Friday, February 22, 2008

Situ Lembang, Cicaruk, 19 Januari 2008


Malam cukup larut saat mesin beroda four wheel drive buatan tanah Britania Raya menguak kegelapan jalan makadam
berbatu dari pintu gerbang Komando, Cisarua, kabupaten Cimahi sisi utara itu. Masih cukup jelas meski samar-samar
Burangrang yang terlihat sangat gagah malam itu, meski kaki-kakimu sudah tak seperti dulu lagi. Malam itu dikakinya bertebaran cahaya lampu yang terpendar dari rumah-rumah warga atau bahkan villa-villa para juragan. Bau pupuk kandang bercampur dengan debu jalanan yang sesekali terisap masuk ke kabin masih seperti tahun-tahun yang lampau.
Lewat batas hutan, masih kuingat, setelah kemelut 98 kawasan ini telah berubah menjadi ladang penduduk dari hutan
semak belukar.

Dalam hatiku kala itu, sepertinya tinggal tunggu waktu menjadi kawasan hunian villa seperti
kejadian-kejadian yg sudah-sudah. Alhamdulillah malam itu kusyukuri, justru bahwa ladang penduduk telah berubah
menjadi hutan belukar kembali disela-sela pinus reboisasi tampaknya. Aroma dan aura alam raya belantara yang entah
sukar kudeskripsikan, masih sempat kuhirup dalam-dalam dari arah luar jendela. Selanjutnya masih seperti dulu, orang umum dilarang masuk, daerah latihan peluru tajam, lalu lebih baik pulang nama daripada gagal dalam tugas.
Mobil diparkir di dekat barak yang malam itu salah satunya menjadi posko panitia. Perjalanan lanjut dengan jalan
kaki melewati jalan setapak. Ya. Ya, aroma humus, kayu atau daun-daun yang basah oleh embun yang kami hirup malam
itu seperti aliran listrik yang masuk dan menambah kekuatan para Highlander. Api unggun yang sesekali membara di
dekat tenda kami adalah energi yang luar biasa bagi phisik & psikis kami yang cukup lama nyaman di jalur normal.
Secangkir kopi untuk kehangatan bersama beberapa dari kami, sensasi the real Indonesia, sebagaimana kisah2
perjalanan dalam waktu2 terbaik kami. Hutan belantara di sekitar kami adalah sahabat lama yang selalu menerima kami just the way we are. Malam itu disekeliling api unggun ada saudara-saudara kami Darmanto, Pentil, Abah, Kang Darjat, lalu Mas Sono. Setengah dua malam sebelum forum seputar api unggun ditutup resmi, saya sudah undur diri tidur di sleeping bag pinjaman, beralaskan matras yang masih juga pinjaman, untuk persiapan tenaga dalam upacara besok pagi. Saya tidur diluar tenda, saya masih percaya bahwa dengan menghirup sedalam-dalamnya aura dan aroma pepohonan, semak belukar dan rimba raya akan memberikan manfaat positif, dan mungkin membantu memperpanjang umur dan manfaat kita berada di alam raya ini. Deskripsi yang terlalu rumit atau justru terlalu sederhana. Ya, malam itu saya berada di tempat dimana saya pernah menemukan waktu-waktu dan saat-saat terbaik saya.
"Mengapa anak-anak yang di rumah tidak merasakan hidup yang seperti ini?" (lord badden powell)

Read More......

