Thursday, February 5, 2009

Realisasi


Akhirnya ngetik juga.
Mengingat liburan yang telah kami lewatkan kemarin, mengingat kembali soal rencana2, harapan2 dan kenyataan.
Boleh dikatakan, perencanaan perjalanan liburan kemarin lumayan "serius", seperti yg pernah kutulis sebelumnya,arti serius, ada banyak hal yang sudah kami buat rundown-nya, acara-acara apa saja, kapan waktunya dan lain sebagainya, meskipun settingan itu baru tersimpan di otak.
Liburan kali ini ombak pantai lumayan besar, laut biru seperti kaca atau agar-agar tidak sepenuhnya terjadi. Sunrise yanng ditunggu selama dua hari tergantikan oleh hujan yang selalu turun mulai dinihari atau sehabis subuh. Parasailing,-main parasut dgn ditarik motor boat-, tidak dapat dilakukan krn angin darat yang bertiup dominan, artinya bila dipaksakan terbang, tidak dapat diprediksikan akan turun di bagian sebelah mana dari lautan luas laut cina selatan atau laut natuna itu.
Lalu kemudian, pencapaian-pencapaian atas keinginan-keinginan rupa-rupanya tidak mutlak harus seperti rundown di atas. Toh, memang sejak semula tidak mutlak memposisikan diri event organizer atau biro perjalanan wisata, kalau kemudian orang tua lebih menjadi sopir, fasilitator lapangan, baywatch, atau sesekali pencerita dan pengawas main anak-anak yang sedang full energi, tentu tidak perlu disesali.
Melelahkan tapi sekaligus menggembirakan.
Setiap aktivitas liburan yang dilakukan tentu mempunyai makna tersendiri, terutama buat anak-anak yang gelas menyerap pengalaman seperti bocor saja alias tidak pernah penuh. Apapun aktivitas, naik motor boat, naik banana boat, memancing, memasak di alam terbuka, makan di alam terbuka, berenang di pantai lalu berenang di kolam, membuat goa-goaan di pasir, aku yakin akan memberikan bekal buat hidupnya next
time atau suatu saat kelak yg belum tentu dapat didefinisikan. Minimal, pikirku, setelah liburan bila anak-anak diminta gurunya buat nulis atau bercerita pengalaman selama liburan atau unforgetable experience, sudah ada bahan buat mereka.
Liburan, di dalam perspektif anak-anak tentu sangat berbeda dengan kita sebagai orang yang lebih dahulu lahir. Dia tergambar dari pernyataan yang ada menyelimuti seputar alam pikiran mereka dan keceriaan serta tanda tanya yang terpancar dari mata mereka.




Obrolan,
Kukhri : Pa, pesawatnya kok lembet (lambat), nggak kayak di Jogja, pesawatnya cepet.
Pa'e : Ini juga cepet kak, nanti lihat kalo ada awan baru kerasa kalo cepet (bener ga ya?)

Pa'e : Kak boga, tadi naik skate board-nya (speedboat penarik banana boat) enak ya Kak? Wah, hebat ya, naik skate board, pake pelampung kayak baywatch. Enak Kak?
Kukhri : Enggak.

Pa'e : Wah, kak boga hebat ya berani ketengah laut sama omnya, pake pelampung. Berani ya kak?
Kukhri : Takut ah.

Beryl : Kemarin Dik Ai (Beryl) main... main... (pikiran lebih cepat dari mulut)
Kukhri : Mau ngomong main ke pantai kan? Ah, itu terus. (Sergah Kukhri yang selalu menganggap beryl sbg orang dewasa, beryl memang sering bicara main di pente (pantai).

Niven : Pa, nanti mancingnya kalo di sini dapet ikan apa Pa?
Pa'e : di sini ada ikan kakap, ada ikan kerapu
Niven : nanti dapat ikan emberjen sama gigi anjing (waduh, ikan apa lagi ini?)


niven : 7,5 th
kukhri : 5 th
beryl : 2,5 th


Medan, 5 Feb 09, 21:44, ditengah-tengah workshop yg menjemukan
(setelah proxy server andalan diblok, akhirnya kembali ke proxy server yg banyak ngeblok situs ini itu)






Read More......

