerakkan lidah gelombang pantai silih berganti.
Bila setting ini sukses, dan kemudian kami berkesempatan menginap di tenda semalam, maka, anak-anak telah berhasil mengatasi rasa takutnya terhadap bayangan monster yang muncul dari laut sepeti godzilla atau naga raksasa, pagi hari bila cuaca cukup bagus, maka dihadapan saya akan terlihat sebuah obyek fotografi yang indah : tenda, anak2 yang terbangun lebih pagi, asap dan unggun api, yang perlahan tertimpa sinar matahari terbit dan bibir pantai yang selalu dinamis.
Dua malam kami akan menginap di pantai Parai ini, hari minggu siang tanggal 4 Jan 09 kami harus bergerak ke Pangkal Pinang, menginap di sana, merencanakan menikmati seafood sebelum pagi harinya kami akan bergerak ke Palembang kembali, menemui dunia nyata.
Kami berharap yang akan terjadi jauh lebih indah & membahagiakan dari yang kami rencanakan, dan bagi anak-anak akan tersimpan memori dan pengalaman yang berharga, menegangkan sekaligus menyenangkan, sehingga suatu saat kelak merela juga memilih dengan yakin jalan hidup, sambil menyepakati ucapan Hercules kepada sahabatnya ,"Mengembaralah, dan ceritakanlah ke anakmu, sehingga sebagian dari dirimu akan terus hidup."





Read More......

Wednesday, November 5, 2008

kabut awal november


itu kabut awal november
yang dibawa angin lembah burangrang
atau kondensasi nafas pepohonan pegunungan sunda
itu juga danau situ lembang
yang dulu pernah kupikir kami tidak akan bertemu lagi
tapi kemauan menemukan jalannya yang pernah mustahil
beberapa orang telah beruntung menemuinya
berarti juga beberapa yang lain beruntung tidak menemuinya
itu semua saksi mata soal manusia-manusia yang menemui ujian-ujiannya
melewati dengan nyata batas manusia, sebagian tidak mampu melewatinya
bukan soal uang atau materi, tapi konon soal kehormatan
ragu-ragu kembali sekarang juga
itu juga hujan bulan november
yang deras mengguyur tanah-tanahmu
ia membawa kesuburan dan sekaligus desak kesulitan yang cuma perlu dinikmati
tanah-tanah becek menempel menyelip di sol sepatu lars
di depannya lagi ada bunga mawar
warnanya ragu-ragu, tidak putih atau bener-benar merah
bahkan kali pertama mataku tertuju padanya-pun kupikir bunga rumput liar
ia cenderung merah jambu, dan keraguan-raguannya adalah keindahan
dan sejak pertama ia telah bertualang

ia tidak tumbuh di pekarangan rumah mewah yang dipagar tinggi
ia tidak tumbuh di pameran tanaman
ia tumbuh dari siraman hujan dan embun dari alam raya
mungkin dulu seorang iseng "membuangnya" kesana
jauh dari habitat yang "seharusnya"
tapi begitu, dia tumbuh subur, di musim hujan november ini
dan mungkin meranggas pada musim kering nanti
atau malah berkembang sepanjang masa karena adaptasinya?
menilik batang-batang dan duri-durinya yang kokoh menyebar
dia menyimpan genetik yang tangguh dan ulet, jauh di atas kesadarannya
itu tunggul-tunggul kayu, sisa penebangan yang timbul tenggelam tertutup air danau
di seberangnya yang jauh di sisi sana, aku masih ingat sungai cimahi
yang jernih menyediakan sumber air bagi makhluk yang "tersesat"
di kanan kirinya batang-batang kayu yang tertutup lumut
penanda arah matahari terbit atau tenggelam
itu hujan awal november
seperti juga hujan yang menahan seorang gadis yang pulang sekolah
seperti yang ditunggu anak-anak kecil yang akan main bola
seperti yang ditunggu petani yg sudah mulai menghitung kerugian dari sewa pompa air para juragan
seperti yang ditunggu orang gila yang membayangkan hujan sebagai suatu sumber kekuatan yang magis
itu kabut awal november
yang kutunggu momen terbaiknya, setidaknya menurutku
mula-mula ia tipis menutup ujung-ujung punggungan
hampir-hampir menyentuh permukaan air danau
lalu beberapa saat berikutnya bersama hujan ia melengkapi misteri hutan tropis
yang kemudian ia coba kita abadikan di hadapan mata kita
meski sebenarnya dia sudah tersimpan lama di hati dengan gambaran yang jauh lebih indah



Read More......

Saturday, November 1, 2008

menandai daerah kekuasaan


seperti sudah menjadi galibnya dunia hewan
adanya suatu wilayah yg dianggap menjadi teritorial hidupnya
dikaitkan dengan sumber-sumber daya yg hendak & atau telah dimilikinya
atau tidak tepat begitu sebenarnya
tepatnya soal pertemuan kembali dari mahluk-mahluk tuhan
menghirup kopi, menyalakan sebatang rokok dan berdiskusi
menahan udara dingin yg menembus sleeping bag
menahan dingin air yang pernah tembus juga ke celana dalam
dinginnya kupikir sudah berubah, tidak setangguh & selekat dulu
tapi rupanya aku yang salah, aku terlampau berpersepsi sebaliknya bahwa kamu telah berubah


hari-hari berikutnya cintanya yang dingin & lekat sampai ke tulang sungsum
membangunkan dari tidur dalam jeda yang sebentar sebentar, dingin menusuk
dalam beberapa hari segera kusadari cintamu masihlah sangat besar, tangguh, dingin dan lekat.
hari-hari di sini banyak hal yang sempat mengisi cakrawala pikiran
soal perjuangan menembus kemustahilan, soal nasib, soal wanita, soal harapan dan kenyataan, dan juga soal kesetiaan.
seperti yang dilakukan para hewan, kutandai titik2 yang pernah kudatangai di tanah air ini atau di dunia.
biar sederhana kuanggap menandai daerah kekuasaan.
kutandai di GPS, kutandai di kakus-kakusnya, kutandai dengan foto dan kutandai juga di sini.

situ lembang 1 Nov 2008, tulisan diselesaikan jam 02.28



Read More......

Thursday, October 23, 2008

kemumu argamakmur


Lha wong ini tidak ada sketsanya.
Muncul tiba-tiba karena berita kawan.
Mengapa tidak coba ke sana?
Sekian kilometer dari pusat kota argamakmur.
Tepatnya baca saja di peta bakosurtanal.
Tentu tidak ada di atlas persada dan dunia.
Atau baca lagi trek dan koordinatnya di GPS.
Sudah kuplot waypointnya, gambar pohon cemara.
Tidak susah menemukannya.
Hanya perlu ada bagi-bagi tugas.
Antara ngegas dan bagian kompas cocot.
Jalanan menanjak halus menuju daerah kemumu.
Yang akan ngos-ngosan kalo nyepeda onthel.
Di kanan kirinya sawah menguning.
Seperti tanjakan dari jl rajawali condongcatur sleman ngalor.
Agak jauh ke sana bukit2 yang hujau kebiru-biruan.
Di sawah ada rumah gubuk, pohon pisang, sapi dan tentu pak tani.
Persis dengan ingatan kita semasa kecil.
Yang suatu pagi pernah kita gambar di kertas manila.
Apakah kamu pernah ngopi atau wedangan di gubuk-gubuk seperti itu?
Di sana ada kesederhanaan, harapan hidup, dan juga nasib.
Tempat parkir sepi, tapi datang juga pasangan-pasangan muda mudi.
Seperti kisah cintanya dian dan bambang.


Yang coba diabadikan pelakunya di pagar deket karcis retribusi.
Lalu suara-suara alam mulai terdengar jelas.
Ada yang mirip garengpung, ada ulat bulu, kadal dan ada yang lain.
Serangga, burung2an dan mamalia.
Orientasi medan, banyak pohon-pohon besar.
Ada pakis ekor monyet, ada pohon besar dipanjat pohon menjalar.
Ciri khas hutan primer, kata buku IPA dulu.


Lalu deburan suara air terjun palak siring, mbuh artine opo.
Air sungai yang meluncur deras dari hulunya sungai yang kuyakini mata airnya di lembah curam bukitmu di arah atas sana.
Harapku sungai itu terus ada, yang artinya pohon2mu di bukit2 itu belum jadi mebel rumah-rumah mewah berselera tinggi atau papan2 rumah petani yang mulai tidak dapat bertani.


Sehingga air terjun yang gagah, meski tidak sebesar airterjun tawangmangu, persis di bawahnya jembatan belanda itu juga terus ada.
Mengisi jalur2 irigasi yang dibangun dengan rodi.
Mengairi sawah-sawah yang membentuk gradasi.
Aku bersyukur, kutemui juga alam yang masih seimbang di sebuah sudutnya Bengkulu.
Ia asing di telinga, tapi harmoni-nya sperti pernah kujumpai di lombok, jogja, kepulauan riau, bangka belitung atau jawa barat. Deja vu.
Hujan pagi ini saat kulongok dari jendela ketika kutulis kembali ingatan padamu.