Thursday, January 24, 2008

Melawat ke negeri gajah putih

Waktu aku kecil ada sebuah pepatah yang sampai hari ini masih kuingat. "Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang". Tidak ada pikiran atau referensi untuk membantah atau membenarkan pepatah itu, apalagi sambil menduga-duga sebab musabab dari munculnya sebuah pepatah. Seingatku juga waktu itu di layar televisi sering muncul film-film perjuangan kemerdekaan, perwira ksatria, atau edisi londo-nya serial combat, lalu yang agak baru tour of duty. Di seputar tugumuda Semarang masih diperingati pertempuran 5 hari di semarang dengan dentuman-dentumannya, dan pawai 17an di jalan-jalan protokol kota adalah atraksi ya dinanti-nanti.
PSSI digdaya lalu berjaya di Subgrup 3 Asia untuk piala dunia dan pernah juara Sea Games, meski pernah dicukur Arab Saudi 8-0, tapi kami PSSI adalah kebanggan kami. Nama-nama pahlawan hijau kami masih kuingat, Rulli Nere, Ronny Patti Nassarani, Dede Sulaiman, Ajat Sudrajat, Hermansyah, Bambang Nurdiansyah, Marzuki Nya'mat. Sampai-sampai saat kami bertemu dengan orang Bangladesh di negeri orang yang kuingat adalah 'pertempuran' PSSI lawan Bangladesh dimana secara agregat kita menang. Kemudian petaka datang ketika merah putih dilibas 4-0 dan 2-1 di Senayan oleh ras kuning dari negeri ginseng lalu kita tidak lolos ke piala dunia, tanpa terasa air mata menetes. Ya kala itu Korealah yang mengalahkan kita, tidak Thailand, Myanmar apalagi Vietnam. Negeri kami pernah berswasembada beras dan bayang-bayang bahwa Vietnam, Kamboja masih tercium bau mesiu perang sekali-sekali mampir ke indera kami. Kami lumbung beras, bukan Thailand.Lalu terasa musim berganti,kemarau kami makin panjang dan bila hujan datang justru padi di sawah jadi rusak karena banjir. Kami dengar gula, kedelai dan beras telah diimpor. Sedikit kuingat kami pernah sepakat bahwa kami kenyang dulu, baru kami bicara teknologi, kami swasembada pangan dulu, baru mengembara di dunia maya. Tapi kesepakatan itu telah lewat bersama lalunya angin pancaroba, yang konon membawa batuk, mengguk atau influensa. Tapi kami masih mengeksport pasir laut, TKW, minyak industri dan tentu minyak CPO. Sentimen masa jaya sempat dibangkitkan dengan menanam jarak yang kemudian segera mati suri.
Suatu hari yang cerah setelah panjangnya masa recovery gempa Jogja kami melawat ke Thailand atau negeri gajah putih, melalui pintu Swarna Bhumi. Satu perjalanan kami melewati kantor negara pengelolaan Satelit yg mencolok sekali dijaga militer loreng-loreng. Setelah kudeta tak berdarah oleh tentara itu, konon asset2 negara yang telah dijual ke asing semasa Taksin diusahakan dinasionalisasi kembali. Disepanjang jalan dominan mobil dobel cabin. Aroma pertanian, perkebunan atau kehutanan sangat kental. Agrikultur yang kita pilih tinggalkan di persimpangan jalan, ternyata adalah anugrah yang diyakini dipelihara oleh Thailand. Wajar sekali bila satu saat di tanah arab kami temui beras berlabel "Raja Lili (bukan raja lele)Pandan Wangi", tapi bukan dari Klaten, Salatiga, Cianjur atau Belitang, tapi dari sebuah tempat di sudut Thailand. Pertanian adalah denyut nadi. Sang Raja memang sejak awal bersama rakyat sudah bersepakat sama-sama kenyang, dan komitmen dan konsitensi yang seperti itulah yang rupanya membuat negeri ini bertenaga. Petani adalah 'orang penting', dan pertanian telah menjadi roh bangsa ini dan membangkitkan patriotisme. Pernah kita sama-sama tercebur di dalam kubangan zaman, tapi mental, moral, dan spriritual yang tampaknya kuat menolong menemukan jalan keluar. Mereka terus mengekspor beras, candu, buah-buahan dan selanjutnya memenangkan sepakbola. Disaat nasionalisme, patriotime justru sudah terasing di negara kami. Dan sebagian besar asset bangsa telah diperdagangkan terasa atau tidak terasa, karena kita memilih yang serba bule, termasuk bangga bila telah listing di pasar saham. Beberapa hari lalu di tanah air Indonesia seorang provost dari sebuah satuan tentara di sebuah jalan menyetop kami dengan ragu-ragu, saat itu Merah Putih sedang naik.