Thursday, January 1, 2009

Play The Game

Dahulu saya juga seorang anak...
Kalimat di atas dikutip dari kalimat pertama buku scouting for boys tulisan Lord Badden Powell, Bapak Pandu Dunia, yang kita baca terjemahannya di perpustakaan sekretariat Astacala beberapa tahun yang lewat.
Penulis pada bagian awal tulisan menceritakan bagaimana awal mula interaksi & ketertarikannya dengan hal-hal wilderness pada saat masih kanak-kanak dan kemudian kecintaannya kepada kegiatan-kegiatan menjelajahi daerah baru, petualangan dan kegiatan dengan media alam terbuka tersebut berkelanjutan telah menjadi "hidupnya" dan melahirkannya sebagai seorang yg kita kenal, dan selanjutnya dia berharap, di belahan dunia manapun akan tumbuh generasi-generasi baru yang menirukan jejaknya atau pun "mengubah" hidupnya. Seperti seakan-akan dia telah mengatakan,"Pilihlah jalan ini."
Sepakat dengan penulis di atas, mengajak anak-anak mengalami sendiri petualangan dalam kadar yang terukur baik diharapkan akan memberikan bekal mental yang berharga. Petualangan sebagaimana diketahui dapat memunculkan dua output ekstrim yang bertolak belakang, ketagihan dan memunculkan minat berkelanjutan atau trauma dan memunculkan penolakan mencoba kembali atau melanjutkan. Munculnya minat melanjutkan juga berarti keinginan untuk menularkan, menceritakan pengalaman yang pernah dialami dan mengajak orang lain untuk mengalami hal yang sama. Sepertinya hal ini berbeda dengan seorang senior di sebuah perguruan tinggi yang ingin "menularkan" atau membalaskan pengalaman tidak enak yang dialaminya kepada yuniornya dalam OPSPEK. Pengalaman anak-anak juga akan bermuara kepada dua kemungkinan tersebut di atas. Untuk kanak-kanak ada tiga hal penting dimana pengalaman atau sebut saja ujiannya dapat diciptakan/dikondisikan yaitu keberanian, hal baru dan orientasi lingkungan.
Liburan anak minggu ini kami rencanakan akan menjadi "games" buat anak-anak untuk melewati hari-hari dengan pengalaman seperti yang dipaparkan di atas, termasuk buat saya yang juga sedang menguji diri saya soal perencanaan, harapan dan pencapaian.
Tujuan, waktu & format liburan sudah ditentukan, maunya waktu liburan dan cuti bersama natal kemarin, apa daya hotel sdh fullbooked sehingga jadwal segera digeser seminggu setelahnya. Karena liburan ini tidak beli paket wisata, maka kami bagi-bagi tugas, istri kebagian pertiketan pesawat & pakaian, saya kebagian booking hotel, pesen mobil, perlengkapan & belanja logistik. Buat niven sebagai anak tertua juga sudah jelas, membawa joran pancing baru-nya sendiri yang dibalut kantong tripod kamera. Tujuan utama adalah pantai Parai, Pulau Bangka dan Pangkal Pinang sebagai tujuan antara sebelum ke tujuan utama & sebelum pulang. Jarak Parai PangkalPinang sekitar 45 km dengan jalur darat aspal mulus.
Disamping akan menikmati bentang alam pantai yang biru dan mengamati kaum nelayan yang melintas dengan kapal kayu dan perahu, anak-anak akan dapat mencoba permainan2 yang disediakan hotel. Permainan itu katanya seperti banana boat dan parasut yang ditarik boat,-sebut saja paraboat-, yang saya pun juga belum pernah mencobanya.
Selain permainan2 itu, saya ingin mengajak anak-anak menikmati games aplikatif berupa petualangan2 kecil lain. Untuk itu peralatan2 outdoor activity seperti tenda, alat-alat masak, alat-alat mancing dengan logistiknya juga disiapkan. Seingat saya, dari hotel arah ke pantai terus melipir ke kiri kira-kira 300m ada sebentuk hutan kecil, dengan vegetasi khas pantai seperti kelapa & ketapang. Sepertimya tempat itu cukup bagus buat mendirikan tenda dan menikmati segala aktivitas seputarnya seperti memasak, makan di alam terbuka, memancing, membuat perapian dan tentu menikmati secangkir kopi,- olahan dari biji2 kopi terbaik tanah air Indonesia-, sambil mengagumi hamparan laut biru, laut yang menghubungkan nusantara dan bangsa-bangsa di dunia disertai belaian angin laut cina selatan yang menggerakkan lidah gelombang pantai silih berganti.
Bila setting ini sukses, dan kemudian kami berkesempatan menginap di tenda semalam, maka, anak-anak telah berhasil mengatasi rasa takutnya terhadap bayangan monster yang muncul dari laut sepeti godzilla atau naga raksasa, pagi hari bila cuaca cukup bagus, maka dihadapan saya akan terlihat sebuah obyek fotografi yang indah : tenda, anak2 yang terbangun lebih pagi, asap dan unggun api, yang perlahan tertimpa sinar matahari terbit dan bibir pantai yang selalu dinamis.
Dua malam kami akan menginap di pantai Parai ini, hari minggu siang tanggal 4 Jan 09 kami harus bergerak ke Pangkal Pinang, menginap di sana, merencanakan menikmati seafood sebelum pagi harinya kami akan bergerak ke Palembang kembali, menemui dunia nyata.
Kami berharap yang akan terjadi jauh lebih indah & membahagiakan dari yang kami rencanakan, dan bagi anak-anak akan tersimpan memori dan pengalaman yang berharga, menegangkan sekaligus menyenangkan, sehingga suatu saat kelak merela juga memilih dengan yakin jalan hidup, sambil menyepakati ucapan Hercules kepada sahabatnya ,"Mengembaralah, dan ceritakanlah ke anakmu, sehingga sebagian dari dirimu akan terus hidup."





Read More......