Read More......

Tuesday, October 21, 2008

Bicara Pantai Bengkulu

Belum ke Bengkulu kalau belum ke pantainya, Bengkulu sebagai propinsi memiliki pantai yang memanjang dari Selatan ke Utara. Boleh juga disebut sebaliknya. Konon batas selatannya dari simpul2 Bintuhan-Manna-Bengkulu kota, masih kusebut konon, karena segmen itu belumlah diberi kesempatan oleh yang maha kuasa buat menjelajahinya. Lalu simpul-simpul utaranya Bengkulu kota-Lais-Ketahun-Ipuh-Muko2. Hampir 90%nya perjalanan segmen tersebut adalah perjalanan penyusuran pantai baratnya Sumatra. Dapat ditebak gambaran yang indah itu, jalan raya, pohon2, tiang2 listrik, mobil dari arah berlawanan, rumput2 tinggi di sisi sebelah dan pantai yang menghadap samudra luas di sisi yang satunya.
Demikian juga kalo kita zoom Bengkulu kota. Dari tengah kota, harum bayu & belaian angin laut sudah terasa. Tidak banyak kota yang menghadap samudra lepas seperti Bengkulu ini. Menghadap Samudra Hindia. Wajar bila kemudian dapat dilihat sampai dengan sekarang, benda2 saksi mata datangnya penjelajah-penjelajah samudra seperti Londo Inggris & Londo Belanda yang konon kemudian karena sebuah perjanjian perdagangan terjadi tukar menukar, antara Bengkulu & Singapore. Dan kemudian pendatang yang lain tentu etnis China.
Ke arah utara Pelabuhan Lama kita temui Pantai Panjang. Hamparan pasir putihnya khas, butiran-butiran pasir putihnya kecil-kecil atau halus kecoklatan, pertanda bahwa proses yang alam yang terjadi di sana sudah sangat purba. Dasarnya cuma membandingkan karakteristik pasir putih kecoklatan di Pantai Panjang ini dengan butiran-butiran pasir putih yang juga di beberapa tempat ditemui di pantai-pantai selatan Jawa yang juga menghadap ke samudra lepas, yang butirannya cenderung kasar, proses alam yang "masih muda", seperti di sepanjang pantai Wonosari Gunung Kidul DIY mulai dari Baron-Krakal-Kukup-SUndak-Siung-WediOmbo-Sadeng. Atau beberapa ditemui diantara pantai-pantai Jawa Barat mulai Karang Nini-Pengandaran-Cipatujah-Leuweung Santjang-Cibaluk-Cijeruk-Pameungpeuk.
Ombak yang besar yang seharusnya muncul sebagai konsekuensi dari pantai samudra, tidak kita temui di Pantai Panjang ini. Hal ini terjadi karena Bengkulu merupakan semacam teluk, sehingga pantainya terlindungi oleh sebuah daratan atau semenanjung yang menjorok ke laut. Vegetasi di Pantai Panjang ini cukup unik, bukan pohon kelapa seperti biasanya, tetapi pohon2 cemara, yang belum dapat kami temukan awal-mula kejadiannya. Lebih ke depan pantai semak-semak liar dan bunga-bunga rumput lazim ditemui di pejajahan lain di Indonesia ini. Ombak pantai yang kecil bersahabat yang didorong angin laut lepas yang kadang nakal dan kadang berwibawa. Adakalanya dia datang menghembuskan udara ke otak kita yang menstimulir ingatan soal sejarah masa lalu manusia dan daerahnya, adakalanya dia menstilulir kesyukuran atas perjalanan-penjelajahan yang telah dilalui saksi mata atas tanah air Indonesia, adakalanya dia akan menstimulir ingatan soal keindahan wanita dan momen2 yang terhubung dengannya.
Lalu langkahmu ke utara akan membentur kokohnya Fort Marlborough. Dengan posisi yang sangat strategis, meriam dan lubang2 pengintaiannya juga menghadap langsung ke lautan lepas. Dan di gerbang tertuliskan memori pendudukan masa lalu yang terpahat di pintu baja. Dan tentu di sana ada kamar serdadu, gudang mesiu dan penjara. Sebelah kirinya benteng ada Pecinan, melihat tata letak dan aristektur bangunannya, sepertinya gelombang manusia itu datang bersama armada kapal-kapal Inggris atau Belanda. Itu jalan Tengiri, dan disana ada pasar, di depan pojoknya pasar ada warung makan, meski lebih mirip ke Warung Padang tapi aku anggap saja warung Bengkulu. Ikan laut bakar bumbu kuning, sambel tempoyak dgn udang & pete, oseng terong campur jengkol, sambel ijo. Dan jangan lupa segelas kopi, dari biji2 kopi terbaik di tanah air.
Balik lagi ke Benteng, utara Benteng ada Tapak Padri. Dua buah arah pembicaraan memecahkan perhatianku, satu arah bicara soal sejarah Tapak Padri ini, satu arah bicara soal Wanita. Hal yang kedua lebih menarik perhatianku, sehingga penjelasan kawan penunjuk jalan cuma lalu saja di telinga.
Sore hari yang lain duduk di pantai utaranya Tapak Padri, di dekatnya perahu-perahu nelayan, menunggu sunset. Rupanya keberuntungan momen hari itu belum berpihak ke kami. Sunset yang kami tunggu tertutup mendung yang pekat. Hanya sekali saja ia mengintip di sela awan, itupun cuma 4-5 detik. Penghiburanku sore itu memperhatikan anak-anak nelayan yang bermain bola di pantai pasir itu. Lebar lapangan cuma dibatasi perahu nelayan, beton penahan ombak, gawang dari dua kayu ditancapkan dan diberi bendera, serta lidah gelombang yang dinamis maju mundur. Keceriaan anak-anak, yang bebas dari politik dan politisasi. Keceriaan yang polos & indah, yang sepertinya akan berubah seiring dengan kontaminasi gemerlapnya trend dan gaya hidup yang dipajang di etalase TV-TV. Lalu mulailah muncul kebutuhan HP, tidak cukup dengan surat-suratan. Akan muncul kebutuhan sepeda motor, tidak nikmat lagi sepeda onthel atau jalan kaki. Bapaknya yang sedang tidak melaut akan mulai diminta memutar otak buat beli voucer telpon genggam.Ya, itu proses kebudayaan yang tak juga kuasa kita lawan karena mayoritas kita tanpa sengaja mendukungnya. Setidaknya sore itu, meski satu dua orang menjadi tidak polos lagi krn pengin difoto, kegembiraan anak-anak itu benar murni dan lingkungan yang ada masih sanggup untuk mencukupinya.
Sore itu, andai saja matahari menjelang sunset bersinar terang, karakter aktifitas sore itu akan makin hidup & terpancar kuat. Apa boleh buat? Lalu kepikir juga, andaikan ada keindahan bunga rumput, keindahan sunset & barangkali kehindahan wanita. Mestinya sore itu menjadi momen yang terbaik, diantara momen2 terbaik yang pernah ada di dalam hidup kita.

nulise dicical cicil selagi mood




Read More......

Monday, September 1, 2008

In the heart of Sumatra


Segelas kopi manis di Jambi,
bagian tanah air Indonesia yang sedemikian luas
konon dari Sabang sampai Merauke
ingat-ingat di buku rangkuman pengetahuan umum ketika SD dulu
konon ekonomi di sana menggeliat semenjak otonomi daerah,
dibandingkan waktu terpusat
tapi ekonomi seperti apakah
karena badak sumatra yang ada di taman nasional kerinci seblat
akhirnya dinyatakan punah koran hari ini
karena rupanya hutan primer sudah banyak berubah
jadi hutan sawit atau hutan produksi pabrik kertas
dan tentu suku anak rimba yang kita temui tempo hari
sudah "diperadabkan", karena dia sudah berbaju & bercelana
sebuah land rover long chasis tua melintas,
dengan sabar memikul beban sawit yang hampir overload
segelas kopi pahit di muara tebo,
apakah ini dipetik oleh para petani dari kaki-kaki G Kerinci?
suatu tempat yang masih menjadi imaginasi
tapi benarkah justru imaginasi lebih penting dari ilmu pengetahuan?