Read More......

Sunday, November 11, 2007

dewa dan prajurit


(judul ini mengutip judul di selingan majalah tempo tahun 90an, tapi isinya ndak ngutip)
sewaktu aku masih kecil, sebuah kenangan yang manis ketika saat kartini-an pa'e membelikanku baju tentara. Warna hijau lengkap dengan pangkat-pangkatnya. Maklum tahun-tahun sebelumnya keinginan seperti itu cuma jadi keinginan lantaran bapak belum bersedia (sempat/mampu?) membelikanku. Tak kuingat lagi rengekan jenis apa yang akhirnya membuat bapak luluh juga membelikan baju itu. Saking senangnya baru sebentar baju & aksesorisnya sudah rusak, dan temtu tidak dapat kupakai lagi buat kartinian berikutnya. Tapi waktu kecil itu ingin sekali rasanya benar-benar jadi tentara.Lalu beranjak lulus SMA, entah mengapa justru bapak kurang setuju aku masuk atau ndaftar sekolah atau pendidikan kemiliteran. Kala itu aku inget pengin sekali jadi penerbang transport atau military airlift, nyupiri hercules. .

Pernah aku lontarkan keinginan masuk ikatan dinas pendek (IDP) TNI AU, lagi-lagi bapak tidak sepakat, tapi bapak sepakat kalau ndaftar akademi kepolisian. Sebagai seorang anak, aku belum cukup peka keinginan bapak yang sepertinya sangat bijaksana dan berlandaskan "prospek ekonomi" yang wajar. Mimpi menjadi penerbang tempur ataupun transport tidak pernah diuji, tapi pada tahun itu juga kubuktikan bahwa aku telah berhasil menembus saringan menjadi penerbang sipil, meski kesempatan itu kulewatkan dengan memilih jadi engsinyur atau sarjana. Tapi itulah jalan hidupDi saat kuliah kira-kira jalan 2/3, saya berkesempatan dapat "mainan" baru meskipun tidak baru-baru amat, soal-menyoal penjelajahan hutan, gunung, tebing atau penjelajahan lain yang di tanah air ini mau tak mau kita akui dipelopori baju hijau karena berdasar persinggunganku dengan pramuka waktu aku SD, pramuka belum mengarah ke sana. Lalu disanding dengan fantasi-fantasi wild west tentang penjelajahan benua Amerika yang perawan lewat buku-buku Karl May, yang mulai kubaca semenjak SD, maka lengkap sudah. Indian, dayak, komando, baju hijau. Ya, itu cuma sekelumit nostalgia ingatanku ke baju hijau.
Prajurit, pada suatu saat lewat film-film baik settingan hollywood maupun buatan bumi eropa suatu saat dipuja setinggi langit sebagai dewa yang lalu mengalir ke mimpi anak-anak untuk bercita-cita, atau minimal mimpiku kala itu.
Lalu pigura zaman berganti mulai 98, sepertinya mirip juga dengan film yang temtu tergantung settingan setudio hollywood atau setudio yang lain, musim telah berganti dan lalu jamak kita baca pemberitaan di koran-koran atau di media lain, soal pelanggaran HAM tentara di timor, atjeh, papua lalu maluku, lalu yang mutakhir kuingat alas tlogo pasuruan saat marinir diberitakan memburu dan menembaki penduduk secara mendatar (bukan rekoset) karena rebutan lahan.Yang jelas telah jatuh korban dari warga sipil (meski >50 sekian persen aku tidak percaya berita "perburuan" ini). Dari kasus itu kalau kembali ke analogi film sudah tidak ada pilihan peran lagi buat sedadu selain jadi bandit.