Friday, December 19, 2008

Kinthil

Beberapa bulan yang lalu saat kami menjelajahi sebagian dari pulau Bangka, kami dipinjamin mobil oleh rekan sejawat. Kami berlima, dengan rincian dua orang jawa Semarang, dua orang Jawa Pekalongan-Tegal dan sekitarnya, satu orang Minang Bukit Tinggi.
Di mobil cuma ada satu buah kaset buat hiburan, yang setelah disetel ternyata campur sarinya didi kempot. Bagi kami sebagian besar, lagu-lagunya didi kempot ini semacam pengobat kerinduan kami yang di tanah seberang kepada kampung halaman. Bagi kawan yang dari minang, meskipun nggak ngerti benar arti liriknya, terpaksa ikut ndengerin karena tidak ada pilihan lain. Perjelanan beberapa hari itu membuat kami makin hapal beberapa kosakata spontan seperti "Serr", "blung" dlsb.
Nah, oleh seorang kawan yang sering saya panggil Pak Chairil Anwar, -karena wajah dan aksesnnya yang mirip penyair tersebut dan selalu tampil murung-, tanpa setahuku rupanya kaset itu diminta dari si empunya mobil. Cerita soal kaset berhenti sampai di situ, sampai
Senin siang kemarin hari yang kemrungsung ketika karena sesuatu hal jam 10an siang saya dan kawan-kawan bertiga termasuk penyair, terpaksa bergerak ke kayu agung OKI. Lelah, capek, ngantuk krn baru jam 3 pagi nyampe dari kuala tungkal jambi terpaksa "dilawan" dengan nrimak-nrimakke tugas sebagai orang gajian, untuk memperhalus istilah "buruh" yg masih disuruh-suruh. Di mobil waktu kumanfaatkan buat antara tidur dan tiduran. Suara musik MP3 yg lirih menyanyikan balada-baladanya Mas Ebiet. Ada kalanya aku ingin pulang, tapi apakah bedanya pertemuan dan perpisahan, sama-sama nikmat, tinggal bagaimana kita menghayati, dibelahan jiwa yang mana, kita sembunyikan, rasa yang terluka, duka yang tersayat.
Tiba-tiba kawan penyair tadi yang selama perjalanan sering memaknai lagu-lagunya Ebiet, dengan subyektifitas yg kental tentunya, mengeluarkan kaset dari ransel laptopnya, satu kaset pertama tidak begitu menarik atau tidak inline dengan suasana kemrungsung siang itu, sehingga forum menuntut lagu diganti.
Kaset berikutnya memecah suasana, melagukan campur sarinya didi kempot yang jenaka.
Mendengar lagu-lagu itu, otot pipi lalu bersedia menarik ujung samping bibir buat tersungging ke atas, membuatku senyum-senyum, sejenak menyingkap korden-korden stressor.
Kemudian lalu coba kuarti-artikan dengan arti yang kira-kira dialog didi kempot (DK) yang tidak kempot itu dengan vokalis ceweknya (C):

DK :
Terkinthil-kinthil, Cintaku terkinthil-kinthil
Tresnaku karo kowe ra bakal tak cuwil-cuwil


Kenal kosakata kinthil buat menggambarkan anak/org A yang suka ikut kemanapun orang tua/org B pergi, "Bocah kok neng ngendi-ngendi nginthil wae/ngikut aja." Kalau cinta yg terkinthil-kinthil mungkin perasaan cinta yang kemana ngikut aja, mungkin. Cintaku kepadamu tidak akan kusobek kecil-kecil,krikiti. cuwil dgn tangan, krikiti dengan gigi.

C :
Yayayaya, Opo tenan mas mana buktinya
Aku aku tak mau, Jo ojo kowe mung ngerayu


Ya, apa bener begitu Mas? mana buktinya?
Aku nggak mau ah, jangan-jangan kamu cuma merayu saja.

DK :
Suwer dik, Tresnaku ora tak ecer, Tenan mung kowe sing cemanthel
Suwer dik, Tresnaku ora tak ecer, Nek ra pethuk rasane koyo wong teler


Suwer dik, mungkin I swear, sumpah dik, cintaku tidak aku ecer, retail. Ecer/eceran sebagai lawan kata paket, grosir, atau partai besar. Jadi cinta yg tidak diecer mungkin cinta yang glondongan ke satu arah, tanpa bercabang-cabang, mungkin. Tapi kalimat tidak diecer tidak terjelaskan oleh kalimat berikutnya, yang artinya : hanya kamu yang tergantung/cemanthel. Mungkin maksudnya menggantung di pikiran.

C :
Tresno mas kuwi ono neng dodo, Ora cukup mung disawang karo moto
Ojo koyo neng lagi mangan tebu mas, Entek legine trus kowe ninggal aku


Cinta itu adanya di dada, di hati mungkin kamsudnya. Tidak cukup hanya dilihat dengan mata saja. Maksudnya mungkin cinta itu harus lahir dan bathin, dibolak-balik boleh.
Jangan seperti makan tebu, yang dicucrup-cucrup dengan nggragas, dikunyah-kunyah, lalu setelah habis manisnya, entah apa yg dimaksud manis ini, kemudian kamu meninggalkan aku. Kalau di pepatah buku bahasa indonesia SD dulu, habis manis sepah dibuang. Mungkin begitu.