Segelas kopi pahit dan dua kerat gorengan di muara bungo,
jalan beraspal telah menghubungkannya dengan Sumbar dan Jambi
di kanan kiri jalan, hutan dan rawa-rawa
sesekali jalan akses yang entah menembus kemana, di jantungnya Sumatra
yang jelas dipisahkan lembah di depan kami tampak bukit gundul
ending sebuah proses pembukaan hutan yang "praktis & efisien"
dan di seberang yang satu lagi kebun sawit yang gemuk-gemuk
apakah kemajuan ekonomi harus sejalan dengan tingkat degradasi lingkungan?
lalu bau busuk menyengat, di sebelah kiri jalan bangkai babi hutan yang tertimpa sial
apakah investasi atau penanaman modal
harus didefinisikan berpindahnya kemakmuran dari isi hutan ke kota
titik segitiga hitam di GPS menunjukkan posisi

Segelas teh manis aroma panili di kota kecil Sarolangun
karakternya yang sedemikian kuat
dan ingatanku melayang ke teh aroma melati
di angkringan lor stasiun tugu Yogyakarta
dan malam tanpa bintang
sebuah pasar malam ramai dikunjungi pasangan muda mudi
kita berbincang-bincang dengan sebuah keluarga
makan malam dengan satu bagian kecil masyarakat Indonesia
Sebelum ini, pertigaan sebelumnya, Bangko,
arah jalan ke danau Kerinci,
tempat dihasilkannya daun-daun teh dan biji kopi terbaik,
karya tangan-tangan petani kita
yang cuma kita kenal statistiknya
lalu kita hapalkan bahwa negeri kita negeri agraris,
dan kita tidak pernah bertanya kepada guru-guru kita

Segelas kopi pahit di lubuk linggau
Sepiring lontong sayur dengan kuah santan & labu siam
Mengingat kembali waktu pagi-pagi di Jogjakarta,
menu makanan ini yang dulu sempat kucibir
Akhirnya kunikmati juga, di tengahnya Sumatra
sajian di sebuah warung pasangan transmigran asal Jawa

Aku bersyukur, menjadi orang yang beruntung
Melihat masyarakat Indonesia dari dekat, suka dan dukanya
Menghirup harum aroma hutan dan rawa-rawa yang ditimpa hujan
Melihat hijaunya sayuran di pasar tradisional
Melihat merahnya sisa daun yang terjilat panasnya api pembakaran hutan, hot spot katanya
Melihat warna-warni umbul-umbul demokrasi, yang terkaanku dihasilkan dari uang yang tidak sedikit, sebagai sebuah bukti "kemajuan" berpikir.
Melihat warna-warni antrean panjang kendaraan karena pom bensin telah kehabisan BBM.
Dan sekilas sebuah tayangan TV, rakyat di sebuah kota besar berjubel-jubel antre beras, supermi & minyak goreng gratis
Yang tidak mirip antrean panjang para penggemar fanatik musik di negri dongeng sana, yang setia menunggu sampai toko kasetnya buka

Dan lalu kuceritakan padamu.
Meski cuma ini dan dengan cara ini.
Happy Romadlon!

Read More......

Tuesday, August 26, 2008

Be Prepared?

Beberapa kali kami memperbincangkan soal "be prepared" ini. Sebenarnya lebih kepada suatu monolog, krn dalam perbincangan itu saya belum sempat menyampaikan soal be prepared dalam persepsi saya, yang tentunya sangat dipengaruhi hal-hal yang menjadi pendewasaan saya, dan tiap orang tentu berbeda-beda.
Ya sudahlah, hari ini baru berkesempatan saya menyampaikan pikiran saya soal itu. Dimana saya mengutip dari bukunya Scouting For Boys, Lord Badden Powell of Gilwell. Dalam terjemahan cetakan tahun2 70an yang saya baca waktu kuliah, dari perpustakaan Astacala, dijuduli "Memandu untuk Putra." Buku itu begitu mempengaruhi jiwa saya, tentu krn juga bertemu lingkungan sekitar tempat saya tumbuh yang kemudian menyatukan auranya.
Kalau kita artikan dalam terjemahan langsung para ahli bahasa landa inggris, maka akan diartikan sebagai bersiap-siap, mengantisipasi atau berjaga-jaga segala kemungkinan yang terjadi dll yang senada dengan itu. Tapi bagaimana menurut Bapak Pandu Dunia itu?
Be prepared juga diartikan sebagai "bersedia!" atau "siap sedia". Dalam salah satu kalimatnya kurang lebih begini : Seorang Pandu sejati dipandang oleh orang lain sebagai seorang yang dapat dipercaya & diandalkan, seorang yang tidak akan mengecewakan saat menjalankan kewajiban-kewajibannya seberapa pun besar resiko & bahayanya, seorang yang selalu riang & gembira seberapa pun besar kesukaran yang dihadapinya. Dalam kalimat yang lain, selalu siap sedia dalam tataran mental & fisik. Dan sang penulis buku, menuliskan apa-apa yang dirasakan & dialaminya dalam sepenggal perjalanan hidupnya.
Be prepared atau bersedia atau bersiap sedia dalam arti yang luas sebagaimana yang kami kutip dari jiwanya kepanduan (lawan kata arti di kamus) itu, dengan petualangan dan pengembaraan adalah sesuatu yang berjalan beriringan. Seorang yang menginginkan pengembaraan akan mempersiapkan dirinya, dan setelah itu melakukan pengembaraan.
Hal yang berbeda dengan memposisikan diri kita sebagai bersiap-siap, mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, lalu berjaga-jaga dan selanjutnya kita berlindung di balik nyamannya cotton-wool (meminjam istilah Roosevelt), tanpa pernah muncul minat apalagi mengalami langsung penjelajahan atau petualangan.
Lalu bagaimana mencapai hal itu? "Mengembara, ke tempat yang jauh dari rumah, menemui tempat baru, adalah pengalaman yang gilang gemilang. Itu menambah kekuatan & keuletanmu, sehingga engkau tidak peduli dengan angin & hujan, panas dan dingin. Kamu terima itu semua ketika mereka datang, menyadari akan kesanggupanmu itu, yang membuatmu mampu menghadapi setiap kesukaran lama, dengan senyuman, dengan keyakinan bahwa pada akhirnya engkau akan menang."
Dan mengapa atau dengan tujuan apa mengembara? Bahkan Magellan dari Portugis atau Laksamana Zheng He, meskipun memperoleh perintah yang jelas rajanya untuk "mencari sumber rempah2" tidak pernah mendefinisikan itu sebagai tujuan pengembaraan, karena dalam hati mereka hanya ada keinginan yang kuat untuk menjelajahi dunia baru, dan lalu mungkin mengabarkan kepada dunia apa yang mereka jumpai, suka dan dukanya, meskipun diam-diam mereka menyadari bahwa tidak ada jaminan mereka akan kembali pulang. Entah karena sebuah kecelakaan, entah karena dimana pun berada adalah rumahnya.



Read More......