Prajurit yang tadinya adalah pahlawan yang gagah berani atau dewa dari golongan putih, opini terhadapnya seratus delapan puluh derajat berubah menjadi jin setan peri perayangan golongan hitam. Lalu media memang harus sok tahu dan selalu memihak kepada deadline yang memikat. Obyektifitas, azas perimbangan sumber berita nanti saja.
Tapi ternyata bandit, lakon, pak haji, tukang sihir jahat, cah lugu, cah goblok, bawang merah, bawang putih cuma ada di sinetron-sinetron khas Indonesia. Yang jahat, jahat terus, yang pak haji suci terus, bawang merah harus judes, bawang putih harus baik tapi bloon, hitam dan putih. Dua orang mba'e yang membantu di rumah gemar sekali nonton jenis yang ini.
Opiniku, tentara orang biasa juga, yang selalu punya segi-segi yang rumit tidak cukup segi tiga, empat atau delapan sekalipun.
Satu saat kudengar derap langkah bersama sepatu larsnya menyibak pagi dengan lantunan lagu-lagu mars yang selalu terdengar sumbang.
Satu pagi yang lain kubaca di koran mereka nongkrong di pantai Ambalat untuk pertahankan pulau itu dengan modal TB1, TB2, konserven atau ransum lain yang kueras dan rasanya sama semua itu, jauh dari keluarga mereka, di bawah naungan bivak ponco. Konsekuansi pilihan profesi memang, tapi tokh sepertinya jauh lebih mulia daripada "pak kiyai" yang menipu kawanku seorang mu'alaf kabarnya sampai 500 jt rupiah, atau daripada petugas pajak yang kong kalikong sama wajib pajak, tahu sendirilah, kos-kosan atau rumah yang diatasnamakan ibunya atau bapaknya di Jogja sebenarnya dapat untuk membangun 3-4 bangunan sekolah di desa-desa.
Satu saat yang lain entah sengaja atau tidak, entah rekoset atau tidak, peluru muntah di alas tlogo memakan korban. Termasuk seorang Chairul bocah balita yang sepertinya juga selalu mengelu-elukan tentara yang kelihatan gagah melintas di kampungnya.
Satu saat yang lain merekalah yang mewakili Indonesia mendahului negara ASEAN lain menginjakkan kaki di Puncak Everest atap dunia.
Kemudian 98, terjadi penculikan-penculikan aktivis, pelenyapan sebagian dari mereka, penembakan-penembakan terhadap demonstran, pemerkosaan masal, tentara dianggap paling bertanggung jawab. Kalo lantas ada kabar CIA di sana melakukan penggalangan-penggalangan, susah dibuktikan, karena mereka temtu tidak berseragam, apalagi pake kaos CIA.
Suatu pagi yang hiruk pikuk di bantul 1-2 jam setelah gempa besar 2006, terlihat baju hijau lalu lalang mengevakuasi warga, membuat dapur umum, membuat rumah sakit darurat, hari-hari selanjutnya verifikasi data tingkat kerusakan atau membuat tenda-tenda darurat sekolah supaya Cahyo, Tini atau Rizal bisa ujian. Atau pun mendistribusikan bantuan sembako dan lain-lain yang tahu-tahu sudah menumpuk di kesatrian mereka.
Tanpa hendak mempermasalahkan obyektif atau tidaknya berita yang ditulis di koran-koran atau diperdengarkan di TV dan radio, rakyat negriku menyaksikan peranan yang rumit yang dimainkan prajuritku.
(Ditulis mulai malam HUT TNI ke 62 tgl 5 Oktober, dianggap selesai 11 November 2007)

Read More......