Belum habis lagu itu, waktu sudah menunjukkan tengah siang, perut sudah keroncongan. Kami mampir di sebuah tempat makan yang dibawahnya ada kolam ikan, lebih tepatnya rawa yang dibersihkan sehingga air menjadi dominan. Angin siang dari rawa-rawa sekitarnya meniupkan hawa segar. Siang itu pindang ikan baung, gorengan ikan seluang, sambel buah kueni, pete dan lalapan yang lain tersedia di meja. Segelas kopi kupilih buat menimpali pedasnya pindang. Makanan yang dihidangkan memang menyegarkan dan enak, entah apakah karena kami sudah kelaparan atau memang enak. Mungkin memang enak, bila melihat pengunjung yang makan siang itu memenuhi meja & kursi tersedia. Selain kami, mereka adalah aparat Pemda/Pemkab yang bicara keras-keras kepada teman-temannya, pakaian mereka siang itu warna hijau hansip. Mobil-mobil plat merah berjajar-jajar. Kata konon, mereka adalah abdi negara & abdi masyarakat.
Makan siang yang nikmat telah selesai, segera kami beranjak dari tempat itu menemui panggilan tugas. Kuda jepang meluncur kembali ke jalanan raya dan di telinga kembali terdengar lanjutan lagu yang sempat terpenggal

Terkinthil-kinthil, Cintaku terkinthil-kinthil
Tresnaku karo kowe ra bakal tak cuwil-cuwil

Ada tawa jenaka, tapi juga ada rindu di dalam dada, rindu kampung halaman dan masyarakatnya, juga kenangan masa lalu.





Read More......

Friday, December 5, 2008

tadi pagi

dalam waktu yang begitu terasa nyerpek
karena kemalasan yang sudah biasa untuk mengawali hari-hariku
ketika jam dinding komando yang seingatku biasa mati diam
pagi ini berdetak sinkron dengan jam dinding hadiah perkawinan kita
meski ada selisih dua menit, toh sama saja karena yg satunya dicepetin lima menit
kita sempat ngobrol panjang, soal sebuah cita-cita
pagi ini aku bahagia sekali, mendengar itu semua darimu
sesekali kusampaikan pendapat2ku, yang pasti belum tentu benar
soal bagusnya seperti apa sekolah itu, bukan soal bangunannya
soal anak-anak petani dan nelayan, soal sikap sekolah, sikap gubernur dan walikota
yang tentu masih sibuk dalam hari-hari awal masa baktinya
tenang, waktu masih panjang, dan seorang kawan tidak akan lupa kawannya
masih banyak yang dapat dikerjakan, dengan kamera poket dan pena
juga fotomedia edisi anak indonesia 95, yang kita jaga biar tidak lusuh itu
sayangku, aku tahu waktumu tidak banyak dalam sehari buat itu
karena sebentar-sebentar banyak yang meminta perhatian, atau menarik-narik rambutmu, atau marah-marah karena minta dibuatin susu
tapi pagi ini aku bahagia, ada waktumu buat hal itu
bukan sesuatu yang instan, tapi cuma perlu kesabaran, dan tentu nasib baik yang selalu kita minta
waktu masih panjang, dengan izin Tuhan, banyak yang dapat kita kerjakan
sayang, misi yang seperti ini memerlukan endurance dan konsistensi
dan itu semua digerakkan juga oleh alam bawah sadar
bukankan salah satu kekuatan kita sudah diuji lebih dari 8 tahun?
waktu sudah makin mendesak saja, meski aku sudah memutuskan membolos SKJ, untuk perbincangan dan percumbuan mesra kita
tapi karena si kakak juga, hari ini tumben minta buru-buru berangkat
teh manis hangat dan dua kerat pisang goreng kunikmati tanda kasih sayangmu
aku akan sedikit ngebut mengkompensasi keasyikan kita, aku sayang kamu, waktu masih panjang, dengan izin Tuhan, banyak yang dapat kita kerjakan




Read More......