Monday, August 4, 2008

Bandung undercover


Kalau lagi sempat ke Bandung, jangan cuma inget pusat perkulakan pasar baru, cibaduyut, pisang molen, brownis kukus, atau C-mall yang kalau di Jogja biasa disebut abal-abal, tempat berburu pakaian ex import. Ada tempat-tempat penting lain buat kita "pesan berantai-kan" ke kawan, handai taulan dan kerabat yang barangkali sedang jalan-jalan atau justru kuliah di Paris Van Java itu.
Di Cikapundung, emperan kantor PLN, disana bursa buku loak, untuk mencoba peruntungan menemukan buku-buku "sepanjang masa" yang tersembunyi di sekian tumpukan, sepanjang masa untuk melawan katakan dengan pendek masa, kurun tertentu, anget2 tai ayam, yang saat ini mendapat setempel best seller di toko-toko buku. Yang demam bikin trilogi, tetralogi, serial dan komik-komik yang memang candunya sangat digandrungi. Gampang nebaknya, kalau suatu judul laku di pasaran, tiggal bikin tema yang mirip, dijamin tetep juga laku. Ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, munajat cinta, la tahzan dll atau laskar pelangi, sang pemimpi dll yang suatu saat mencoba mengexploitasi belitung, tapi kerumunan itu lupa menceritakan kisah tragedi terkait 65 yang juga bertalian erat dengan tanah yang indah itu. Buku-buku yang kalau-pun sesekali menyuarakan penjelajahan, cukup menjadi nawaitu yg diucapkan di bibir saja dan lalu dianggap sah. Ah sudahlah, bila beruntung, di emperan Cikapundung akan kita temui buku-buku yang pernah menjadi simpul-simpul peradaban atau minimal yang mencatat sejarah soal itu.
Lalu lewatlah di Cihapit, cuma beberapa ayunan langkah dari outlet2 factory yang menjamur di jalan RE Martadinata, Cihapit ini pasar loak baju, sepatu, onderdil atau apa saja yang bisa jadi duit. Tempat panggung pertemuan uang yang mencari barang atau barang yang mencari uang. Yang diperankan oleh pahlawan2 ekonomi keluarga. Atau mahasiswa yang terpaksa menjual celana jean atau kaset buat bertahan hidup beberapa hari ke depan, karena kiriman uang orang tuanya di kampung telah habis.
Dan kemudian bawalah oleh-oleh kopi aroma yang nikmat tiada tara, Koffie Fabriek, demikian tertulis di bungkusan dan dinding pabrik sekaligus toko tersebut. Persis di pojok gang ke-2 jln banceuy, masuk dari pojok penjara Banceuy, yang dulu proklamator Bung Karno pernah menginap, lorong depan pabrik lurus menatap pasar baru. Biji-biji kopi yang diolah di sini terkumpul dari hasil bumi terbaik berbagai penjuru tanah air, Banyuwangi, Flores, Toraja, atau lereng-lereng Bukit Barisan di Bengkulu, Jambi tanah Sumatra. Dan mengalami penyimpanan 6-8 tahun sampai diolah dengan tungku kayu karet untuk dapat disajikan. Robusta atau Arabika, Robusta agak ada asam-asam dikit, memang untuk penikmat kopi dan Arabika yang cenderung pahit untuk kita ambil manfaat
kafein-nya, demikian kira-kira cerita sang owner, pewaris sekaligus pemelihara heritage ini. Yang juga menjadi saksi sejarah semenjak tahun 20an, minimal soal hasil bumi perkebunan Indonesia, karena memang toko dan pabrik itu sudah berdiri sejak 1930. Tanpa niatan untuk membesarkan volume usahanya. Ya, bergulir saja menikmati yang ada. Saya sesekali berpikir, akan lebih baik bila di depan toko itu dibuka semacam warung atau kafe yg senada dengan toko itu. Dengan sinar temaram malam dan secangkir kopi sepertinya akan mampu mengurai sejarah tempat itu dan sayap-sayapnya. Buat apa itu semua? Apa yang dicari? Mungkin itu pertanyaan di benak owner. Toh kopi dari situlah yang konon saat ini menjadi pilihan utama bagi selera kopi kelas atas baik di hotel dan kafe di tanah air sampai manca negara. Dan dia mungkin cukup puas dengan itu. Ya, konsistensi yang terus dijaga, sejak puluhan tahun yang berlalu. Sebuah pilihan yang aneh masih kita temui hari ini. Saat orang berlomba-lomba memanfaat segala peluang yang ada untuk memperoleh akses sebanyak-banyaknya untuk menambah pundi2 kekayaan pribadi dan aktualisasi kepada materi. Yang kata koran konon mendorong dokter atau aparat yang seharusnya besar fungsi "melayani rakyat"-nya untuk menjadi profit oriented, mengejar balik modal saat buat kuliah atau masuk menjadi aparat, atau karena tergetar oleh pertanyaan2 yang lazim kita dengar sehari-hari, sudah punya apa? mobil, rumah sudah berapa? masih ngontrak apa rumah sendiri?jabatannya apa?
Secangkir kopi robusta, dalam cangkir logam stainless made in India telah sampai ke ampas. Dan masih aku ingat, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sekitar 1-2 blok dari pabrik kopi itu, dalam sebuah toko jean yang sama unik dan tempo doeloe-nya, dalam kamar gantinya beberapa poster artistik wanita-wanita yang menyampaikan keindahan tubuhnya.


Read More......

Tuesday, July 1, 2008

Bangka Belitung : berlabuh membawa nikmat


Senin kemarin pagi-pagi sekali saya sudah di angkasa Selat Bangka untuk kembali ke dunia nyata Palembang, itu adalah penerbangan pertama bagi kawan saya dik Nikon D80. Setelah sebentar mengabadikan beberapa momen lalu berkesempatan juga baca inflight magazine-nya Sriwijaya Air, lalu di hadapan saya tersajilah sebuah halaman dan foto, soal Jogjakarta, dengan transportasi barunya, TransJogja. Kucoba menebak-nebak lokasi tempat foto itu diambil. Tidak ketemu juga, biarlah menjadi sebuah misteri kecil.
Tepat setahun lebih sedikit sejak kuterima sepucuk surat dari para dewa yang mengharuskan kami move to dan berlabuh di Andalas. Untuk beranjak dari balai-balai nyaman Jogjakarta Hadiningrat. Meninggalkan segala harmoni yang mengikutinya : ketegaran, ketenaran dan gejolak Merapi, liku-liku Pegunungan Seribu yang bukit2 purbanya selalu menyimpan misteri yang tak pernah terucapkan lalu pantai2nya dan seleksi alamnya yang demikian khas hingga sesekali terdengar di koran demikian beratnya desak kesulitan hidup sehingga harus mengakhiri sendiri hidup yang demikian berharga, hamparan Perbukitan Menoreh yang menyimpan sejarah panjang peradaban manusia yang di lembah-lembah selatan-nya terhampar sawah yang menghijau di suatu musim yang akan teramati dari jendela kereta api ekonomi, belaian angin dan ombak laut selatan yang mengirimkan hawa murni yang demikian kecil molekul-molekulnya sampai dapat melewati sel-sel otak dan memberikan kesegaran, lalu tentu angkringan yang selalu aura panas kopi-nya melambungkan mimpi-mimpi soal kemerdekaan, demokrasi atau soal wanita. Tak lupa kampung Condong Catur yang nyaman permai. Tapi itulah hidup, ada juga waktunya dimana posisi tawar kita sedemikian lemah lalu tidak dapat memilih atau kuasa menolak, atau justru tidak berani mengambil resiko.

Waktu berjalan, alhamdulillah pelan-pelan muncul juga semangat "bertahan hidup" untuk lolos seleksi alam sambil sesekali memainkan otak untuk menikmati pengalaman2 baru. Mengembara, menemui tempat-tempat baru, adalah pengalaman yang gilang gemilang. Itu menambah kekuatanmu. (Scouting for Boys, Lord Badden Powell) Tumbuh kembali semangat mengexplorasi, mengamati, mencatat, mendokumentasikan, menulis dan menggerakkan(?).
Ya, bagaimana pun, untung saja tidak terus berdiam di Jogjakarta
yang nyaman. Untunglah kami didekatkan dengan hal-hal yang sdh sejak lama dicita-citakan. Melihat keindahan Indonesia dan masyarakatnya dari dekat. Pelan-pelan kunikmati juga iramanya bagian barat Indonesia ini. Ya, belaian angin Laut Cina Selatan yang demikian berenergi mengusap kita langsung tanpa perantara yang kemudian bertemu dengan hembusan angin laut Jawa yang tenang dan berwibawa, serta angin daratan dari punggungan panjang Bukit Barisan tulang belakangnya Sumatra yang bertemu kawan-nya yang datang dari kontinen Kalimantan. Betapa energi-energi itu bersepakat bertemu di satu tempat di Kepulauan Bangka Belitung. Negeri dengan pantai-pantai yang indah seperti yang diceritakan menjadi tempatnya dewa-dewi kayangan, tempat bertemunya dewi bumi dan dewa laut. Tempat nelayan yang bersandar di dermaga Toboali atau Koba, atau kuli-kuli panggul dan Tardi, penjual bakso perantauan asal Wonogiri, yang bertahan hidup di pelabuhan Pangkalbalam berharap rezeki dan kesehatan dan atau berdo'a akan hasil laut yang menggembirakan atau jualan yang laris, agar derap "ekonomi mikro" dan pendidikan generasi berikutnya tetap terpelihara.
Meski saat ini bensin di SPBU cuma berdinas sampai jam 3 sore karena stok terbatas, meski truk-truk pengangkut kebutuhan pokok harus antri 24 jam untuk mendapatkan jatah solar, konon sayup2 terdengar bahwa solar lebih menguntungkan dijual ke Singapore, dan lalu ikan ketarap yg kita cuma boleh menikmati sup kepalanya krn daging badannya sdh juga ke negeri sebrang. Meski konon ada seorang Dewi Sandra atau Andrea Hirata yang mengangkat negeri ini untuk menjadi populer dan "diterima pasar". Meski sebenarnya bisa saja itu tidak penting, toh tanpa itu pun akhirnya "barang bagus" akan tersiar kabarnya juga, atau warung yang enak akan termasyur meski berada di gang-gang sempit. Soal waktu saja. Dan tidak baik kita mengkarbit durian petruk galur unggulan, karena hanya untuk memenuhi selera pasar, karena toh akan matang juga dengan citarasa yg tepat. Biar saja pantai-pantai itu menjadi pantai-pantai rakyat dengan warung kopi sederhana tanpa harus menjadi simbol menangnya pemilik modal, yg terpenting adalah bagaimana rakyat kita menjadi terdidik untuk membuang sampah pada tempatnya karena ini juga akan berarti rakyat kita sudah menaruh atensi ke lampu traffic light.
Empat hari bergerak dari Mentok, PangkalPinang, Sungai Liat, Koba dan Toboali dan beberapa bulan sebelumnya beberapa hari di Pulau Belitung, waktu yang sangat minimal untuk sebuah explorasi yang lengkap. Cuma harapku semoga aku telah benar memperoleh sari pati-mu. Ya, Bangka Belitung telah memikatku. Semoga satu hari nanti aku berkesempatan menjelajah lebih dalam, dengan seorang dua kawan, salah satunya harus motor trail-ku, yang akan kuajak berlayar lalu sejurus kemudian bersama menemui sudut2mu, lalu kita ukir bersama catatan-catatan kita untuk kita sampaikan kepada dunia dan sahabat-sahabat kita.