Thursday, October 4, 2007

Yang tercecer dari lawatan ke sebagian kepulauan Riau





Kalau toh sempat nongkrong sejenak di Singapore pada hari itu, tanpa bermaksud mengecilkan artinya, istimewa bahwa hari berikutnya tercatat oleh sejarahku sendiri bahwa aku melakukan perjalanan ke beberapa bagian dari kepulauan riau, sebuah tekateki yang akhirnya terjawab setelah melewati lorong waktu yang cukup panjang.
Oh tanah air Indonesia, aku merasa selalu jatuh cinta dengan pulau-pulaumu, temtu juga pada kepulauan riau ini sejak pandangan pertama saat titik-titik kecil mulai terintip di jendela pesawat yang kutumpangi. Siang itu saat di Batam tertangkap berita, bahwa pesawat nomad TNI AL yang jatuh 20 tahun lalu ditemukan
tanpa disengaja oleh nelayan di sekitar pulau Mapur. Diantar oleh kawan Agung dari Batam sampai pelabuhan Punggur, yang kira2 setengah jam perjalanan, lalu kontak-kontak by phone ke kawan yang di AL Tanjung Pinang. Lalu perjalanan diteruskan ke Tanjungpinang jalur laut, sepanjang kira-kira satu jam perjalanan terhamparlah lautan yang di berbagai sisinya muncul ke permukaan, pulau-pulaumu.
Kalo ingat perjalanan hidup, saat dulu berkereta api ekonomi semasa libur kuliah via Jogjakarta, selalu terngiang dalam pikiranku "soal waktu-waktu terbaik sebagai seorang pemuda (mengutip kalimat Lord Badden Powell)" untuk menyempatkan diri menjelajahi gunung dan pegunungan yang nampak di kanan kiri lintasan kereta api, lalu mengenal masyarakatnya. Pagi hari, akan nampak pemandangan yang misty, saat kabut masih menggantung di pepohonan tepi hutan atau sawah, sesaat sebelum diusik oleh matahari yang kuat. Semisal itulah aku memandangi pulau-pulaumu, semoga Tuhan memberikan waktu buat kami mendatangi pulau-pulaumu dan mengenal masyarakatnya.
Kabin kapal yang kami tumpangi ber AC, jauh lebih nyaman dari saat kami menyeberangi selat lombok atau selat bali beberapa tahun yang silam. Pelan-pelan kapal kami mendekati pelabuhan Batu Ampar Tanjung Pinang, untuk lalu bergegas setengah jam perjalanan darat ke Posko Evakuasi TNI AL di Kawal lalu ke Pos tempat pasukan dan penyelam menginap, sekitar satu setengah kilometer dari bibir pantai ke tengah laut mendekati pulau Mapur. Sore hari kupandangi lautan yang biru, yang selalu kupercaya menghubungkan bangsa-bangsa itu. Malam itu bersama kawan-kawan dari AL kami menikmati special menu gule ikan dan gonggong, konon ini endemik di kepulauan riau saja (belakangan kuketahui bahwa di Pulau Belitung prov Babel juga banyak terdapat gonggong ini).
Ya, sedemikian kuat sihirnya, sehingga saat kutinggalkan Batu Ampar dan pulau Penyengat di kanan kapal kami seperti ada sedih di dada, tapi laki-laki harus dapat menyembunyikan perasaannya (demikian kata2 Chinggachgook ketua suku Mohawk). Sesaat sebelum kami meninggalkan Batam untuk transit ke Jakarta, masih sempat kulihat peta, masih ada tanjung balai, singkep, natuna, pulau tujuh dll.

Read More......