Saturday, November 15, 2008

prapatan, living on the edge

Sekolah anak ini adalah sekolah nasional, yg belum juga terpecahkan teka-teki artinya bagiku, atau masih malu nanya2 apa artinya. Apa karena bahasa pengantarnya pake bahasa inggris dan juga diajarkan Mandarin, lalu sekolah itu disebut national school? Bukankah yg tepat international school? Atau artinya sekolah negri? Tapi mengapa baju seragamnya yg putih merah hanya dipakai di hari tertentu yg cuma sehari sepertinya, berbeda dengan ingatanku saat sekolah di SD negeri pendrikan lebih dari 2dua dasawarsa yg lewat.
Bagi yang datang dari 'suburban' seperti saya, akan gumun dengan sekolah yg modern & terkesan mutachir seperti itu, asli. Guru-gurunya ramah atau minimal selalu memasang mimik yang ramah, dan kalau 17an selalu rame dengan lomba-lomba buat siswa & orang tuanya. Di sekolah itu juga disediakan jasa psikolog, terutama untuk membantu masalah perkembangan psikis anak, meski tidak menutup kemungkianan psikis orang tuanya. Di sekolah itu ada tukang parkir dan satpam yg disamping memantau mobil juga memantau para penjemput, dan mereka hapal orang-orangnya. Ruang kelas ber AC dan staff pembantu, dari satpam sampai cleaning service menggunakan pengantar bahasa inggris sesama mereka. sekali-sekali saya juga mencoba menyapa atau berkomunikasi dengan mereka memakai bahasa inggris, tapi ya jarang-jarang sekali, berhubung minim kosakata dan cuma hapal it is = itu. pendek kata, sekolah ini seperti digambarkan oleh andrea hirata dalam novelnya laskar pelangi, sebagai antagonis sekolah muhamadiyahnya,sekolah PN.
minggu lalu dengan tergesa-gesa saya mengambilkan laporan pendidikan berupa nilai siswa/rapot, berbeda dengan rapot kami waktu SD dulu di kampung pendrikan. Rapot tengah semester yang ini banyak pake bahasa inggris, dan ada keterangan tuntas atau tidak tuntas,dikaitkan dengan passing grade utk nilai2 mata pelajaran itu. Formatnya justru malah mengingatkan rapot TK dulu yg diisi kalimat2 : kemandirian, suka menangis, mengganggu teman, yg kemudian ada tanda x sana sini.
akhirnya terjebak juga aku dalam sebuah situasi yg disebut menimbang dan lalu memilih. ketika seorang anak kecil yg kadang2 tampil sebagai replikaku dihadapkan pada sebuah situasi, yang kami sebagai orang yg lebih dulu lahir dan lebih dulu ndolor menganggapnya berada pada sebuah titik warning. ketika nilai rapot mid semesternya (bukan catur wulan lagi) ada mata pelajaran yang alarm?
orang tua kita, guru-guru kita, lingkungan kita yang selalu normal & beradab mengkondisikan kita untuk mempunyai anggapan bahwa nilai rapor yang jeblok adalah tanda2 bencana buat masa depan, yang perlu disikapi dan diambil tindakan.
mencermati rapor, nilai anak itu lumayan, untuk semua mata pelajaran, selain matematika, science & english. nah, masalahnya kata orang itu yang pokok? (gambar avatar lagi mrenges).
Yang paling mencolok adalah metematika, dengan passing grade 65 dan hasil yang dia capai adalah 35, tidak tuntas. Untuk science & English masih deket2 tapi di bawah passing grade juga. beberapa kali anak ini mengikuti remedial untuk matapelajaran matematika ini. Dan kalau dicermati dengan membandingkan hasil belajarnya di rumah dan pekerjaan sekolahnya, masalah dia bukan di kemampuan otak buat berhitung, tapi lebih ke masalah konsentrasi. bila di rumah dia mudah tergoda adiknya yang sedang main buat bergabung, kalau di sekolah dia gampang terpengaruh kawan-kawannya buat buru-buru keluar kelas.
aparat sekolah menganjurkannya buat ikut les, yang kalau di sekolah ini disebut club. mengingat masalah terberatnya, dia diikutkan math club & english club. rengekannya buat megikuti sportclub, minatnya, akhirnya kami kabulkan juga. sebaliknya rengekan darinya buat memohon-mohon & mencari alasan tidak ikut math club. saya mikir & berharap, hal-hal yg diminatinya dapat mengkompensasi kemalasannya untuk 'diperadabkan' di math club. Ya, karena bagi saya waktu kecil sampai SMA, les adalah penjara, kita di dalamnya cuma menunggu & berharap jarum jam berputar cepat untuk berakhirnya. Dan Ibu saya masih sering mengulang2, kalo aku dulu lebih memilih berangkat latihan kung fu di aula basket SMA loyola daripada ikut les bahasa inggris.
siang tadi terasa kembali sulit juga untuk membujuknya mengikuti mathclub, seperti yg sudah-sudah, akhirnya kukeluarkan juga "sabda motivasi rahasia seri 1" dari sekian puluh yg tidak pernah kuhitung tetapi sering muncul di saat tepat, "kak, besok2 lagi kalau nilai semester atau midnya bisa mencapai 70 aja (lebih sedikit dari passing grade yg 65), dia boleh tidak usah les lagi" dan sepertinya dengan berat hati dia mau dan mampu merasa bisa mencapai passing grade lebih sedikit itu.
mengapa memotivasi dengan "cuma" itu rupanya kembali ke persoalan saat ini yang direfleksikan ke masa lalu. saya mencoba mengaktualkan riwayat hidup saya saat masuk & sekolah di SMP, SMA dan mendaftar PT, Akademi, Sekolah Tinggi dll yang lebih sering lulus "sangat memuaskan" dengan predikat "lolos dari lubang jarum". masuk SMP sy melewati NEM minimal dgn nilai 40,67 (lolos minimal 40,61), masuk SMA jg dgn cukup lebih 1,n. mendaftar PT pun lolos dr lubang jarum ketika waktu ujian buat masuk STTTelkom, masuk Sekbang PLP curug & Sekbang Merpati, bersamaan. dan saya lolos dalam ketiga tahap ujina tersebut. Waktu kuliah pun, sy pernah terselamatkan dari DO oleh sebuah nilai A untuk siskom yang kontras dengan sekian banyak nilai C dan satu nilai D. keyakinan saya bahwa melewati sebuah kelas atau seleksi tidak harus terus menjadi yg terbaik, asalkan tidak kena garukan, asalkan lulus, asal tidak DO, menjadi motivasi yg kuat. Dan akhir masa kuliah-pun lulus dari kampus dengan nilai IPK 2,53 sedikit lebih besar dati nilai ambang batas IPK, yaitu 2,5. hal-hal yang menyerempet-menyerampat resiko itu tanpa sadar ngin kutularkan untuk mengkompensasi ketidakminatannya terhadap sesuatu mata pelajaran. apakah benar atau salah? entahlah, toh saya tidak tahu rahasia Tuhan terhadap mahluk-mahluknya.
yang jelas tidak eksplisit kukatakan kepadanya, bahwa apapun jalan hidupnya saat dewasa kelak, dia harus sadar & aku akan menghormatinya. kelak dia akan dewasa memilih menjadi seorang yang dipandang sebagai kelas "cerdas, cerdik pandai, cendekia" yang "beradab" yang menyampaikan intelektualitasnya lewat nilai A dalam semua matakuliah atau bidang kesarjanaan, atau lewat sebuah karya tulisan apapun dengan bahasa dan deskripsi yg rumit & berselera tinggi. dia boleh juga menjadi dewasa dengan cukup "menjadi orang bodoh" dengan nilai C yg sdh dianggap anugrah, -menirukan deskripsi itu dari andrea hirata di satu halaman laskar pelanginya-, seperti pilihan atau juga kebetulan-kebetulan dari jalan hidup Bapaknya, untuk mengkompensasi segala jenis kegiatan, iseng, kenakalan, uthil, eksplorasi dan petualangan yang tidak pernah ada SKS-nya. dia boleh jadi seniman, dia boleh jadi peneliti, dia boleh jadi pengajar, dia boleh jadi wartawan, dia boleh jadi fotografer, dia boleh jadi tentara, boleh jadi pemain bola atau gerilyawan sekalipun. harapku dia harus "sukses" untuk itu, dengan (minimal) sedikit saja memegang idealisme, kejujuran, dan keberanian, untuk menempuh resiko-resiko dari petualangan menyingkap kabut misteri kehidupan & "permainan" Tuhan atas makhluk2nya, untuk dirinya, tanah air dan ilmu pengetahuan, dimana di sana ada pergulatan pikiran, cinta, roman, momen, harapan, atau penjelajahan itu sendiri.