Read More......

Sunday, June 29, 2008

Masiyan

Catatan ini kebetulan saya baca pas lg buka2 catetan2 lama yg saya simpan di komunikator lethek saya disela-sela perjalanan ke Bangka. Ya, tempo hari kami diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk dapat menunaikan haji. Bagi saya haji adalah sebuah pembuktian teka-teki, soal segala rumor, gosip, isu, mitos dan prasangka yang beredar dan menggayuti pikiran calon peserta yang awam, termasuk juga saya. -Istilah prasangka saya kutip dari buku Psikologi Prasangka Orang Indonesia, Sarlito Wirawan- yg dipinjami oleh salah seorang kawan baik saya.
Sejak pertama saya berangkat saya selalu membayangkan atau menganalogikan haji dengan perjalanan2 atau penjelajahan2 lain sebelumnya yg sedikit banyak pernah kami alami. Standard operasional prosedur jelas, mulai dari jumlah hari, perbekalan, anggota tim, safety prosedur dlsb. Entahlah, khusus perjalanan haji ini ada sedikit yg aneh yg kami lakukan soal persiapan dan selanjutnya antisipasinya. Banyak hal yg sebelumnya benar-benar saya yakini soal standard perjalanan, misal soal perbekalan, dalam pelaksanaan karena melihat apa yang dilakukan orang2 di sekitar saya menjadikan saya gamang, dan selanjutnya saya "melanggar/melawan" banyak keyakinan2 dan prinsip2 saya. Akhirnya terbukti, bahwa kekaguman, keheranan, ketakjuban yang berlebihan terhadap object, situasi atau sesuatu hal satu saat dapat menyimpangkan "langkah2 logis" yang akan kita ambil.
Masiyan adalah sebuah bentuk peribadatan haji diantara sekian banyak cara, dimana si pilgrim melaksanakan movement yg dari Mekah ke Arofah dan selanjutnya kembali lagi ke Masjidil Harom untuk Thowaf dengan berjalan kaki, mungkin dari kata Masih, penjelajah. Kalo bahasa Jawanya mbambung, selama hari2 Haji seperti gelandangan krn tidur di tenda mandiri, bukan yg disediakan pemerintah. Ada yang menyatakan total perjalanan "cuma" 50 km, tapi saya percaya dengan Mas Garmin, GPS saya, di GPS total jalan kaki kami sekitar 70 sekian kilometer, kurang 30km-an saat kami longmarch dalam Pendidikan Dasar Wanadri, tahun 96 lalu. Hanya saja perjalanan ini diikuti oleh Ibu saya tercinta yg memang sudah mendambakan perjalanan ini sejak tahun-tahun sebelumnya dan istri saya tercinta. Dan usia Ibu saya tidak muda lagi, lebih dari 65 tahun. Sampai-sampai kami terpaksa menyiapkan sebuah kursi roda untuk antisipasi yang Alhamdulillah selanjutnya hanya termanfaatkan untuk membawa perbekalan yg minim, dan Ibu saya cukup kuat untuk menyelesaikan etape demi etape. Selanjutnya terbukti bahwa, kemauan dan niat yang kuat akan membantu kita survive, dimanapun kita berada.
Biar tidak terlalu rumit dan to the point, ini ada beberapa tips yg dapat diadop, (kusalin dari catatan perjalananku, sbg evaluasi atas apa yg telah kualami) :
MASIYAN Evaluasi/anjuran PALJAL Masiyan Haji :
1. 1-2 paket ransum TNI tergantung porsi makan
2. Kompor parafin krn gas dilarang di beberapa tempat + parafin 1 pack
3. Misting (untuk beregu) + alat makan
4. Pisau serbaguna untuk masak, potong tali, bikin tenda
5. Minuman kalori (mis : energen), kopi susu dll
6. Tissu gulung (2 roll)
7. Sandal gunung yang nyaman
8. Balsam aau analgesik cream yg tdk wangi untuk mencegah kram, boleh diganti jahe+minyak
9. Obat-obatan pribadi
10. Paselin kulit atau dpt diganti minyak komando yg murah meriah tapi baunya aduhai, pelicin sekitar selangkangan
11. Ransel kecil/daypack
12. Air minum untuk masak
13. Fly sheet
Bila kita menyempatkan membawa yg repot-repot seperti chek list di atas, tidak menggantungkan diri pada lingkungan (misal: beli aja toh banyak yg jualan), Insya Alloh kita nyaman di dalam ibadah kita tersebut. Secangkir kopi panas yg agak manis ditengah teriknya matahari yg menyinari padang Arofah, insya Alloh akan membantu membuat pikiran kemepyar, nyamannnn. Kalau kita mengandalkan membeli misalnya, maka bisa saja mental kita menjadi down melihat manusia demikian buanyak di sebuah padang yg lebar kawasannya tetap, bersaing dalam akses ke fasilitas2 umum, atau makanan yang dapat dibeli, dengan 2,5 juta manusia. Jadi repot di depan tidak mengapa asal di proses berikutnya nyaman, seperti semangatnya lagu lama Bang Roma.
Satu lagi yg kalo memang dibawa akan lebih baik adalah GPS,akan membantu menuntun kita bila tersesat. Dan sebagian besar kasus sesat adalah karena pligrim tidak melakukan orientasi medan dan pengenalan lingkungan atau sejak dari tanah air sudah terlalu mempercayai informasi Pak Kiyai bahwa di Mekah atau Madinah akan membuat orang mudah tersesat atau bahkan banyak kejadian2 aneh. Jadi,laksanakanlah ibadah haji dengan penuh "kesadaran" atas apa2 yang perlu dipersiapkan.

Read More......

Friday, June 6, 2008

Semoga menyesatkanmu

Semoga menyesatkanmu,
untuk sempat singgah di rumah seorang jagawana atau polisi hutan di desa torean kaki gunung rinjani. Lalu menyempatkan diri menjenguk ada apa di dapur rumahnya karena sepertinya memang tidak ada apa-apa disana untuk disuguhkan. Aku berharap tangan2 dinginmu segera mengambil inisiatif membuka sisa bekal perjalanan kita. Kopi, teh, gula, biskuit, ikan asin atau sardin. Agar sejenak kemudian akan terhidang di hadapan kita makan pagi yang cukup standar bagi kita orang kota, tetapi hidangan pesta bagi keluarga mereka. Sebelum bila matahari mulai meninggi dan kita beranjak dari rumah itu, menuju pangkalan ojek yang membawa kita ke peradaban. Semalaman mimpi kita diayunkan di balai-balai dingin, yang dihangatkan dengan persahabatan dan aura alam raya.
Semoga menyesatkanmu,
untuk sempat singgah di warung wedi ombo. Permulaan jalan setapak yang mengantarkan kita ke tebing-tebing karang. Lalu semalaman kita bergelut dengan dingin malam sambil mencoba peruntungan kail-kail yang kita pasang di tebing-tebing lemah abang. Menunggu ikan-ikan yang tersesat menyongsong umpan-umpan kita, lalu kita akan berpeluh dan bersitegang agar buruan dapat kita amankan. Paginya akan kita susuri kembali jalan setapak, lalu singgah di warung itu. Lalu kita akan belajar bagaimana rakyat kita bertahan hidup, di tengah kekurangan air, minimnya modal memilih sebuah usaha,dan alam yang keras. Dan disana kita mulai mempercayai kebenaran sebuah firman yang bercerita tentang burung-burung. Gorengan dengan minyak jelantah dan secangkir kopi yang biji-bijinya tertumbuk kasar, memberikan cafein yang memompa darah ke otak kita dengan lancar, lalu otak kita menerawang jauh menembus ruang dan waktu, menemui masa-masa terbaik kita.
Semoga ini menyesatkanmu,
sebuah jalan setapak yang berdebu, yang mengantarkan kita kepada keluarga seorang pemburu tulen di kaki bukit tunggul. Seorang buruh penggarap kebun sayur yang handal. Mungkin kami tidak akan bertemu lagi, tetapi kata hercules dalam sebuah film, sebagian dari dirinya akan terus hidup. Semoga saja hari ini jauh lebih baik dari 10 tahun lalu. Singgahlah langsung ke dapur, di sudut paling kanan ada tempat air dan disebelahnya ada tungku dan sebelahnya lagi ada semacam meja atau lemari. Taruh saja kopi, gula, teh, ikan asin dan beras di sana. Kita berharap siang itu akan menjadi hari yang menyenangkan, sambil mengenangkan pengalaman pahit di masa lalu, 10 tahun yang telah lewat. Saat badai krisis moneter memporak-porandakan keceriaan kampung ini. Dan kita cuma punya kopi encer untuk dinikmati warga kampung itu serta sebungkus rokok kretek, ya cuma itu yang kita punya kala itu. Siang ini seharusnya berbeda, aroma kopi yang kita bawa dari kota, yang dipanen petani dari bukit-gunung di flores, aceh, bengkulu, sidikalang, kalimantan atau toraja. Aroma kopi dari tempat-tempat terbaik di tanah air itu biarlah bertemu aura bukit tunggul. Jangan kawatir, dinginnya geger sunten dan kebun kina akan memberikan kekuatan, seperti para highlander.
Semoga membantu menyesatkanmu,
puisi-puisi terbaik yang menghembuskan angin kekuatan untuk bertahan hidup, atau lagu-lagu yang menyanyikan kemanusiaan dan alam tanpa harus terdengar menggurui. Atau petuah-petuah para pengembara, pemburu praire, penjelajah sudut-sudut dunia yang kata-kata dalam kalimatnya tentu timbul dari pengalaman hidup, pahit dan manisnya, yang terceritakan dari gurat-gurat wajahnya, ya ini racun empedu yang mengaktifkan imun kita.
Dan kalaupun sesekali berbicara soal cinta, mestinya dia menjadi sesuatu yang mengalir saja seperti angin gunung yang membawa daun2 jatuh di tepian hutan dan tidak cengeng diucapkan, biarlah sederhana saja, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu. Atau seperti kata yang tak sempat diucapkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Ya, semoga membantu menyesatkanmu.