Monday, June 25, 2007

Melawat ke Singapura


Beberapa waktu lalu yang baru lalu saya berkesempatan melawat ke Singapura, negeri kecil atau negara pulau yang mungkin bagi sebagian kita tidaklah asing -nasi sayur lah-. Tapi bagi saya hal ini sama sekali baru. Kalo ngebayangin Singapore, selalu teringat iklan di TV "siang ini saya di singapore, sore kembali ke Jakarta," atau adegan2 di sinetron yang sangat digemari remaja putri dan ibu Indonesia itu, "Farel, kamu beli kaos oblong di Kuala lumpur ya? Kalo aku beli di Singapore." Kira-kira demikian reka-reka soal Singapore.
Pukul 8 Pagi, dalam cuaca yang teduh karena matahari belum muncul juga, saya berangkat bersama kawan yang dari Purwokerto dan Pekalongan yang sama-sama nol puthul soal negri yang ngeyelan tapi menangan itu, dengan ferry dari pelabuhan Batu Ampar, Batam.
Sepanjang jalan nampak banyak kapal dari berbagai ukuran dan warna, mengingatkan masa kecil waktu suka ngikut ayah saya yang kebetulan kerja di pelabuhan Tanjung Emas Semarang, -pelabuhan internasional yang diresmikan Soeharto pada tahun 80-an-, dimana kadang kami memancing, atau sekedar merenungkan bahwa lautan yang dihadapan kami selalu menghubungkan bangsa-bangsa dengan dunia luarnya.
Dari handphone kudengarkan lagu Pak Ebiet, Bang Iwan Fals, dan Abah Iwan yang memang kujadikan satu folder lagu indo dan dimainkan oleh program secara acak. Perjalanan yang kira-kira cuma satu jam dalam ruangan ber AC, dalam situasi yang lebih "nyaman" dan modern.
Tapi bukan berarti lantas akan menggusur ingatanku pada tahun-tahun lalu saat kami duduk2 berjejer di deck kapal ferry dalam 4 jam penyeberangan Selat Lombok dari pelabuhan Lembar, Bali ke Padang Bai, Lombok, dengan belaian langsung angin lautan dan sesekali karbonmonoksida keluaran cerobong kapal dan cuma bincang-bincang lah hiburan kami.
Lalu sekitar 2/3 dari perjalanan sebelum Harbour Front Bay, sebuah rangkaian kapal menarik perhatianku, semacam tongkang yang berbentuk segi empat yang cukup besar, dengan muatan yang tak dapat kurekam dengan kamera besar gara-gara batre drop, tapi cuma dari kamera HP 1.2 Megapixel saja. Ditarik oleh kapal yang jauh lebih kecil, setidaknya perbandingan ukuran benda yang ditarik dan yang menarik.
Ya eksport pasir, tanah atau batu2an ke negeri yang haus daratan itu jalan teruusss. Kalau mereka seorang atlet yang sedang mempersiapkan diri buat olimpiade, kita cukup setia menjadi pemasok minumannya, karena air minum di kami murah, setidaknya sampai saat ini. Karena pulau-pulau kami buanyak, jangan kawatir, 17000 pulau, hilang 1 masih 16999, malah bagus, bukankah banderol harga di Mall angka belakangnya selalu 99.
Saat mataku mengamati dan otakku mengotak-atik kejadian ini, ditelingaku mengalun sebuah lagu mars, yang terdengar keras dan kelupaan kukeluarkan dari playlist :
...panji buana- bagi nusa dan bangsa- pengawal tujuan kita- membela keadilan- siap siaga waspada- majulah maju.... majulah maju serentak, bhayangkari negara....
Sentimenku soal nasionalisme bercampur aduk kacau balau diterpa kenyataan, bahwa komitmen-aturan-idealisme kadang hanya dapat digambarkan hitam putihnya di atas meja lalu dialirkan ke jalan-jalan lewat demonstrasi atau dilempar ke publik lewat media. Sementara kenyataan hidup, baik bisnis, lalu lintas orang dan barang, trend, konsumerisme, jauh lebih lebih kompleks melampaui kanal-kanal hitam putih yang dibuat itu, dan bahkan tidak mempermasalahkan apalagi peduli soal itu.
Lima belas menit kemudian kapal kami merapat di pelabuhan Harbour Front, ada kereta gantung dan kemudian pemeriksaan paspor. Lalu biar nggak terlalu "rugi" sudah bayar fiskal kami mengeksplorasi lagi beberapa perhentian. Tak ada preman, tak ada warung kopi atau angkringan, tak ada sawah di kiri kanan jalur kereta.