kayu agung, 15 november 2008, ditulis di sebuah koordinat dan sebuah pagi yang pernah menjadi misteri. CO: S 03 23' 39.3" E 104 49' 53.5".



Read More......

Monday, November 10, 2008

drama sedih milik ibu


seorang ibu menangis sampai terduduk, ketika sebuah mobil caraka kurir berita angkatan darat amerika memasuki halaman luas rumah ibunda tersebut. seorang ibu, seorang wanita yang tanpa harus dibacakan isi beritanya-pun sudah cukup mengerti dan merasakan apa yang telah terjadi. ia telah kehilangan anak-anak laki-lakinya yang sangat dicintainya. sebuah berita duka tentang tiga ryan-nya dari dari empat ryan yang dimilikinya yang berangkat ke medan perang di Normandia, Prancis. tiga buah berita duka yang diterimanya dalam hari yang sama.
cerita utama perang tentu soal heroisme yang menggelora dan pertarungan ideologi yang sangat global soal hitam putih, benar salah, atau jahat baik, yang kemudian menjadi headline di koran-koran atau media. sementara detail-detail fragmen-nya adalah kedukaan seorang ibu yang begitu mendalam terhadap anak-anak yang dicintanya, yang dibesarkannya sejak kecil mulai dari ditimang-timang, membelikannya mainan, menyekolahkannya sampai kemudian sejarah merenggut anak-anaknya. kalau kemudian ryan yang ke-empat yang bertarung dalam pertaruhan hidup dan mati di seputar koordinat Neuville-au-Plain, Manche, berhasil diselamatkan sebuah regu pencari yang dipipin oleh kapten miller, dan lantas datang juga kemudian sebuah ucapan terima kasih dari presiden-nya, tidak akan menghilangkan sedihnya kehilangan tiga putra tercinta.
fragmen pertarungan ideologi yang berujung pertempuran baik skala besar maupun terbatas selalu menghadirkan kedukaan dari orang-orang yang mencintai pelaku-pelakunya. bahwasanya suatu saat ideologi yang dipercaya paling benar-pun akan menemui egoisme-nya, disamping relativitas kebenaran dari ideologi itu sendiri. dia akan membuta kepada segala sesuatu selain kepentingannya. dan hal ini rupanya akan terus terjadi sepanjang sejarah. semua pihak yang bertarung mengalaminya dan soal siapa sutradara-nya saja yang kemudian menggerakkan pena menulis skenario atau memoar. bukankah sejarah adalah milik dari para pemenang?
beberapa jam lalu baca berita, nonton TV, soal eksekusi mati 3 orang anak manusia yang meyakini secara mutlak kebenaran-kebenaran prinsip2nya yang bagi mereka sebagian diilhami oleh penindasan-penindasan yang tiada pernah menemui pembelaan, yang kemudian dipercaya sebagai sebab membenarkan & menggerakkan teror. tetapi yang lebih pasti dari soal pertentangan kebenaran itu, dibaliknya adalah soal dua orang ibunda yang kehilangan anak-anaknya. ibu hj embay badriyah kehilangan putranya abdul azis alias imam samudra dan ibu tariyem yang kehilangan mukhlas & amrozy.
dan hari itu, nyatalah sekali kasih seorang wanita yang disebut ibu itu, kasih dan cinta yang begitu lengkap, ia yang melahirkan anak-anaknya dengan rasa sakit dan taruhan nyawa, ia yang membesarkan anak-anaknya dengan kecukupan yang diada-adakan, ia yang mengurus anak-anaknya itu ketika berak di celana di waktu kecil, ia juga yang mengantarkan anaknya ke mendaftar ke sekolah ketika TK atau SD kelas satu, dan kemudian ia juga yang mengantarkan anak-anaknya itu ke kuburnya.
mereka berkumpul dengan alasan-alasan yang dapat dimengerti, dan mereka kemudian berpisah oleh sesuatu yang belum tentu dimengerti. kasih sayang yang tidak mengenal batas-batas ideologi dan tidak mengenal pertarungan 'maksud baik'.