Read More......

Friday, February 22, 2008

Situ Lembang, Cicaruk, 19 Januari 2008


Malam cukup larut saat mesin beroda four wheel drive buatan tanah Britania Raya menguak kegelapan jalan makadam
berbatu dari pintu gerbang Komando, Cisarua, kabupaten Cimahi sisi utara itu. Masih cukup jelas meski samar-samar
Burangrang yang terlihat sangat gagah malam itu, meski kaki-kakimu sudah tak seperti dulu lagi. Malam itu dikakinya bertebaran cahaya lampu yang terpendar dari rumah-rumah warga atau bahkan villa-villa para juragan. Bau pupuk kandang bercampur dengan debu jalanan yang sesekali terisap masuk ke kabin masih seperti tahun-tahun yang lampau.
Lewat batas hutan, masih kuingat, setelah kemelut 98 kawasan ini telah berubah menjadi ladang penduduk dari hutan
semak belukar.

Dalam hatiku kala itu, sepertinya tinggal tunggu waktu menjadi kawasan hunian villa seperti
kejadian-kejadian yg sudah-sudah. Alhamdulillah malam itu kusyukuri, justru bahwa ladang penduduk telah berubah
menjadi hutan belukar kembali disela-sela pinus reboisasi tampaknya. Aroma dan aura alam raya belantara yang entah
sukar kudeskripsikan, masih sempat kuhirup dalam-dalam dari arah luar jendela. Selanjutnya masih seperti dulu, orang umum dilarang masuk, daerah latihan peluru tajam, lalu lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas.
Mobil diparkir di dekat barak yang malam itu salah satunya menjadi posko panitia. Perjalanan lanjut dengan jalan
kaki melewati jalan setapak. Ya. Ya, aroma humus, kayu atau daun-daun yang basah oleh embun yang kami hirup malam
itu seperti aliran listrik yang masuk dan menambah kekuatan para Highlander. Api unggun yang sesekali membara di
dekat tenda kami adalah energi yang luar biasa bagi phisik & psikis kami yang cukup lama nyaman di jalur normal.
Secangkir kopi untuk kehangatan bersama beberapa dari kami, sensasi the real Indonesia, sebagaimana kisah2
perjalanan dalam waktu2 terbaik kami. Hutan belantara di sekitar kami adalah sahabat lama yang selalu menerima kami just the way we are. Malam itu disekeliling api unggun ada saudara-saudara kami Darmanto, Pentil, Abah, Kang Darjat, lalu Mas Sono. Setengah dua malam sebelum forum seputar api unggun ditutup resmi, saya sudah undur diri tidur di sleeping bag pinjaman, beralaskan matras yang masih juga pinjaman, untuk persiapan tenaga dalam upacara besok pagi. Saya tidur diluar tenda, saya masih percaya bahwa dengan menghirup sedalam-dalamnya aura dan aroma pepohonan, semak belukar dan rimba raya akan memberikan manfaat positif, dan mungkin membantu memperpanjang umur dan manfaat kita berada di alam raya ini. Deskripsi yang terlalu rumit atau justru terlalu sederhana. Ya, malam itu saya berada di tempat dimana saya pernah menemukan waktu-waktu dan saat-saat terbaik saya.
"Mengapa anak-anak yang di rumah tidak merasakan hidup yang seperti ini?" (lord badden powell)

Read More......

Thursday, January 24, 2008

Melawat ke negeri gajah putih

Waktu aku kecil ada sebuah pepatah yang sampai hari ini masih kuingat. "Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang". Tidak ada pikiran atau referensi untuk membantah atau membenarkan pepatah itu, apalagi sambil menduga-duga sebab musabab dari munculnya sebuah pepatah. Seingatku juga waktu itu di layar televisi sering muncul film-film perjuangan kemerdekaan, perwira ksatria, atau edisi londo-nya serial combat, lalu yang agak baru tour of duty. Di seputar tugumuda Semarang masih diperingati pertempuran 5 hari di semarang dengan dentuman-dentumannya, dan pawai 17an di jalan-jalan protokol kota adalah atraksi ya dinanti-nanti.
PSSI digdaya lalu berjaya di Subgrup 3 Asia untuk piala dunia dan pernah juara Sea Games, meski pernah dicukur Arab Saudi 8-0, tapi kami PSSI adalah kebanggan kami. Nama-nama pahlawan hijau kami masih kuingat, Rulli Nere, Ronny Patti Nassarani, Dede Sulaiman, Ajat Sudrajat, Hermansyah, Bambang Nurdiansyah, Marzuki Nya'mat. Sampai-sampai saat kami bertemu dengan orang Bangladesh di negeri orang yang kuingat adalah 'pertempuran' PSSI lawan Bangladesh dimana secara agregat kita menang. Kemudian petaka datang ketika merah putih dilibas 4-0 dan 2-1 di Senayan oleh ras kuning dari negeri ginseng lalu kita tidak lolos ke piala dunia, tanpa terasa air mata menetes. Ya kala itu Korealah yang mengalahkan kita, tidak Thailand, Myanmar apalagi Vietnam. Negeri kami pernah berswasembada beras dan bayang-bayang bahwa Vietnam, Kamboja masih tercium bau mesiu perang sekali-sekali mampir ke indera kami. Kami lumbung beras, bukan Thailand.Lalu terasa musim berganti,kemarau kami makin panjang dan bila hujan datang justru padi di sawah jadi rusak karena banjir. Kami dengar gula, kedelai dan beras telah diimpor. Sedikit kuingat kami pernah sepakat bahwa kami kenyang dulu, baru kami bicara teknologi, kami swasembada pangan dulu, baru mengembara di dunia maya. Tapi kesepakatan itu telah lewat bersama lalunya angin pancaroba, yang konon membawa batuk, mengguk atau influensa. Tapi kami masih mengeksport pasir laut, TKW, minyak industri dan tentu minyak CPO. Sentimen masa jaya sempat dibangkitkan dengan menanam jarak yang kemudian segera mati suri.
Suatu hari yang cerah setelah panjangnya masa recovery gempa Jogja kami melawat ke Thailand atau negeri gajah putih, melalui pintu Swarna Bhumi. Satu perjalanan kami melewati kantor negara pengelolaan Satelit yg mencolok sekali dijaga militer loreng-loreng. Setelah kudeta tak berdarah oleh tentara itu, konon asset2 negara yang telah dijual ke asing semasa Taksin diusahakan dinasionalisasi kembali. Disepanjang jalan dominan mobil dobel cabin. Aroma pertanian, perkebunan atau kehutanan sangat kental. Agrikultur yang kita pilih tinggalkan di persimpangan jalan, ternyata adalah anugrah yang diyakini dipelihara oleh Thailand. Wajar sekali bila satu saat di tanah arab kami temui beras berlabel "Raja Lili (bukan raja lele)Pandan Wangi", tapi bukan dari Klaten, Salatiga, Cianjur atau Belitang, tapi dari sebuah tempat di sudut Thailand. Pertanian adalah denyut nadi. Sang Raja memang sejak awal bersama rakyat sudah bersepakat sama-sama kenyang, dan komitmen dan konsitensi yang seperti itulah yang rupanya membuat negeri ini bertenaga. Petani adalah 'orang penting', dan pertanian telah menjadi roh bangsa ini dan membangkitkan patriotisme. Pernah kita sama-sama tercebur di dalam kubangan zaman, tapi mental, moral, dan spriritual yang tampaknya kuat menolong menemukan jalan keluar. Mereka terus mengekspor beras, candu, buah-buahan dan selanjutnya memenangkan sepakbola. Disaat nasionalisme, patriotime justru sudah terasing di negara kami. Dan sebagian besar asset bangsa telah diperdagangkan terasa atau tidak terasa, karena kita memilih yang serba bule, termasuk bangga bila telah listing di pasar saham. Beberapa hari lalu di tanah air Indonesia seorang provost dari sebuah satuan tentara di sebuah jalan menyetop kami dengan ragu-ragu, saat itu Merah Putih sedang naik.