Read More......

Monday, June 11, 2007

Inspirasi

Kerendahan Hati
Kalau Engkau tak sanggup menjadi beringin yang tegak diatas bukit, jadilah saja belukar, tetapi belukar yang terbaik yang tumbuh di tepi danau....
Kalau Engkau tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul di pinggiran jalan....
Kalau Engkau tak sanggup menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air....
Tidak semua orang menjadi Kapten, tentu ada awak kapalnya....
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilaidirimu....
Jadilah saja DIRIMU, sebaik-baik DIRIMU SENDIRI. (Wanadri-0041-Siwa)
Mandalawangi Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu aku datang kembali kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "
tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar 'terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966 (Soe Hok Gie)

Do'a Seorang Ayah
Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui, manakala ia lemah.
Dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri, manakala dia takut.
Manusia yang bangga dan teguh dalam kekalahan, jujur dan rendah hati kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang hasrat-hasratnya tidak menggantikan yang mati, putera yang selalu mengetahui Engkau, dan insyaf bahwa mengenal dirinya sendiri adalah dasar dari ilmu pengetahuan.
Tuhanku, aku mohon agar jangan kau bimbing dijalan yang mudah dan gampang, tetapi bimbinglah di bawah desakan kesulitan tantangan hidup.
Didiklah puteraku supaya tegak di tengah badai serta berbelas kasih terhadap mereka yang jatuh. Bentuklah puteraku supaya menjadi manusia yang berhati jernih, dengan cita-cita meninggi langit. Seorang yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Putera yang menjangkau masa depan namun tidak pernah melupakan masa lampau. Dan setelah itu menjadi miliknya, aku mohon agar puteraku juga diberi rasa humor, agar dia dapat bersungguh-sungguh tanpa menjadi terlampau serius. Berilah dia juga kerendahan hati agar dia dapat selalu ingat pada kesederhanaan sebagai sumber keagungan hakiki, kearifan dan kelembutan sebagai sumber kekuatan asli. Dengan demikian maka, aku ayahnya, akan memberanikan diri dan berbisik :"Hidupku tidak sia-sia". (Douglas Mac Arthur)

Read More......

Tuesday, May 22, 2007

Kembang tebu


Setelah pergerakan di Pangandaran tahun lalu saya ketemu seorang kawan dari UI, kebetulan beliaunya dari fakultas Sastra, yang entahlah beliau ini sudah orang Sastra yang ke berapa yang saya coba tanyain tentang sajak2 lagu Leo Kristi/ Leo Imam Sukarno. Sejak sekitar 10 tahun lalu dengerin Gulagalugu Suara Nelayan dari kasetnya Mas Gapung di Sekre Astacala, saya penasaran pengin ketemu lagi itu lagu-lagu dan belom kesampaian. Sama seperti ketika pernah dulu sekali lebih dari 12 tahun lalu ketika saya denger secara tidak lengkap sebuah lagu yang unik, sampai kira2 dua tahun lalu atau tepatnya sekitar 10 tahun sejak pertama saya denger itu lagu, barulah ngeh saya kalo itu lagu 1000 Mil Lebih Sedepa dari Abah Iwan, tapi dimana saya dapat beroleh kopi-nya? Misteri2 kecil atau penasaran kecil terbongkar dalam kurun waktu yang memakan satu dekade atau lebih. Kawan dari UI itu mengirim kopi lagu2nya Mas Leo. Lalu dalam kurun yang berdekatan tetapi lebih duluan, kami memperoleh kopi 1000 mil lebih sedepa itu dari toko kaset Bulletin di Semarang setelah kudapat informasi dari Oded yang dalam operasi kemanusiaan di Bantul hampir selalu jadi joki Gajah Merah,-Landy-nya Abah Iwan yang masyur di "padang praire"-. Pertemuan yang sangat nikmat.