....
One of the more famous incidents occurrred during the Civil War when President Lincoln wrote a letter to a Mrs. Bixby, who had lost several sons in the conflict. He states :

I have been shown in the files of the War Department a statement of the Adjutant General of Massachusetts, that you are the mother of five sons who have died gloriously on the field of battle.
I feel how weak and fruitless must be any words of mine which should attempt to beguile you from the grief of a loss so overwhelming. But I cannot refrain from tendering to you the consolation that may be found in the thanks of the Republic they died to save.

I pray that our Heavenly Father may assuage the anguish of your bereavement, and leave you only the cherished memory of the loved and lost, and the solemn pride that must be yours, to have laid so costly a sacrifice upon the altar of Freedom.

Yours, very sincerely and respectfully,

Abraham Lincoln




Read More......

wong pinter

perumahan tempat kami tinggal saat ini dikelilingi oleh parit yang selalu penuh oleh air, baik musim hujan maupun kemarau sebelumnya (cuma punya data referensi 1 tahun lalu). hal ini rupa-rupanya terjadi krn memang lokasi perumahan ini dulunya adalah rawa-rawa yang lalu sebagian diurug untuk memenuhi kebutuhah luas perumahan.
apa yang terpikir pertama kali saat tinggal sini mulai tahun lalu?
banyak nyamuk, jelas, dan rupa-rupanya lagi, melihat tampilan air parit dan aktivitas-nya secara snap shot, saya punya feeling tempat ini banyak ikan!
kekayaan alam yang "dahsyat' di tengah tahun 2008 ini, di sebuah kota yg tumbuh pesat (referensi berpikir tentu kota2 di jawa).
benar saja, beberapa malam sejak tinggal di sini kami sempat obrservasi "serius", dan benar saja suatu malam terpergok oleh senter kami, seekor ikan gabus dengan ukuran yg cukup besar di parit depan rumah kami.
kesimpulan sederhana penyelidikan malam itu : kawan2 & lawan2nya juga bisa jadi buanyak, dan tempat yg paling ideal buat nongkrongnya ikan-ikan ini, persis di samping rumah kontrakan kami itu. saya selalu menghubung-hubungkannya dengan ingatan ttg rumpon di laut jawa tempat dulu suharto suka memancing. ya, terminal tempat nongkrong ikan2 ini adalah sebuah ujung parit yg berakhir di tembok batas perumahan, tepatnya 2 meter dari batas perumahan.
di atasnya parit tersebut ditutup oleh beton2 cor2an semen yang disusun berjejer-jejer setiap 1 meter atau 80 cm. diantara beton satu dan beton yg lain, terdapat lubang yang cukup besar, sebesar kira2 20 cmx 15 cm, cukup besar buat memasang kail!
dan tutup-tutup beton tadi akan mengkondisikan parit di bawahnya menjadi teduh, tempat yang bagus buat berkumpulnya ikan, yang akan kami pancing. kami amati juga, bahwa di tempat itu juga adalah pertemuan dua arah parit, di sekitarnya akan menjadi rendezvous ikan-ikan. keadaan yang komplit.
hipotesa soal itu tidak perlu waktu lama buat dibuktikan.
benar saja, beberapa hari bulan-bulan awal kami di sini kami isi dengan mancing, hampir tiap hari dan juga malam. aku yang orang gajian baru dapat melakukannya malam2habis jam kantor & jam keluarga, kecuali hari sabtu atau minggu bila tidak ke luar kota.dan perolehan yang kami dapatkan dari hiburan ini juga tidak sedikit.
pernah suatu malam, dalam waktu yg tidak terlalu lama, kami dapat perolehan 9 ikan betik (betok) dan 3 ikan gabus. jumlah yg lumayan dr sebuah iseng-iseng yang gratis.
dan anak-anak saya beruntung, menemukan tempat memancing, bermain, dan mengadu untung, rekreasi & petualangan baru menyenangkan dan gratis.
anak-anak menikmati saat petualangan seru ini, saat umpan yg dipasang ditarik buruan, saat ikan yang ditarik ke atas terlepas, saat ikan meronta-ronta di ujung kail dan sensasi-sensasi lain yg mahal krn sudah susah ditemukan di kota-kota besar, di jawa sana.
anak-anak mulai tahu jenis-jenis ikan, seperti ikan betok yang mirip ksatria romawi, karena sirip insangnya terlihat bergerigi & melambangkan kekuatan alam yang liar, atau ikan gabus yang tubuhnya gilig, licin dan mirip dengan ular itumereka juga merasakan menyantap hasil buruan mereka yg telah digoreng.
oia, pernah suatu hari niven menangis tersedu-sedu, malam itu saya dapat ikan gabus besar, tapi krn susah melepas mata kailnya, akhirnya ikan tsb mati dan setelah kami bersihkan cuma kami masukkan ke kulkas, siangnya pulang sekolah niven dapat gabus yang besar juga, dia senang sekali, ikan yg masih hidup itu ditaruhnya di ember, akan dipamerkannya kepadaku, ayahnya, dengan rasa bangga tentunya.