Read More......

Thursday, October 4, 2007

Yang tercecer dari lawatan ke sebagian kepulauan Riau





Kalau toh sempat nongkrong sejenak di Singapore pada hari itu, tanpa bermaksud mengecilkan artinya, istimewa bahwa hari berikutnya tercatat oleh sejarahku sendiri bahwa aku melakukan perjalanan ke beberapa bagian dari kepulauan riau, sebuah tekateki yang akhirnya terjawab setelah melewati lorong waktu yang cukup panjang.
Oh tanah air Indonesia, aku merasa selalu jatuh cinta dengan pulau-pulaumu, temtu juga pada kepulauan riau ini sejak pandangan pertama saat titik-titik kecil mulai terintip di jendela pesawat yang kutumpangi. Siang itu saat di Batam tertangkap berita, bahwa pesawat nomad TNI AL yang jatuh 20 tahun lalu ditemukan
tanpa disengaja oleh nelayan di sekitar pulau Mapur. Diantar oleh kawan Agung dari Batam sampai pelabuhan Punggur, yang kira2 setengah jam perjalanan, lalu kontak-kontak by phone ke kawan yang di AL Tanjung Pinang. Lalu perjalanan diteruskan ke Tanjungpinang jalur laut, sepanjang kira-kira satu jam perjalanan terhamparlah lautan yang di berbagai sisinya muncul ke permukaan, pulau-pulaumu.
Kalo ingat perjalanan hidup, saat dulu berkereta api ekonomi semasa libur kuliah via Jogjakarta, selalu terngiang dalam pikiranku "soal waktu-waktu terbaik sebagai seorang pemuda (mengutip kalimat Lord Badden Powell)" untuk menyempatkan diri menjelajahi gunung dan pegunungan yang nampak di kanan kiri lintasan kereta api, lalu mengenal masyarakatnya. Pagi hari, akan nampak pemandangan yang misty, saat kabut masih menggantung di pepohonan tepi hutan atau sawah, sesaat sebelum diusik oleh matahari yang kuat. Semisal itulah aku memandangi pulau-pulaumu, semoga Tuhan memberikan waktu buat kami mendatangi pulau-pulaumu dan mengenal masyarakatnya.
Kabin kapal yang kami tumpangi ber AC, jauh lebih nyaman dari saat kami menyeberangi selat lombok atau selat bali beberapa tahun yang silam. Pelan-pelan kapal kami mendekati pelabuhan Batu Ampar Tanjung Pinang, untuk lalu bergegas setengah jam perjalanan darat ke Posko Evakuasi TNI AL di Kawal lalu ke Pos tempat pasukan dan penyelam menginap, sekitar satu setengah kilometer dari bibir pantai ke tengah laut mendekati pulau Mapur. Sore hari kupandangi lautan yang biru, yang selalu kupercaya menghubungkan bangsa-bangsa itu. Malam itu bersama kawan-kawan dari AL kami menikmati special menu gule ikan dan gonggong, konon ini endemik di kepulauan riau saja (belakangan kuketahui bahwa di Pulau Belitung prov Babel juga banyak terdapat gonggong ini).
Ya, sedemikian kuat sihirnya, sehingga saat kutinggalkan Batu Ampar dan pulau Penyengat di kanan kapal kami seperti ada sedih di dada, tapi laki-laki harus dapat menyembunyikan perasaannya (demikian kata2 Chinggachgook ketua suku Mohawk). Sesaat sebelum kami meninggalkan Batam untuk transit ke Jakarta, masih sempat kulihat peta, masih ada tanjung balai, singkep, natuna, pulau tujuh dll.

Read More......

Monday, June 25, 2007

Melawat ke Singapura


Beberapa waktu lalu yang baru lalu saya berkesempatan melawat ke Singapura, negeri kecil atau negara pulau yang mungkin bagi sebagian kita tidaklah asing -nasi sayur lah-. Tapi bagi saya hal ini sama sekali baru. Kalo ngebayangin Singapore, selalu teringat iklan di TV "siang ini saya di singapore, sore kembali ke Jakarta," atau adegan2 di sinetron yang sangat digemari remaja putri dan ibu Indonesia itu, "Farel, kamu beli kaos oblong di Kuala lumpur ya? Kalo aku beli di Singapore." Kira-kira demikian reka-reka soal Singapore.
Pukul 8 Pagi, dalam cuaca yang teduh karena matahari belum muncul juga, saya berangkat bersama kawan yang dari Purwokerto dan Pekalongan yang sama-sama nol puthul soal negri yang ngeyelan tapi menangan itu, dengan ferry dari pelabuhan Batu Ampar, Batam.
Sepanjang jalan nampak banyak kapal dari berbagai ukuran dan warna, mengingatkan masa kecil waktu suka ngikut ayah saya yang kebetulan kerja di pelabuhan Tanjung Emas Semarang, -pelabuhan internasional yang diresmikan Soeharto pada tahun 80-an-, dimana kadang kami memancing, atau sekedar merenungkan bahwa lautan yang dihadapan kami selalu menghubungkan bangsa-bangsa dengan dunia luarnya.
Dari handphone kudengarkan lagu Pak Ebiet, Bang Iwan Fals, dan Abah Iwan yang memang kujadikan satu folder lagu indo dan dimainkan oleh program secara acak. Perjalanan yang kira-kira cuma satu jam dalam ruangan ber AC, dalam situasi yang lebih "nyaman" dan modern.
Tapi bukan berarti lantas akan menggusur ingatanku pada tahun-tahun lalu saat kami duduk2 berjejer di deck kapal ferry dalam 4 jam penyeberangan Selat Lombok dari pelabuhan Lembar, Bali ke Padang Bai, Lombok, dengan belaian langsung angin lautan dan sesekali karbonmonoksida keluaran cerobong kapal dan cuma bincang-bincang lah hiburan kami.
Lalu sekitar 2/3 dari perjalanan sebelum Harbour Front Bay, sebuah rangkaian kapal menarik perhatianku, semacam tongkang yang berbentuk segi empat yang cukup besar, dengan muatan yang tak dapat kurekam dengan kamera besar gara-gara batre drop, tapi cuma dari kamera HP 1.2 Megapixel saja. Ditarik oleh kapal yang jauh lebih kecil, setidaknya perbandingan ukuran benda yang ditarik dan yang menarik.
Ya eksport pasir, tanah atau batu2an ke negeri yang haus daratan itu jalan teruusss. Kalau mereka seorang atlet yang sedang mempersiapkan diri buat olimpiade, kita cukup setia menjadi pemasok minumannya, karena air minum di kami murah, setidaknya sampai saat ini. Karena pulau-pulau kami buanyak, jangan kawatir, 17000 pulau, hilang 1 masih 16999, malah bagus, bukankah banderol harga di Mall angka belakangnya selalu 99.
Saat mataku mengamati dan otakku mengotak-atik kejadian ini, ditelingaku mengalun sebuah lagu mars, yang terdengar keras dan kelupaan kukeluarkan dari playlist :
...panji buana- bagi nusa dan bangsa- pengawal tujuan kita- membela keadilan- siap siaga waspada- majulah maju.... majulah maju serentak, bhayangkari negara....
Sentimenku soal nasionalisme bercampur aduk kacau balau diterpa kenyataan, bahwa komitmen-aturan-idealisme kadang hanya dapat digambarkan hitam putihnya di atas meja lalu dialirkan ke jalan-jalan lewat demonstrasi atau dilempar ke publik lewat media. Sementara kenyataan hidup, baik bisnis, lalu lintas orang dan barang, trend, konsumerisme, jauh lebih lebih kompleks melampaui kanal-kanal hitam putih yang dibuat itu, dan bahkan tidak mempermasalahkan apalagi peduli soal itu.
Lima belas menit kemudian kapal kami merapat di pelabuhan Harbour Front, ada kereta gantung dan kemudian pemeriksaan paspor. Lalu biar nggak terlalu "rugi" sudah bayar fiskal kami mengeksplorasi lagi beberapa perhentian. Tak ada preman, tak ada warung kopi atau angkringan, tak ada sawah di kiri kanan jalur kereta.