Sore kemarin saya nganter mbak yang membantu pekerjaan2 di rumah buat pamitan ke orang tuannya, sama Niven, sama Kukhri. Maklum mbak itu anak bungsu, jadi memang sang ortu dengan berat hati juga mengizinkan anak bungsunya "menimba" pengalaman hidup ke pulau sebrang, ke Palembang meneruskan membantu keluarga kami, yang sebagai orang gajian (meminjam istilah Pak Kebluk) sedang menjalani perintah buat ke Sumbagsel, bagian selatan Andalas yang konon 2,5 kali pulau Jawa itu. Ya,kami tidak hendak membayangkan kerepotan2 kami bila tanpa bantuan mbak2 itu. Yang seorang lagi tidak dapat mengikuti pergerakan kami ke tanah sebrang, maklumlah sudah punya anak masih kecil. Repot dan temtu beban mental yang berat memang kalo harus bergerak "jauh".
Sore hampir asar saat kami kami bergerak menyusuri jalanan dari Yogyakarta sampai ke perkampungan di gigir utara pegunungan seribu itu. Stasiun Srowot, Wedi, belok kiri ke arah Bayat, teruuuus kira2 7km, ketemu pertigaan yang ada tugunya, belok kanan terus ke arah Gempol, Watugajah, Gedangsari, nanjak. Standard jalanan yang dibuat putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Ndedel, tanpa basa basi, alhasil tanjakan lumayan ngoyo. Aku bayangkan tanjakan dari Gedangsari ke arah desa si mbak akan berat dilalui mobil2 tua, tak terkecuali buat LandRover Seri IIA pendek yang dulu telah kujual, karena bingung ngatasin suara mesinnya yang berisik. Kalo mau disetel klep buat dihalusin, tenaga jadi loyo, kalo nggak dihalusin, suara mesin bensin-nya kayak mesin diesel. Mau turun mesin, boros. Temtu tanjakan putih ini (karena dari kejauhan cor-coran tanggul jurangnya kelihatan segaris putih) akan memaksa menggunakan gigi "ketjil" atau low, di transmisi kuda beban itu.
Tapi memang pemandangan daerah yang juga diluluhlantakkan oleh gempa 27 Mei tahun lalu itu selalu menarik perhatianku. Stasiun Srowot, Pasar Wedi, rumah tembakau, sawah yang membentang, pegunungan Seribu, perkebunan tembakau, lalu perkebunan tebu. Sepertinya mereka adalah beberapa rangkaian tradisi/proses yang masih beriringan sejak puluhan tahun lalu atau bahkan sejak ratusan tahun, setidaknya saat masa pergolakan sosial sekitar proklamasi kemerdekaan atau seputar tahun 65. Setidaknya kalo kita baca tulisan2 Soe Hok Gie atau cerita2 peristiwa tahun2 itu, logika selalu berusaha mengembara menghubungkan tulisan2 di kertas, dengan tanah-tanah yang pernah punya sejarah. Sejarah soal tragedi, atau pun soal ironi dari sebuah harapan.Sore kemarin kembang tebu bermekaran di hampir kanan kiri jalanan aspal pinggiran Klaten itu. Bagi sebagian orang kembang tebu bisa jadi pertanda sebuah harapan, bagi sebagian lagi bisa saja tak berarti apa-apa. Coba simak lirik lagu dari Mas Leo, tentang kembang tebu yang bermekaran, atau tentang padi yang telah menguning masak, tapi temtunya bukan milik para petani, tapi tak apa setidaknya petani penggarap masih bisa berharap mendapat upah, sebuah ritual yang terus dijalani, mungkin sudah puluhan atau ratusan tahun.
Kalau ke kota esok pagi, sampaikan salam rinduku, katakan padanya padi-padi telah kembang, ani ani seluas padang, roda lori berputar-putar.... tapi bukan kami punya ... Kalau ke kota esok pagi, katakan padanya tebu-tebu telah kembang, roda lori berputar siang malam,... tapi bukan kami punya.....

Read More......