sebuah kesalahpahaman terjadi, istriku minta si mbak buat memasak ikan yg sdh didapat semaleman, dan rupanya si mbak jg tidak tahu bhw di kulkas sdh ada jg buruan saya. dan si mbak tanpa merasa bersalah jg, mengeksekusi ikan hasil buruan niven, yg masih hidup, bukan yg di kulkas. niven sdg lengah main di tempat lain, tidak menjaganya. pulang main sore itu, dia menemui hasil 'miskomunikasi' ini, dan dia menangis sejadi-jadinya. dia sedih ikannya sdh dimasak, dia sedih hari itu tidak dapat memamerkan hasil karya atau 'kemenangannya' kepadaku. kalau inget sore itu, saya merasa bersedih, larut dlm kesedihannya niven, dengan niat baiknya.
beberapa waktu kemudian, kami telah melupakan kejadian itu, kami memulai kembali aktivitas memasang umpan jangkrik atau ulat bambu ke mata kail.
suatu hari, kesenangan itu mereda, terkalahkan oleh kelelahan-kelelahan dunia kerja yang kadang sulit dimengerti arah larinya yang lalu mengkompensasi kita dengan mengalahkan kesenangan-kesenangan kecil. pikirku, minat terhadap kesenangan tadi akan segera timbul bergelombang, padaku & anak-anakku.
suatu hari ada rapat RT yang tidak dapat kuikuti, dan memang, tidak banyak jumlah rapat RT & atau kerjabakti yg dapat kuikuti dengan load kerja yg demikian tinggi, alasanku. rapat itu tergerak karena kasus-kasus demam berdarah (DB) yang tinggi di kota ini, dan nyamuk2 yang tinggal di parit menanggung persepsi soal DB tersebut dan yg jelas tidak punya lembaga perwakilan tanya jawab hanya dapat menerima vonis tanpa perlawanan politik. penghuni-penghuni perumahan kalau aku perhatikan banyak "orang pinter" dan "penting", ada dokter, ada pegawai perkebunan atau pertanian, ada dandim, ada kapolsek, ada pak haji, ada pegawai pertamina, ada juga pegawai kantor telepon, ada juga pensiunan. latar belakang pendidikan-pun sudah tidak perlu diragukan lagi. orang-orang pinter. dan keputusan rapat malam itu adalah, untuk mencegah agar nyamuk tidak merajalela, maka "ujung" parit yang kami sebut sebagai terminal ikan tersebut harus ditimbun. diharapkan dengan menimbunnya, makan air di parit akan mengalir, sehingga nyamuk tidak dapat berbiak di sana.
Hah? tidak salahkan? logika bersama apa yang diambil? apakah orang-orang pinter di forum tidak mennyaidar bhw air yang ada di parit lebih krn dia masih menyimpan karakter rawa, bukan krn kontur yg tidak miring atau satu titik yg dianggap sebab? dan lalu harus ditimbunlah segmen sekitar 5-6 meter, yg pikirku tidak akan berdampak sedikitpun terhadap ratusan meter segmen yang lain yang memang tidak pernah mengalir? sebelum penimbunan beberapa kali kami sempat ngobrol dalam forum-forum terbatas beberapa org, mencoba mempersuasi mereka bhw yg mrk akan lakukan sia2. jujur lebih juga dipengaruhi kekawatiran hilangnya 'tempat main tempat mancing' kami yang menyenangkan itu. ingatanku melayang ketika saya SD dulu atau sebelum SD, di Semarang, dimana kami sempat memancing ikan betok di kali bima atau menawu ikan moto telu (tiga mata) di blumbang kampung belakang atau di blumbang di lokasi proyek (proyek perumahan elit), sebelum semuanya hilang, baik akibat degradasi kualitas lingkungan, atau berubah fungsi dari empang menjadi perumahan, arus kemajuan zaman.
beberapa hari kemudian pulang kerja aku dapati susunan beton penutup parit telah berubah, pelan tapi pasti segmen 6 meter terminal ikan, yang sesekali kami samakan dengan 'rumpon' seperti di berita-berita zaman suharto, ditimbun tanah urugan.
sedih dan kecewa, menyadari bahwa kebenaran umum atau keputusan bersama yang mulia, -yang notabene juga dihasilkan oleh pikiran-pikiran orang-orang pinter-, belum tentu itu kebenaran yang yg sebenarnya.
yang jelas kami kehilangan tempat bermain kami yg cuma bebrapa langkah dari pintu itu, dan nyamuk tidak pernah berkurang populasinya, dan parit tidak pernah mengalir seperti yang dibayangkan. konon memang, merasakan & menyikapi keseimbangan alam bukanlah fungsi dominan otak, rasio, atau kepintaran, tetapi dengan naluri, naluri yang terdorong oleh kecintaan, kecintaan akan alam apa adanya tempat kita bermain, berinteraksi, atau belajar dalam arti seluas-luasnya.


ditulis di malam pertama setelah balik mengungsi krn kebanjiran 2-3 hari sebelumnya.


Read More......