Read More......

Thursday, May 3, 2007

Wacana

At Sun, 15 Jun 2003 20:11:10 +0700, I wrote :
Senang sekali saya membaca beritamu ini. Senang sekali dapat mengetahui bahwa seorang kawan berhasil menemui mimpinya (kalau benar itu mimpimu, nek ra kliru). Semoga Alloh memberikan keamanan, keselamatan, kelancaran, kebarokahan. Aku baru dateng, solat, langsung buka internet. Aku baru dateng dari kerja 'kerjaan sambilanku' sejak hari jum'at lalu. Di rumah seorang kepala dukuh di lereng g. merapi. Aku sekarang dalam pergerakan mencapai salah satu 'mimpiku'. Aku dkk sekarang mengelola pelatihan outward bound, proyek2 high risk telekomunikasi dan minyak, explorasi pendataan potensi daerah, cafe buat komunitas alam terbuka dan offroader. Mudah2an sebentar lagi bengkel pencucian mobil offroad/jip segera berdiri juga. Alhamdulillah clients pelatihan/wisata sudah didapat. Rasanya seneng sekali dapet duit dari 'kerja bener'. Dapet duit dari nilai tambah sebuah hobi. Disitu dapat merasakan dinamika merintis, menjalankan, membesarkan sbh perusahaan atau malah idealisme. Memulai bisnis ini dari kondisi tersulit dan mengatasinya. Sambil tetap dapat menikmati secangkir kopi, harumnya rumput basah, kesederhanaan pelosok2 desa, indahnya alam raya, derasnya arus sungai, atau pulau2 terpencil. Alhamdulillah juga barusan sudah ada permintaan pelatihan buat pengusaha2 muda. Mungkin bisa meracuni/menularkan prinsip2 hidup yg benar menurutku dan kuyakini. Biar mereka dapat menikmati kesederhanaan desa, keindahan alam raya dan penciptanya. Setelah itu aku berharap mereka dapat memegang teguh prinsip di kota, di tengah beredarnya narkoba, ngetrendnya pacaran dan hewes2, gemerlapnya mall, digemarinya sinetron, kuatnya individualime/keluargaisme. Bila cuma segelas kopi saja dapat membuat bersyukur, apalagi kenikmatan2 yang lebih yg telah diberikan yg maha kuasa. D o'akan saja aku sukses. Segitu dulu wae, kakehan nanti mules.
(he he, idealisme dan keyakinan yang meluap-luap kala itu ternyata tidak cukup untuk membuat sebuah bisnis yang survive, aku inget kata2ne seorang penulis tentang Sioux :"Betapapun kegagahan bangsa Sioux, kecerdikan Crazy Horse dan si Empedu mempesona, mereka harus menyerah pada kenyataan. Masuk ke kamp Reservasi. Banyak hal yang tidak dapat mereka hadapi hanya dengan kegagahan.")

Read More......

Wednesday, May 2, 2007

Ketika londo bule menjelajah

At Thu, 08 May 2003 16:07:05 +0700, I wrote :
Satu pagi yang agak remang2, jam setengah sembilanan seperti sering terjadi aku baru berangkat ngantor. Dengan motor pinjeman karena landrover lagi opname, kutempuh perjalanan ke pinggiran Jogjakarta. Di satu ruas jalan, rreeenggmm..sebuah motor enduro menyalipku dengan kecepatan cukup tinggi. Dari belakang sekilas kuamati kelengkapan motor&pengendaranya. Motor enduro itu lengkap sekali, ada tas di kanan kiri dan di depan belakang lebih dari yang pak pos pakai. Spion lengkap standard 'berdo'a' kata orang Jogja. Kukejar dia. Pada lampu merah yang kuharapkan, kutemukan dia. Pantasan, bule dia. Pantasan dia mau pake helm standard, pakaian motor standard, spion standard. Sebagai orang ireng coklat pelan2 mulai malu aku. Inget di negara ini bahkan waktu pak pulisi mau terapken itu helm 'standard', didebat sanasini disuruh terangken 'undang2 atau standard helm standard, definisi helm standard dll' meski bila bener2 diterangken apa itu helm standard bakal terus didebat. Ono wae alasane, asu tenan kata Semarangan. Malu aku, karena kaca spion di motor yang kupake kecil banget, sekecil pen** rata2 orang Indonesia (untung punyaku diatas rata2 he he). Pandangan si bule lurus ke depan, seperti angkuh memang. Seperti tak digubrisnya orang2 disekitar yang memperhatikannya. Sebentar kemudian lampu hijau menyala. rreeenggmm...BERSAMBUNG
At Thu, 22 May 2003 12:39:46 +0700 :
Sambungan suratku kepadamu waktu itu. Ya, dengan spion sekecil itu cuma memenuhi fungsi penampilan, asal terlihat polisi ada spion. Kultur ini ternyata kuat, dari kakek2 sampai anak2 muda, mahasiswa, bakul blanjan dll. Kultur penampilan, ABS, warisan jajahan.Si bule melaju dengan kecepatan 80an km/jam. Lama2 terkejar dia olehku. Rupanya dia tahu tengah kukejar. Sekitar 200 meter lagi kantorku, si bule telah disebelah, kuklakson. Tit..tit...Diacungkannya jempol tangan kirinya. Kubalas dengan lambaian tanganku. Ucap salamku untuk sudut2 tanah airku yang kau jelajahi. Untuk jiwa pengembaraanmu yang melintasi jalan2, budaya, masyarakat, alam raya negeriku. Kamu mungkin tidak mengenal Imam Syafi'i, yg berkata,"Mengembaralah, karena mengembara itu ada hikmahnya". Tapi kamu menikmatinya. Dengan melihat negeri ini dari dekat kamu bahkan semakin tahu bahwa benar negeri 'beradab' ini terkorup di dunia. Satu saat petani ditarik pajak, saat yg lebih lama jalan2 desanya tak kunjung diaspal. Uang aspal tengah dinikmati petugas2 korup dan keluarganya. Kamu tentu melewati sekolahan, yang mana hanya karena masalah dana tujuan pendidikan & pengajaran tidak tercapai. Ya, karena uang negara untuk mereka sudah jadi sertifikat tanah, rumah, deposito, tabungan kekayaan pribadi2 yg 'tidak berhak'. Ato justru sebelum sampe ke negara. Kupakai tanda kutip '...' karena ada yang merasa itu hak mereka, asalkan beberapa persen untuk membangun masjid, bersedekah, berangkat haji, menyenangkan keluarga. Umat beragamanya membenci sekulerisme, tapi pada prakteknya berlawanan, mereka pilih2 hukum yg menyenangkan. Di pelosok2 desa kami, kamu mungkin sulit menemukan anak2 kota 'nongkrong', itulah mengapa film2 Discovery, dokumenter, film pengetahuan di negeriku ini malah Londo yang bikin, rekoso soalnya. Bangsaku cukup bikin sinetron, yang digemari, dihayati & diidolakan ibu2 dan remaja putri. Atau beli meteor garden yang temtu digemari muda mudi kita. Pergerakan mereka terbatas ke play station, ke Mall atau nyambangi kost2 putri (atau nyambangin ibu kost?),"buku ini aku pinjam", katanya merayu. Ya, kota memang menjanjikan segala kesenangan meskipun dengan demikian siklus hidup jadi sangat pendek. Sekolah-kerja-kawin-manak-mati. Ada kalanya aktif dalam kegiatan keagamaan lalu merasa pol, tapi tidak tergerak oleh kesulitan2 saudaranya.
Che Guevara pernah berkata, "Kalau hatimu tergetar melihat penderitaan, maka engkau adalah kawanku." Kalo dipas2ke sebuah hadist ya, "Belum dikatakan iman, bila belum mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri." Kongkritnya tentu bukan mbuh raruh, wis ben pokoke keluargaku nyaman. Si Bule sangat berhak menjajah & menguasai peradaban, dengan segala hasrat bertualangnya, dengan keuletannya mengelola & menempuh kesulitan dalam perjalanan, dengan kemauan sesekali keluar dari garis normal, dengan kemauan memahami & melihat lingkungannya. Sementara bangsa kami hanya mengeluh atas penguasaan Bule pada peradaban. Ya, mungkin memang kita berbeda. Bisa Saja BERSAMBUNG.

Read More......